Sukses

Bahaya di Balik Proses Melahirkan yang Terlalu Lama

Tidak hanya berbahaya bagi bayi, proses melahirkan yang terlalu lama juga berpotensi mengancam keselamatan ibu. Waspadai dari sekarang!

Klikdokter.com, Jakarta Setelah menjalani kehamilan selama 9 bulan, para ibu harus siap menjalani proses persalinan. Pada tahap ini, ibu yang ingin melahirkan secara normal mesti berbaring selama berjam-jam. Tapi apa jadinya bila proses berlangsung terlalu lama?

Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, wanita yang baru pertama kali melahirkan umumnya akan menjalani persalinan lewat vagina sekitar 12–18 jam. Lalu, bagaimana dengan wanita sudah pernah melahirkan? Apakah waktu yang dibutuhkan juga sama?

Ternyata, tidak. Bagi wanita yang sudah pernah melahirkan, waktu persalinan normal yang dibutuhkan berkisar antara 6–9 jam.

“Semakin sering wanita melahirkan, waktu persalinannya akan cenderung lebih singkat,” kata dr. Andika. 

Jika proses melahirkan terlalu lama

Proses melahirkan dianggap terlalu lama apabila memakan waktu lebih dari 20 jam untuk persalinan pertama kali dan lebih dari 14 jam pada persalinan kesekian kalinya. Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya proses melahirkan yang terlalu lama, yaitu:

  • Perasaan stres, cemas, dan takut yang berlebihan
  • Kontraksi otot rahim yang terlalu lemah 
  • Jalan lahir yang terlalu sempit 
  • Posisi bayi yang tidak normal dalam rahim 
  • Ukuran bayi sangat besar sehingga sulit melewati jalan lahir
  • Kelahiran bayi kembar

Waktu melahirkan yang berlangsung lebih lama dari normal dapat membahayakan kondisi bayi yang baru saja akan ‘menatap’ dunia. Dikatakan oleh dr. Andika, keadaan tersebut akan menyebabkan terjadinya kondisi-kondisi berikut ini:

  • Bayi tak mendapat suplai oksigen yang cukup

Proses melahirkan yang terlalu lama bisa membuat bayi kekurangan oksigen. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu lama, bayi akan kesulitan bernapas, detak jantung melemah, dan badan lemas.

Selain itu, bayi juga bisa berisiko mengalami kerusakan pada organ otak, jantung, paru-paru, maupun ginjal. Hal paling buruk yang bisa terjadi, bayi bisa meninggal dunia.

  • Irama jantung bayi abnormal

Proses melahirkan yang terlalu lama memicu detak jantung bayi tidak normal dan berujung pada kondisi gawat janin.

Detak jantung bayi yang baru lahir normalnya antara 120–160 denyut per menit. Apabila detak jantung kurang dari 120 atau lebih dari 160 per menit, kondisi tersebut dianggap abnormal.

  • Terpapar mekonium 

Bayi bisa stres dan mengeluarkan tinja untuk pertama kali (mekonium) akibat proses melahirkan yang terlalu lama.

Mekonium bisa bercampur dengan cairan ketuban, terhirup oleh bayi dan masuk ke dalam paru-parunya. Ujung dari peristiwa ini adalah terjadinya gangguan pernapasan pada bayi.

  • Infeksi cairan ketuban

Semakin lama proses persalinan berlangsung, semakin tinggi risiko terjadinya infeksi di dalam rahim atau ketuban. Kondisi yang disebut dengan korioamnionitis ini terjadi saat bakteri menginfeksi kantong dan cairan ketuban yang mengelilingi janin.

Infeksi merupakan kondisi serius yang bisa membahayakan keselamatan janin dan ibu.

Penanganan proses melahirkan yang terlalu lama

Penanganan proses melahirkan yang terlalu lama sangat bergantung pada penyebabnya.  Sebagai contoh, untuk merangsang kontraksi otot rahim yang lemah, langkah untuk mengatasinya adalah dengan pemberian obat seperti oksitosin. 

Obat perangsang tersebut mampu meningkatkan daya kontraksi. Jika pemberian obat belum ampuh, dokter mungkin akan menyarankan ibu untuk melakukan operasi Caesar. Proses persalinan yang terlalu lama merupakan salah satu alasan mengapa dokter menyarankan ibu melahirkan untuk operasi Caesar.

Pada posisi bayi yang abnormal atau ukuran bayi terlalu besar, operasi Caesar menjadi jalan keluar terbaik untuk mencegah terjadinya komplikasi persalinan. Operasi tersebut umum dilakukan pada persalinan bayi kembar.

Upaya untuk mengatasi kondisi komplikasi akibat proses melahirkan yang terlalu lama sebenarnya tak cuma datang dari dokter. Ibu juga bisa membantu dengan sering mengganti posisi dan mengendalikan rasa takut yang dialaminya. Sebab, khawatir dan gugup berlebih akan mengganggu kerja hormon oksitosin yang berperan dalam proses kontraksi otot rahim. 

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar