Sukses

Waspadai Gejala Plasenta Previa dan Faktor Risikonya

Sering mengalami kontraksi dan flek saat hamil? Waspada, jangan-jangan itu adalah salah satu gejala plasenta previa! Cari tahu selengkapnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Ada banyak masalah yang mungkin dihadapi seorang wanita di masa kehamilan mereka. Mulai dari yang ringan hingga yang cukup berat dan berpotensi mengganggu kesehatan ibu dan janin di kandungan. Dari sekian banyak gangguan kesehatan itu, plasenta previa salah satu yang tidak boleh disepelekan. Apa saja sih gejala plasenta previa yang wajib diperhatikan? 

Mengenal plasenta previa

Plasenta, atau oleh masyarakat Indonesia lebih dikenal dengan istilah ari-ari, sejatinya merupakan struktur yang mengatur aliran oksigen dan nutrisi makanan dari ibu ke bayi melalui tali pusat. Plasenta ini jugalah yang berperan dalam membuang sisa metabolisme bayi.

Normalnya, plasenta akan berkembang dan melekat pada bagian atas rahim. Bagian ini merupakan area teraman, minim risiko, dan jauh dari jalan lahir bayi. Setelah bayi telah lahir, maka sekitar 15 menit kemudian plasenta baru akan lahir.

Akan tetapi, pada kondisi tertentu, plasenta dapat tumbuh di area lain. Misalnya di bagian bawah rahim atau bahkan menutup jalan lahir bayi. Kondisi ini yang disebut plasenta previa. 

Plasenta previa dapat sangat berbahaya karena meningkatkan risiko perdarahan di masa kehamilan hingga menjelang persalinan. Dalam kondisi yang cukup berat, plasenta previa bahkan dapat mengancam nyawa ibu dan sang janin.

Seorang ibu yang mengalami plasenta previa umumnya dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan yang dapat memicu kontraksi rahim. Misalnya, berhubungan seksual, mencuci vagina, atau bahkan berolahraga.

Persalinan pada ibu hamil dengan plasenta previa umumnya dilakukan dengan metode operasi Caesar. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko perdarahan hebat akibat pembukaan jalan lahir.

1 dari 2 halaman

Faktor risiko plasenta previa

Walau dapat dialami oleh setiap ibu hamil, sebagian orang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa. Beberapa faktor risiko tersebut adalah sebagai berikut:

  • Usia ibu sudah di atas 35 tahun
  • Sudah pernah hamil sebelumnya
  • Memiliki riwayat operasi Caesar di kehamilan sebelumnya
  • Memiliki riwayat operasi pada rahim
  • Kehamilan yang dijalani adalah kehamilan kembar

Berdasarkan data, 1 dari 200 wanita hamil terdiagnosis plasenta previa pada trimester terakhir kehamilan mereka. Oleh karena itu, ibu hamil diharapkan dapat melakukan pemeriksaan USG saat memasuki trimester ini. 

Gejala plasenta previa

Adanya perdarahan pada kehamilan merupakan gejala utama yang umumnya dialami seorang ibu dengan plasenta previa. 

Selain itu, tanda yang juga dapat menjadi indikasi adanya plasenta previa adalah kontraksi yang sangat mengganggu. Kontraksi ini biasanya disertai dengan keluarnya bercak darah atau flek. Kontraksi dan flek tersebut akan memberat ketika sang ibu melakukan aktivitas fisik berlebih. 

Walau terkesan menyeramkan, sebagian kasus plasenta previa dapat berlangsung tanpa banyak mengganggu kehamilan. Kondisi ini dapat terjadi terutama apabila letak plasenta tidak total menutup jalan lahir dan terdeteksi sejak awal kehamilan.

Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan dan semakin besarnya rahim, plasenta yang awalnya terletak di bawah ini bisa bergeser ke arah atas. 

Akan tetapi, hal ini sangat berbeda halnya bila plasenta yang berkembang menutup total jalan lahir. Kondisi ini pada umumnya akan menetap hingga akhir kehamilan dan berpotensi menimbulkan berbagai keluhan.

Mendeteksi seawal mungkin adanya gejala plasenta previa merupakan kunci agar kehamilan tetap terjaga sehat hingga saat persalinan. Untuk mendeteksi kondisi ini, Anda diharapkan dapat melakukan pemeriksaan USG setidaknya satu kali saat kehamilan memasuki trimester kedua. Ibu hamil juga harus senantiasa segera memeriksakan diri bila alami kontraksi yang sangat mengganggu atau flek secara tiba-tiba.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar