Sukses

Mengenal Kondisi Disabilitas Intelektual

Disabilitas intelektual mungkin kurang dikenal para orang tua. Padahal, kondisi ini pertama kali muncul di masa perkembangan anak.

Klikdokter.com, Jakarta Disabilitas intelektual mungkin merupakan istilah yang asing anda dengar, walaupun mungkin sebenarnya Anda sedikit mengetahui mengenai kondisi ini. Dahulu, disabilitas intelektual dikenal juga dengan istilah retardasi mental. Jadi, apakah yang dimaksud dengan disabilitas intelektual?

Mengenal disabilitas intelektual lebih jauh

Disabilitas intelektual adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki masalah dengan fungsi intelektual dan fungsi adaptifnya. Kondisi ini dibagi lebih lanjut menjadi beberapa tingkatan, seperti ringan, sedang dan berat.

Diperkirakan, kurang lebih 1 persen dari populasi memiliki disabilitas intelektual. Dari semua orang dengan disabilitas intelektual, dipercaya sebagian besar (kurang lebih 85%) memiliki disabilitas ringan.

Fungsi intelektual seseorang berkaitan dengan kemampuan belajar, menyelesaikan masalah, nalar, pengambilan keputusan, dsb. Sering kali, fungsi intelektual dapat dinilai dengan tes IQ (intelligence quotient). Hasil tes IQ antara 70-75 dapat menjadi penunjuk adanya gangguan pada fungsi intelektual.

Fungsi adaptif seseorang berhubungan dengan kemampuannya menjalankan kehidupan sehari-hari. Terdapat tiga bidang yang dinilai pada fungsi adaptif.

Pertama, konseptual, yaitu berbahasa, membaca dan menulis, matematika, penalaran, pengetahuan, ingatan. Kedua, sosial, yaitu kemampuan komunikasi, empati, kemampuan mengikuti peraturan, kemampuan berteman. Terakhir, kemampuan praktis, yakni menjaga kebersihan diri, mengurus keuangan, dan mengorganisasi tugas.

Seseorang dikatakan memiliki kondisi disabilitas intelektual apabila ada masalah fungsi intelektual, adaptif (masalah pada dua atau lebih bidang pada fungsi adaptif), dan mulai muncul gejalanya sebelum berusia 18 tahun.

Pada orang dengan disabilitas intelektual ringan, gejala bisa jadi tidak muncul hingga masa sekolah di mana anak mulai mengalami kesulitan belajar.

Gejala disabilitas intelektual

Kapan dan apa gejala yang muncul sangat bervariasi, bergantung juga pada tingkatan dari disabilitas intelektual. Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain adalah:

  • Keterlambatan perkembangan, seperti duduk, merangkak, berjalan, dan berbicara.
  • Kesulitan menguasai kemampuan, seperti berpakaian, buang air di kamar mandi (potty training), dan makan sendiri.
  • Masalah perilaku seperti tantrum yang meledak-ledak, kolik, hiperaktivitas, serta tidur tidak teratur.
  • Masalah mengingat, menyelesaikan masalah, atau berpikir logis.
  • Tidak tertarik dengan mainan yang sesuai untuk usianya, atau main bersama teman sebaya.

Banyak hal yang dapat turut berperan terhadap munculnya kondisi disabilitas intelektual. Misalnya saja, masalah genetik pada anak (seperti sindrom down), komplikasi semasa kehamilan (ibu hamil yang minum alkohol, infeksi semasa kehamilan, kekurangan nutrisi, preeklamsia), masalah semasa persalinan (bayi prematur, kekurangan oksigen saat lahir).

Bisa juga kondisi ini dipicu oleh penyakit dan paparan zat beracun semasa anak-anak (meningitis, infeksi otak, kekurangan gizi, trauma kepala, terpapar timbal atau merkuri).

Dukung anak dengan disabilitas intelektual

Sebagai orang tua, hal apa sajakah yang dapat Anda lakukan untuk mendukung anak dengan disabilitas intelektual? Anda dapat mencari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai kondisi anak Anda, termasuk berbagai tips untuk mengatasi masalah tertentu pada anak dengan disabilitas intelektual. Usahakan untuk selalu terlibat dengan guru anak Anda dan berbagai kegiatan anak.

Walau memiliki keterbatasan, tetap dukung dan dorong anak agar dapat semandiri mungkin. Ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan berkelompok untuk melatih kemampuan sosialnya. Cari dukungan dan tips dari orang tua lain yang memiliki anak dengan kondisi yang serupa dengan anak Anda.

Sayangnya, kondisi disabilitas intelektual tidak bisa disembuhkan. Namun, dengan bimbingan yang tepat, anak dengan disabilitas intelektual dapat tetap menjalani kehidupan yang bermanfaat bagi komunitasnya. Pada beberapa kasus, anak dengan disabilitas intelektual mungkin memerlukan pendidikan khusus.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar