Sukses

Mengenal Déjà Vu Lebih Dekat

Pernahkah Anda merasa berada di situasi yang sudah pernah Anda Alami? Jika iya, mungkin Anda mengalami deja vu, Apa itu deja vu? Ini penjelasannya.

Pernahkan Anda belok ke sebuah persimpangan jalan yang belum pernah Anda lewati, namun Anda merasa tak asing seolah Anda pernah melewatinya? Apabila Anda pernah mengalami hal ini, berarti Anda pernah mengalami déjà vu.

Lalu, apabila setelah mengalami kejadian tersebut, Anda berpikir bahwa Anda mengetahui apa yang akan datang berikutnya. Bisa saja Anda mengalami firasat yang salah karena Anda menghubungkannya dengan déjà vu.

Penelitian tentang Deja Vu

Dalam arti harfiah, déjà vu atau dejavu yang berasal dari bahasa Prancis memiliki arti "pernah dilihat".

Anne Cleary, ilmuwan psikolog kognitif dari Colorado State University,  Amerika Serikat bersama rekannya Alexander Claxton melakukan penelitian yang fokus pada firasat palsu yang sering dihubungkan dengan déjà vu.

Artikel Lainnya: Bahaya di Balik Vertigo

Keduanya menyimpulkan bahwa  déjà vu bisa terjadi karena program dalam otak. Sementara, sangat sulit untuk menilai bagaimana kerja otak untuk menghasilkan kejadian déjà vu.

Untuk menilai proses kerja otak dapat dilakukan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Namun kita tidak bisa melakukan pemeriksaan tersebut karena kejadian déjà vu yang tidak pasti. Sehingga pemeriksaan tersebut akan membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Meskipun penilaian objektif secara medis belum dapat dibuktikan secara pasti, namun terdapat berbagai teori yang menyatakan bahwa terdapat kaitan antara psikologi dan neurologi atau sistem saraf untuk menimbulkan dejavu.

Manusia biasanya mengumpulkan dan menyimpan ingatan bertujuan untuk memprediksi. Ketika dihadapkan pada suatu situasi, Anda bisa mengingat kembali pengalaman atau kejadian yang mirip.

Artikel Lainnya: Demensia, Risiko yang Mengintai di Balik Polusi Udara

Tidak heran jika suatu saat, secara otomatis Anda merasa dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan menghubungkan kejadian lalu yang mirip.

Jika mengalami fenomena déjà vu seperti itu, sebenarnya otak tertipu hingga membuat Anda berpikir bahwa ingatan sebelumnya dan dapat memprediksi masa depan atau kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimanapun, kondisi ini sebetulnya hanyalah firasat palsu.

Namun, kedua ilmuwan tersebut mempertanyakan, jika memang déjà vu sebuah ilusi atau hanya perasaan saja, mengapa banyak orang percaya bahwa mereka mampu memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya?

Setelah dilakukan penelitian yang melibatkan 298 orang untuk mengeksplorasi virtual scene seperti game The Sims, partisipan diminta untuk kembali memperhatikan virtual scene yang secara acak memperlihatkan jalur ke arah kiri dan kanan.

Artikel Lainnya: Perbedaan Antara Delusi dan Halusinasi

Para peneliti menemukan bahwa ketika partisipan mengalami dejavu dan melaporkan perasaan yang kuat bahwa mereka dapat memprediksi apa yang dapat terjadi berikutnya, kejadian ini berhubungan kuat dengan fenomena postdiction.

Para partisipan ini yakin bahwa mereka telah memprediksi arah belokan di dalam adegan. Padahal, jalur yang mereka lihat pada virtual scene sebenarnya terjadi secara acak dan  partisipan tidak mungkin dapat memprediksinya.

Cleary dan para peneliti lainnya menyimpulkan, bahwa hal ini merupakan kepercayaan yang salah disebabkan oleh perasaan familiar, kita seringnya mengaitkannya dengan déjà vu atau dejavu.

Berdasarkan berbagai penelitian yang diadakan untuk memahami lebih dalam mengenai déjà vu, kondisi ini lebih sering dialami oleh dewasa muda dan frekuensi kejadiannya akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

Artikel Lainnya: 3 Tanda Tidur Anda Terganggu karena Stres

Selain itu, déjà vu lebih sering dialami oleh orang dengan kondisi sosio-ekonomi dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini juga memiliki kaitan erat dengan riwayat bepergian yang lebih sering dan lebih banyak tempat.

Angka kejadian déjà vu juga lebih tinggi ditemukan pada orang yang memiliki tekanan lebih tinggi, seperti dalam kondisi yang lelah atau stres.

Riwayat konsumsi obat juga dapat memicu terjadinya déjà vu. Pada orang yang rutin konsumsi amantadine dan phenylpropanolamine akan lebih sering mengalami déjà vu.

