Sukses

Hubungan antara Masturbasi dan Depresi

Beberapa penelitian menyebut, masturbasi bisa baik untuk kesehatan fisik dan psikis. Lalu adakah hubungan antara masturbasi dan depresi?

Klikdokter.com, Jakarta Semakin ke sini, makin banyak penelitian yang membahas tentang masturbasi dan hubungannya dengan kondisi psikis. Depresi adalah salah satunya. Di Indonesia, masturbasi masih dianggap sebagian besar orang sebagai hal yang tabu. Padahal, masturbasi bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan mendatangkan kebaikan untuk kesehatan fisik maupun psikis.

Dahulu, masturbasi mungkin seringnya dianggap dapat menyebabkan masalah gangguan mental. Namun, anggapan tersebut sudah dipatahkan oleh banyak peneliti.

Masturbasi tidak menyebabkan depresi

Setelah dikaji lebih dalam, masturbasi terbukti tidak menyebabkan depresi. Masturbasi adalah aktivitas alamiah yang menimbulkan rasa gembira, yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan membantu seseorang menjelajahi seksualitasnya lebih dalam. Memang ada saja sebagian individu yang merasa bersalah dan cemas sebelum dan setelah masturbasi. Bahkan, banyak negara yang menganggap aktivitas ini tabu.

Pada tahun 1900-an, banyak ahli medis meninjau riset lebih dalam akan psikologi dan seks, dan menyatakan dengan jelas bahwa masturbasi adalah hal yang sifatnya hampir universal. Dinyatakan “hampir” karena beberapa budaya dan agama melarangnya.

Meskipun masturbasi tidak menyebabkan depresi, tetapi pandangan seseorang akan agama, budaya, maupun hubungan sosial bisa mengakibatkan seseorang merasa bersalah melakukannya.

Menurut suatu studi pada tahun 2018 yang dimuat dalam jurnal “Indian Journal of Psychiatry”, sebanyak 62.5 persen sukarelawan pria dengan depresi mengalami beberapa disfungsi seksual.

Mitos mengenai masturbasi adalah yang sering melekat dan dipercaya oleh partisipan pria pada studi yang mengidap depresi. Selanjutnya juga dikatakan bahwa masturbasi tidak akan berdampak pada seseorang yang memiliki kemungkinan untuk mengalami depresi. Ditemukan bahwa depresi dapat menurunkan gairah seks, minatnya akan masturbasi pun ikut turun.

1 dari 2 halaman

Bagaimana depresi dapat memengaruhi libido?

Depresi dapat memicu penurunan ketertarikan seseorang terhadap aktivitas yang biasa mereka senangi, salah satunya adalah seks. Wajar apabila seseorang yang sedang depresi kurang atau tak punya lagi minat akan seks.

Jika salah satu dari pasangan atau keduanya mengalami penurunan gairah seks akibat depresi, perlu mendiskusikan masalah tersebut. Masih ada berbagai cara lain untuk mempertahankan keintiman pasangan, seperti berpelukan atau memberikan pijatan. Selain itu, masturbasi juga dapat membantu seseorang merasa seksi kembali, meski ini bersifat subjektif.

Depresi bukanlah hal menyenangkan baik bagi mereka yang mengalaminya maupun orang-orang di sekitarnya. Jika depresi telanjur parah, pertimbangkan untuk mencari bantuan medis. Kombinasi obat dan terapi bisa mengatasinya. Optimalkan juga dengan olahraga rutin, cukup tidur, pola makan sehat dan seimbang, mengurangi konsumsi alkohol, meditasi, melakukan hal-hal yang disukai, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih.

Manfaat masturbasi

Bagi sebagian kalangan masturbasi masih dianggap sebagai aktivitas yang bisa merusak kesehatan dan mental. Namun dari sisi medis, masturbasi selama dilakukan tidak berlebihan bisa berguna.

Berikut ini adalah beberapa keuntungan yang telah terbukti bisa didapat dari masturbasi:

  • Memperbaiki kualitas tidur.
  • Membuat Anda lebih mudah mencapai orgasme.
  • Meningkatkan gairah seks atau libido.
  • Meningkatkan kepercayaan diri.
  • Menurunkan risiko kanker prostat.
  • Memperbaiki suasana hati.
  • Mewarnai dan memperbaiki kehidupan seks dengan pasangan.
  • Mengurangi nyeri saat haid.

Paparan di atas menunjukkan adanya hubungan antara depresi dan masturbasi dan bagaimana dunia medis memandangnya. Sebagian orang menganggap masturbasi sebagai kelainan, atau ketidakmampuan untuk mengendalikan hasrat seksual. Namun nyatanya, masturbasi itu wajar bagi pria maupun wanita.  Yang jadi masalah adalah ketika masturbasi dilakukan terlalu sering. Jika itu yang terjadi, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar