Sukses

Pencandu Narkoba Rentan Terkena Hepatitis, Benarkah?

Selain mengalami gangguan kesehatan lainnya, pencandu narkoba juga rentan terkena hepatitis. Ini penjelasan dokter!

Klikdokter.com, Jakarta Tak ada yang menampik efek buruk kecanduan narkoba. Sebut saja halusinasi, perubahan sel saraf dalam otak, serta mengganggu sistem kerja organ secara umum. Namun, bagaimana dengan hepatitis? Apakah pencandu narkoba lebih rentan terkena hepatitis?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya Anda tahu apa itu hepatitis. Hepatitis adalah penyakit infeksi yang menyerang organ hati (liver) manusia yang disebabkan oleh virus hepatitis. Ada berbagai macam jenis hepatitis yang perlu Anda ketahui, yakni hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun, yang kerap menjangkiti masyarakat adalah hepatitis A, B, dan C.

Pemakaian narkoba tularkan hepatitis?

Lantas, apakah pemakai narkoba lebih berisiko tertular virus hepatitis? Dijelaskan dr. Alvin Nursalim, Sp.PD dari KlikDokter, hal itu tergantung pada narkoba jenis apa yang digunakan.

“Kalau pakai ganja seperti aktor Jefri Nichol yang baru-baru ditangkap, misalnya, sebenarnya tidak (terkena hepatitis). Itu karena pada umumnya kan ganja itu diisap,” ujar dia.

Salah satu cara penularan virus hepatitis itu adalah melalui darah dan jarum suntik. Oleh karena itu, narkoba yang digunakan dengan cara disuntik pasti lebih berisiko terkena hepatitis B dan C. “Kenapa? Karena penyebaran hepatitis B dan C itu salah satunya melalui darah dan jarum suntik juga,” ujar dr. Alvin.

Mengenal hepatitis B dan C

Hepatitis B dan C masing-masing disebabkan oleh virus hepatitis B dan C.  Gejala yang ditimbulkan oleh kedua penyakit ini mirip dengan gejala hepatitis A. Gejalanya antara lain nyeri perut (terutama kanan atas), mual dan muntah, tidak nafsu makan, lemas dan mudah lelah, demam, nyeri sendi, kuning pada kulit dan sklera mata, serta air seni berwarna gelap.

Menurut dr. Alberta Jesslyn Gunardi dari KlikDokter, penularan hepatitis B sendiri adalah dengan melalui darah dan cairan yang ada di dalam tubuh.  Virus ini dapat menular melalui persalinan dari ibu ke bayi, penggunaan benda-benda yang tidak steril (jarum suntik, pisau cukur, tato), dan seks bebas. 

Terkadang, hepatitis B sulit dikenali karena gejalanya tak selalu langsung muncul. Masa inkubasi virus penyebab infeksi ini berkisar antara 45-180 hari. Namun, biasanya masa inkubasi ini juga bergantung pada jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh, cara penularan, dan daya tahan tubuh penderitanya.

Dokter perlu melakukan pemeriksaan

Untuk menentukan diagnosis hepatitis B atau infeksi hati dapat dilakukan melalui serangkaian wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Selain itu, dokter biasanya juga melakukan pemeriksaan lain, seperti cek laboratorium.

Mirip dengan hepatitis B, dr. Alvin menjelaskan bahwa hepatitis C juga ditularkan melalui darah. “Sama dengan hepatitis B, hepatitis C juga ditularkan melalui darah dan jarum suntik. Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, mereka yang ingin menggunakan jarum suntik untuk narkoba biasanya dipakai bergiliran dari satu orang ke orang yang lain, karena alasan tertentu. Penyebaran hepatitis C dan B pun akan lebih cepat, ” ujar dr. Alvin. 

Kondisi di mana seseorang mengalami infeksi jangka panjang oleh virus hepatitis C disebut sebagai hepatitis C kronik. Hepatitis C kronik umumnya tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya virus menyebabkan terjadinya kerusakan pada hati yang cukup signifikan, yang menyebabkan timbulnya tanda dan gejala dari penyakit hati.

Setiap infeksi hepatitis C kronik umumnya didahului oleh fase akut. Hepatitis C akut umumnya tidak terdiagnosis karena jarang menunjukkan gejala. Namun, tanda umum penderita hepatitis C adalah kuning pada kulit dan mata, diikuti oleh rasa lelah, mual, demam, dan nyeri otot.

Dr. Alvin menjelaskan, pengobatan hepatitis C bisa dilakukan dengan berbagai metode kesehatan. Salah satunya adalah dengan pemberian obat antivirus yang bertujuan untuk menghancurkan virus penyebab penyakit. Selain pemberian obat antivirus, menghindari obat-obat terlarang juga perlu dilakukan agar terhindar dari virus hepatitis C dan B. 

Narkoba isap, seperti ganja, memang tidak meningkatkan risiko terkena hepatitis. Namun, narkoba yang disuntik seperti yang dipakai pencandu narkoba berisiko menularkan virus hepatitis. Jadi, segera jauhi narkoba jika tidak ingin penyakit hepatitis atau gangguan kesehatan lainnya menimpa Anda.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar