Sukses

Penyebab Program Bayi Tabung Gagal

Meskipun banyak menjadi solusi bagi pasangan yang sulit punya anak, tetapi program bayi tabung bisa gagal. Apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Pasangan yang sulit punya anak menaruh harapan besar pada program bayi tabung. Namun meski sudah dibantu dengan teknologi, program ini juga tetap ada kemungkinan untuk gagal. Apa yang menyebabkannya?

Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) adalah metode pengambilan sperma dan sel telur untuk dipertemukan di luar organ wanita agar terjadi proses pembuahan. Setelah matang dan terjadi pembuahan, maka akan dimasukkan kembali ke dalam rahim wanita. Demikian dikatakan oleh dr. Grace Valentine, SpOG, dari KlikDokter.

Ia pun mengatakan bahwa program bayi tabung bukanlah jaminan 100 persen pasangan akan dianugerahi kehamilan.

“Setiap klinik bayi tabung memiliki angka kesuksesannya masing-masing, yang umumnya berkisar antara 35-55 persen, dan biasanya berkaitan dengan masalah fertilitas tiap pasangan. Misalnya masalah pada sperma, endometriosis, sindrom ovarium polikistik, usia, dan lain-lain.

Kenapa program bayi tabung bisa gagal?

Menurut dr. Arie Adrianus Polim, SpOG, dari Morula IVF Jakarta, sekitar 60-70 persen gagalnya program bayi tabung dipicu oleh kromosom yang tidak normal. 

“Sisanya, disebabkan oleh faktor seperti rahim yang tidak reseptif, rahim yang kurang tebal, aliran darahnya yang kurang baik,” katanya seperti dikutip di Kompas.com.

Ketebalan rahim atau aliran darah yang bermasalah bisa dinilai sebelum implantasi. Apabila kondisinya kurang baik, proses implan embrio ditunda dulu. 

Kondisi hormon yang terlalu tinggi kurang bagus untuk penanam embrio. Kurang optimalnya perkembangan embrio itu bisa disebabkan oleh faktor kromosom. Kromosom yang hanya diperiksa dari bentuk luarnya saja tidak bisa terlihat betul kondisi sebenarnya.

Beda halnya jika kromosom diperiksa melalui preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A). Keakuratan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari kromosom bisa sampai 90 persen. Dari pemeriksaan kromosom, dapat dipilih embrio mana yang paling bagus untuk diimplan, sehingga keberhasilan program bayi tabung bisa mencapai 70 persen. 

Kendati begitu, pemeriksaan PGT-A biasanya hanya ditujukan pada pasangan yang sebelumnya sudah pernah melakukan program bayi tabung, tapi gagal. Pada pengalaman program yang pertama, pemeriksaan tersebut tidak wajib dilakukan mengingat biayanya yang cukup mahal. 

Semakin muda usia pasangan yang menjalani program bayi tabung, maka semakin besar kemungkinannya untuk berhasil hamil. Jika memang ada keinginan untuk melakukan program tersebut, sebaiknya jangan terlalu lama menunda. Pasalnya, setelah 35 tahun, tingkat kesuburan turun sekitar 20 persen.

1 dari 2 halaman

Tips sukses program bayi tabung

Meskipun bukan jaminan pasti hamil, tetapi pasangan yang menjalani program bayi tabung tetap bisa meningkatkan angka keberhasilannya dengan melakukan hal-hal ini:

  • Pola makan sehat dan seimbang

Dikatakan oleh dr. Grace, perubahan pola makan seimbang sebaiknya dilakukan minimal tiga bulan sebelum program bayi tabung untuk meningkatkan kesuburan.

Apa pun yang dikonsumsi memengaruhi nutrisi, fungsi sel, fungsi hormon, dan tentunya kesuburan pasangan.

“Makanan yang disarankan adalah menu diet seimbang dengan kombinasi karbohidrat kompleks, protein rendah lemak (lean protein), sayur, dan buah. Selain itu, pastikan asupan vitamin D harian. Defisiensi vitamin D berkaitan dengan luaran IVF yang kurang baik,” sebut dr. Grace.

  • Hindari stres

Studi yang dipublikasikan di jurnal “Human Reproduction” tahun 2014 menunjukkan bahwa stres berkontribusi terhadap infertilitas, meskipun tidak secara langsung. 

Tidak sedikit pasangan yang drop out dari program bayi tabung akibat stres. Karenanya, pasangan harus bisa menghindari stres sebaik mungkin. Misalnya berlibur, mencari aktivitas baru, melakukan hobi, dan lain-lain.

  • Olahraga

Indeks massa tubuh (IMT) ideal berkisar antara 20-25. 

“IMT yang lebih tinggi dapat mengganggu fungsi hormonal. Olahraga merupakan salah satu cara yang baik untuk manajemen stres dan mencapai berat badan ideal,” kata dr. Grace menjelaskan.

