Sukses

Mudah Kedinginan, Tanda Hipotiroidisme?

Cuaca atau suhu ruangan sedang tidak dingin, tetapi, kok, mudah kedinginan, ya? Jangan-jangan itu adalah tanda hipotiroidisme!

Klikdokter.com, Jakarta Kedinginan di ruangan ber-AC atau sedang berada di negara dengan musim dingin atau salju, itu wajar. Namun, jika mudah kedinginan padahal tak berada di ruangan berpendingin atau tak sedang berlibur ke negara empat musim, waspadai tanda hipotiroidisme.

Faktanya, tiroid yang terlalu aktif maupun pasif, dapat memengaruhi banyak hal. Mulai dari detak jantung, bagaimana tubuh memproses lemak dan karbohidrat, menghasilkan protein, dan mengontrol suhu tubuh.

Hipotiroidisme, kondisi kekurangan hormon tiroid

Hipotiroidisme atau hipotiroid adalah kondisi ketika kelenjar tiroid tidak cukup memproduksi hormon tiroid, yaitu hormon triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4). Kekurangan hormon tersebut dapat mengubah cara tubuh memproses lemak. Akibatnya, penderita dapat mengalami kondisi lain seperti kolesterol tinggi, arterosklerosis, dan serangan jantung.

Oleh awam, tiroid dikenal luas sebagai kelenjar gondok. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroid yang berfungsi untuk mengatur metabolisme dasar tubuh manusia. Meski hormon tersebut dikeluarkan kelenjar tiroid, regulasinya diatur oleh kelenjar yang ada di otak, yaitu kelenjar pituitari. Kelenjar inilah yang bekerja mengendalikan kelenjar tiroid.

Jika jumlah hormon tiroid kurang, muncullah kondisi yang disebut hipotiroidisme. Kondisi ini menyebabkan metabolisme tubuh yang menurun. Metabolisme yang rendah pada penderita hipotiroidisme akan menyebabkan segala proses yang terjadi dalam tubuh menjadi lambat.

Penyakit hipotiroidisme dapat menyerang semua jenis kelamin dan usia, meski ditemukan lebih banyak pada wanita berusia di atas 50 tahun. Hipotiroidisme merupakan penyakit yang bisa berlangsung lama dan belum tentu memunculkan gejala. Kalaupun gejalanya muncul, sering kali tidak disadari oleh penderitanya.

Hipotiroidisme dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya bawaan lahir, kondisi autoimun (sistem imun yang menyerang diri sendiri) terhadap kelenjar tiroid, kekurangan yodium, riwayat penyakit tiroid sebelumnya seperti kanker, konsumsi obat-obatan tertentu, dan gangguan pada kelenjar pituitari di otak.

Hubungan antara hipotiroidisme dan gampang kedinginan

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kekurangan hormon tiroid akan membuat metabolisme tubuh menjadi rendah. Hal ini menyebabkan segala proses yang terjadi dalam tubuh menjadi lambat dan menurun. Tubuh pada akhirnya tidak mampu menghasilkan panas yang cukup akibat rendahnya proses metabolisme ini.

Kondisi tersebut akan menyebabkan Anda mudah merasa kedinginan, meski lingkungan sekitar berudara hangat dan sejuk. Selain itu, mudah merasa kedinginan ini biasanya tidak disertai demam.

Selain kedinginan, gejala hipotiroidisme lain yang dapat dirasakan adalah mudah lelah, kenaikan berat badan, susah buang air besar atau konstipasi, nyeri dan kram otot, kesemutan, kulit menjadi kering, serta rambut dan juga kuku jadi rapuh.

Penderitanya juga dapat juga mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, pergerakan dan pikiran lambat, sulit konsentrasi, hingga gangguan tumbuh kembang serta pubertas pada anak dan remaja.

Jika tidak ditangani dan prosesnya sudah berlangsung lama, dapat muncul kondisi seperti leher membengkak karena pembesaran kelenjar tiroid, wajah membengkak, suara serak, denyut jantung lambat, dan juga obesitas.

Hampir mustahil untuk mencegah kondisi hipotiroidisme, apalagi jika kondisi ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Akan tetapi, apabila hipotiroidisme disebabkan oleh efek nutrisi, Anda bisa mencegahnya dengan mengonsumsi cukup makanan beryodium.

Mudah kedinginan adalah salah satu tanda hipotiroidisme yang mudah diamati. Bila Anda sering mengalami, atau disertai juga dengan gejala khas lainnya, konsultasikan keluhan tersebut kepada dokter. Hipotiroidisme yang tidak ditangani dapat menimbulkan masalah dan komplikasi serius. Sebut saja, gangguan metabolik seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, stroke, dan serangan jantung.

[HNS/RN]

0 Komentar

Belum ada komentar