Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Sindrom Apa Ini?

Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Sindrom Apa Ini?

Twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS) adalah kelainan yang bisa terjadi pada wanita yang hamil kembar. Kelainan seperti apa yang dimaksud?

Klikdokter.com, Jakarta Secara harafiah, twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS) adalah sindrom transfusi antar janin kembar. Lebih lengkapnya, TTTS adalah keadaan terjadinya proses penyaluran darah (transfusi) di dalam rahim, dari janin kembar satu ke yang lainnya, dan menimbulkan kumpulan gejala atau yang disebut sebagai sindrom. 

Kelainan ini dapat terjadi pada sekitar 10 persen kehamilan kembar, khususnya yang berbagi satu plasenta (monokorionik). Meski angka kejadiannya jarang, tetapi TTTS dapat menyebabkan kondisi medis yang serius, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Menurut data yang ada, TTTS menyebabkan 17 persen kematian pada seluruh kehamilan kembar dan kemungkinan kematian janin atau saat bayi baru lahir lebih dari 80 persen, khususnya bila tidak ditangani dengan tepat.

Plasenta pada kehamilan kembar

Sebelum mengerti sepenuhnya tentang TTTS, ada baiknya Anda memahami plasenta atau yang juga disebut sebagai ari-ari. Jaringan yang menempel pada rahim ketika hamil ini merupakan penghubung antara janin dengan ibunya. 

Aliran darah ibu yang kaya oksigen mengalir melalui plasenta yang menyambung dengan tali pusat dari janin. Kemudian, setelah oksigen digunakan oleh janin, aliran darah kembali ke plasenta untuk dilakukan pertukaran darah oleh ibu.

Pada kehamilan kembar, jenis plasenta dibagi dua, yaitu monokorionik (satu plasenta untuk bersama) dan dikorionik (masing-masing janin punya plasenta sendiri). TTTS hanya bisa terjadi pada janin yang berbagi plasenta atau monokorionik. 

Pada kondisi tersebut, pembuluh darah masing-masing janin yang terletak pada plasenta bisa menyambung, sehingga yang seharusnya aliran darah dari janin menuju ke ibu malah mengalir ke janin satunya. Janin yang menyalurkan aliran darah disebut donor, dan yang menerima disebut resipien. Proses itulah yang disebut dengan TTTS.

Dampak dari TTTS

Melihat proses di atas, dampak yang terjadi akan sangat berbeda pada tiap janin, tergantung apakah janin tersebut donor atau resipien. 

Pada janin donor, darah akan banyak mengalir keluar untuk janin resipien. Hal ini tentunya menyebabkan janin donor menjadi anemia, volume darah kurang, sehingga menyebabkan produksi urine sedikit dan kantung ketuban mengecil. Tentunya, asupan oksigen yang terkandung dalam darah berkurang, sehingga menyebabkan pertumbuhan janin terhambat.

Sedangkan pada janin resipien, karena ia menerima aliran darah secara berlebih, maka volume cairan di tubuh jadi meningkat. Hal ini dapat membebani kerja jantung. 

Selain itu, produksi urine berlebih akan menyebabkan pembesaran kantung ketuban, produksi sel darah merah terganggu, dan menyebabkan seluruh tubuh menjadi bengkak atau disebut hidrops fetalis.

Bila kondisi-kondisi di atas berlanjut tanpa penanganan, maka dapat menyebabkan kematian salah satu atau kedua janin. 

Cara mendeteksi TTTS

Untuk memastikan adanya TTTS, perlu dilakukan pemeriksaa USG oleh dokter kandungan, yaitu bila terdapat kantung ketuban yang kecil berukuran 2 cm atau kurang pada salah satu janin dan pembesaran di atas 8 cm pada janin satunya. Selain itu, ukuran janin donor dan resipien juga akan terlihat perbedaannya.

Pada wanita yang hamil kembar, biasanya akan merasakan pembesaran perut yang cepat selama 2-3 minggu. Selain itu, ketuban pecah dini dan kelahiran prematur bisa menjadi salah satu keluhan akibat TTTS.

Twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS) memang berisiko meningkatkan kematian pada janin kembar. Apalagi menurut data, risiko kematiannya lebih dari 80 persen jika penanganannya tidak mumpuni. Karenanya, ibu hamil kembar sangat dianjurkan untuk rutin periksa ke dokter kandungan agar masalah ini bisa dideteksi lebih awal. Dengan begitu, masalah yang lebih lanjut dapat diantisipasi dan bayi kembar Anda bisa lahir sehat.

(RN)

1 Komentar

  • Firzasopyan Firzasopyan

    dok saya udah hmil 35,minggu ko prut saya udah ngalamin kontraksi ,contoh ya mules melilit ama pngn puk tp ga keluar2,mp dok itu ciri2 kontraksi asli apa plsu?