Meski demikian, ketika menjalani proses bayi tabung hindari olahraga yang berlebihan dan gerakan olahraga yang melibatkan otot perut seperti push-up. Lakukan olahraga intensitas sedang seperti joging, bersepeda, atau senam aerobik.

  • Cukup tidur

Sebuah studi tahun 2013 menemukan bahwa mereka yang tidur 7-8 jam per hari memiliki angka kehamilan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang tidur kurang atau lebih dari angka tersebut.

  • Jauhi rokok, kafein, dan alkohol

Merokok memiliki dampak buruk pada kesehatan reproduksi. Pada pria, rokok menurunkan produksi dan kualitas sperma. Selain itu, merokok juga meningkatkan risiko keguguran. Selama menjalani proses bayi tabung, pasangan sebaiknya menghindari rokok, alkohol, dan konsumsi kafein berlebih.

  • Coba akupunktur

Akupunktur merupakan salah satu cara untuk meningkatkan angka keberhasilan proses bayi tabung. Akupunktur dapat menuntukan stres, meningkatkan fungsi ovarium, sekaligus meningkatkan darah ke organ reproduksi. Banyak ahli menyarankan untuk melakukan metode pengobatan alternatif asal Tiongkok ini tiga bulan sebelum proses bayi tabung.

Kata dr. Grace, studi menunjukkan bahwa wanita yang menjalani akupunktur sebelum dan sesudah transfer embrio memiliki angka keberhasilan mencapai 44 persen per siklus dibandingkan dengan 29 persen wanita yang tidak menjalani akupunktur. Terapi lain seperti yoga, pijat, atau hipnoterapi juga mungkin dapat membantu, terutama untuk menurunkan stres.

  • Hindari ejakulasi

Juga dari KlikDokter, dr. Sara Elise Wijono, MRes, turut menambahkan bahwa selama proses bayi tabung, akan diminta donor sperma untuk membuahi sel telur.

“Untuk memastikan donor sperma memiliki jumlah yang baik dan membantu kesuksesan bayi tabung, hindari ejakulasi 3-4 hari sebelum proses donor sperma dilakukan,” katanya.

  • Hindari bahan kimia tertentu

Beberapa bahan kimia diketahui dapat mengganggu kinerja sistem endokrin. Ini bisa berakibat terganggunya kesehatan sistem reproduksi dan perkembangan janin. Beberapa bahan kimia yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Formaldehida (dapat ditemukan dalam cat kuku)
  • Paraben, triklosan, dan benzophenone (dapat ditemukan dalam kosmetik, pelembab, dan sabun)
  • BPA (dapat ditemukan dalam kemasan makanan)
  • Brominated flame retardants (dapat ditemukan dalam furnitur, pakaian, alat elektronik, dan alas yoga)
  • Perfluorinated atau PFC (dapat ditemukan dalam alat masak anti lengket atau bahan anti noda)
  • Dioksin (dapat ditemukan pada daging, produk susu, dan kerajinan tanah liat)
  • Phtalates (dapat ditemukan pada plastik, pelapis obat, kosmetik dengan wewangian)
  • Jangan mengonsumsi sembarang obat

Sebelum memulai program bayi tabung, diskusikan semua obat-obatan yang dikonsumsi secara rutin. Perhatikan pula konsumsi obat selama menjalani program tersebut, karena dikhawatikan dapat mengganggu kerja obat yang digunakan untuk menunjang proses bayi tabung.

“Obat-obatan seperti obat alergi, asetaminofen, ibuprofen, suplemen, hingga obat resep perlu dilaporkan ke dokter Anda. Ini bertujuan agar obat-obatan yang dikonsumsi rutin tersebut tidak berinteraksi dengan obat untuk kesuksesan program bayi tabung,” dr. Sara mengingatkan.

  • Konsumsi suplemen

Ada beberapa suplemen yang bisa dikonsumsi untuk menunjang jika terjadi kehamilan setelah program bayi tabung. Suplemen pranatal bisa mulai dikonsumsi beberapa bulan hingga minimal 30 hari sebelum memulai program. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kadar asam folat agar terus terpenuhi.

Selain itu, suplemen minyak ikan juga dipercaya dapat membantu perkembangan embrio. Pastikan pula tubuh mendapatkan cukup vitamin dari makanan, suplemen, atau sinar matahari.

Meskipun program bayi tabung bisa menjadi jalan keluar bagi pasangan yang sulit untuk memiliki keturunan, tetapi tetap saja ada beberapa faktor penyebab yang bisa membuatnya gagal. Jika Anda dan pasangan ingin melakukan program bayi tabung, cobalah melakukan upaya-upaya di atas demi meningkatkan angka kesuksesannya. Selain itu, kelola stres sebaik mungkin dan tiap pasangan harus saling mendukung satu sama lain.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar