Sukses

Penyakit Pleuritis, Ini 4 Fakta yang Perlu Anda Tahu

Salah satu gangguan paru-paru yang umum terjadi adalah pleuritis. Kenali fakta-fakta seputar penyakit tersebut agar Anda lebih waspada.

Klikdokter.com, Jakarta Pleuritis adalah salah satu gangguan pada paru-paru yang sering terjadi. Tidak “sebeken” kanker atau stroke, tetapi pleuritis juga bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa. Baca terus untuk mengetahui lebih jauh berbagai fakta mengenai pleuritis.

Paru-paru adalah organ vital untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Agar dapat berfungsi dengan baik, paru dibungkus oleh selaput atau dikenal dengan pleura. 

Antara selaput pleura dengan organ paru terdapat rongga yang berisi cairan untuk membantu mengurangi gesekan saat bernapas. Cairan ini hanya berjumlah kurang dari 20 mililiter.

Nah, penyakit pleuritis adalah peradangan pada pleura. Peradangan ini dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah infeksi. Saat terjadi infeksi, penderita perlu mendapatkan penanganan yang tepat agar tidak terjadi komplikasi yang mengancam nyawa.

Fakta tentang penyakit pleuritis

Memperkaya pengetahuan mengenai penyakit pleuritis dapat membantu Anda meningkatkan kewaspadaan akan ancamannya. Fakta-fakta yang perlu diketahui meliputi:

  1. Bisa memberikan gejala nyeri dada 

Nyeri dada adalah gejala khas untuk penyakit jantung. Namun, jangan kira tidak ada penyakit lain yang dapat menyebabkan keluhan serupa. Faktanya, gejala utama yang dikeluhkan oleh penderita pleuritis adalah nyeri dada yang terasa seperti ditusuk-tusuk. Nyeri ini dapat muncul pada satu sisi atau seluruh dada, bahkan dapat menjalar ke bahu maupun pundak.

Nyeri dada ini dirasakan khususnya saat penderita menarik napas. Karena, saat menarik napas dada akan mengembang dan menyebabkan terjadinya gesekan antara paru dan rongga dada.

Selain nyeri dada, gejala lainnya yang juga bisa menyertai adalah demam, sesak napas, dan batuk.

  1. Tidak melulu disebabkan oleh infeksi

Penyebab pleuritis yang paling sering adalah infeksi oleh kuman tuberkulosis (TB). Makhluk mikroskopis ini akan menyebar dari paru ke selaput pleura dan menyebabkan peradangan.

Namun, selain infeksi oleh kuman tersebut, pleuritis juga dapat disebabkan oleh hal lainnya seperti infeksi jamur, kanker di daerah pleura, dan penyakit autoimun seperti lupus dan reumatoid artritis.

  1. Dapat menyebabkan paru terendam air

Selain dapat menyebabkan peradangan pada selaput paru, penyakit ini juga bisa meningkatkan produksi cairan pleura. Penumpukan cairan pleura dikenal dengan istilah efusi pleura.

Untuk menentukan apakah terdapat cairan pada rongga paru, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik pada dada pasien. Selain itu, pasien juga perlu mendapat pemeriksaan penunjang seperti X-ray thorax.

Pengambilan sampel cairan dapat membantu diagnosis penyebab dari efusi pleura. Pada kasus dengan jumlah cairan yang berlebih, pengambilan cairan pleura diperlukan untuk mengurangi keluhan sesak napas pada pasien.

  1. Komplikasi berujung sesak napas

Pleuritis yang tidak ditangani dengan baik akan memicu pembentukan selaput lengket di rongga pleura. Selaput ini dikenal dengan istilah fibrosis, dan akan menyebabkan paru lebih sulit mengembang. Jika kondisi ini sudah terjadi, penderita akan mengalami keluhan sesak napas terus-menerus. 

Penanganan fibrosis pada rongga pleura juga lebih rumit, karena umumnya melibatkan prosedur pleuroskopi atau penggunaan alat khusus yang dimasukkan ke dalam rongga pleura. Karena itu, untuk mencegah komplikasi ini diperlukan penanganan pleuritis yang tepat sejak awal.

Meski pleuritis merupakan gangguan pada paru yang umum terjadi, tetapi kondisi ini lebih sering dialami oleh usia 65 tahun ke atas atau baru saja menjalani tindakan operasi di daerah dada.

Pleuritis adalah penyakit infeksi berbahaya yang mesti Anda waspadai. Jika Anda mengalami gejala atau ciri kondisi yang merujuk pada penyakit ini, jangan tahan diri untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Ingat, pleuritis yang tidak ditangani sejak dini dengan baik dapat mengganggu fungsi paru secara keseluruhan dan komplikasinya dapat mengancam nyawa.

(NB/RN)

0 Komentar

Belum ada komentar