Artikel Lainnya: Ini Alasan Mengapa Bersepeda Bisa Menghilangkan Stres dan Buat Bahagia

1 dari 3 halaman

Penyebab Deja Vu

Dari sekian banyak orang yang mengalami déjà vu, tak hanya Cleary saja yang melakukan penelitian. Sejumlah ilmuwan dan psikolog juga melakukan penelitian yang sama pula

Beberapa peneliti punya beberapa perkiraan apa yang bisa membuat Anda mengalami déjà vu—yang sebetulnya ingatan atau firasat palsu.

1. Anda Pernah ke Suatu Tempat yang Familiar

Beberapa peneliti percaya bahwa déjà vu dipicu saat Anda masuk ke sebuah lingkungan yang mirip dengan suatu tempat yang pernah dikunjungi jauh sebelumnya.

Sebagai contoh, Anda sedang jalan-jalan ke sebuah museum, lalu tiba-tiba Anda merasa déjà vu ketika melihat furnitur terpajang.

Padahal, bisa saja sejak beberapa tahun lalu, Anda pernah melihat furnitur yang sama. Bisa juga sejak kecil, orang tua atau kakek dan nenek Anda memiliki furnitur yang nyaris mirip dengan di museum.

Dalam jurnal Psychonomic Bulletin & Review yang telah diterbitkan pada 2009, hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa déjà vu dan perasaan tak asing sangat erat kaitannya.

Artikel Lainnya: Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental

2. Terlalu Sering Berpelesiran

Menurut penelitian yang dirilis tahun 2003, orang yang sering jalan-jalan dan yang bisa mengingat kembali mimpi mereka biasanya sering mengalami déjà vu. Dibanding mereka yang sering di rumah saja dan susah mengingat mimpi.

Jadi, memang sangat memungkinkan jika orang yang hobi berpelesiran sering timbul rasa pernah melihat suatu tempat yang mereka kunjungi.

3. Masalah pada Kesehatan, Khususnya pada Otak

Beberapa orang yang mempunyai riwayat epilepsi lobus temporal (salah satu jenis epilepsi yang menyebabkan kehilangan memori jangka pendek) mengalami dejavu tepat sebelum mereka kejang-kejang.

Itulah mengapa beberapa pakar dari medical psychology di Columbia University Medical Center berpikir bahwa déjà vu dipicu oleh adanya gangguan otak. Déjà vu dapat dialami karena otak berusaha keras untuk memproses banyak potongan informasi.

Meskipun masih banyak yang melakukan penelitian mengenai déjà vu, tentunya fenomena ini tidak berbahaya. Namun jika Anda mengalami déjà vu lalu diiringi dengan kejang-kejang seperti gejala epilepsi, sebaiknya segeralah berkonsultasi dengan dokter agar cepat ditangani.

Artikel Lainnya: Sadar Sedang Bermimpi (Lucid Dream), Apa yang Terjadi pada Otak?

2 dari 3 halaman

Jenis-jenis Deja Vu

Istilah déjà vu yang sering kita dengar merupakan salah satu dari pengalaman déjà atau déjà experience. Terdapat beberapa jenis déjà experience.

  • déjà entendu : sesuatu yang pernah didengar sebelumnya
  • déjà eprouve : sesuatu yang pernah dicoba sebelumnya
  • déjà fait : sesuatu yang pernah diselesaikan atau dicapai sebelumnya
  • déjà pense : sesuatu yang pernah dipikirkan sebelumnya
  • déjà raconte : sesuatu yang pernah dikatakan sebelumnya
  • déjà senti : sesuatu yang pernah dirasakan sebelumnya
  • déjà su : sesuatu yang pernah diketahui sebelumnya (secara intelektual)
  • déjà trouve : sesuatu yang pernah ditemukan sebelumnya
  • déjà vecu (déjà vu) : sesuatu yang pernah dialami sebelumnya
  • déjà voulu : sesuatu yang pernah diinginkan sebelumnya
  • déjà arrive : sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya
  • déjà connu : sesuatu yang pernah diketahui sebelumnya(pengetahuan pribadi)
  • déjà dit : sesuatu yang pernah dikatakan sebelumnya (isi pembicaraan)
  • déjà goute : sesuatu yang pernah dirasakan sebelumnya (indera pengecap)
  • déjà lu : sesuatu yang pernah dibaca sebelumnya
  • déjà parle : sesuatu yang pernah dibicarakan sebelumnya (gayabicara)
  • déjà presenti : sesuatu yang pernah dirasakan sebelumnya (perasaan)
  • déjà rencontre : sesuatu yang pernah dijumpai sebelumnya
  • déjà reve : sesuatu yang pernah diimpikan sebelumnya
  • déjà visite : sesuatu yang pernah dikunjungi sebelumnya

Meskipun déjà vu masih belum dapat dipastikan kaitannya dengan kerja otak, namun jika memiliki gangguan saraf lain yang menyertai, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis saraf sehingga dapat dilakukan pemeriksaan keseluruhan dan diberikan terapi yang tepat bila diperlukan.

Jika Anda ingin bertanya lebih lanjut mengenai déjà vu, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dokter melalui fitur live chat 24 jam dalam aplikasi KlikDokter.

(RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar