Sukses

Awas, Diabetes Gestasional dan Diabetes Pregestasional Saat Hamil

Diabetes gestasional dan diabetes pregestasional merupakan jenis diabetes yang bisa terjadi pada ibu hamil. Bagaimana efeknya pada ibu hamil?

Klikdokter.com, Jakarta Diabetes bisa menjadi salah satu komplikasi yang terjadi pada kehamilan. Dua jenis diabetes yang perlu diwaspadai adalah diabetes gestasional dan diabetes pregestasional. Bila terjadi pada ibu hamil, kondisi ini harus segera ditangani dengan serius karena dapat mengganggu kehamilan dan persalinan.

Hal yang lebih parah bahkan bisa terjadi setelah persalinan berlangsung. Bayi bisa mengalami komplikasi akibat diabetes yang dialami ibu. Oleh sebab itu, mari kenali lebih jauh seputar kedua jenis diabetes tersebut.

Diabetes gestasional

Hormon-hormon selama kehamilan menyebabkan tubuh harus memproduksi lebih banyak insulin agar kadar gula darah bisa terkontrol dalam batas yang normal. Pada sebagian ibu hamil, tubuh mungkin saja tidak mampu menghasilkan insulin dengan cukup. Hal inilah yang menyebabkan diabetes gestasional.

Jenis diabetes ini akan menghilang segera setelah ibu melahirkan. Pada umumnya dalam waktu 12 minggu setelah melahirkan, gula darah akan kembali normal.

Namun demikian, ibu yang mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari, dibandingkan ibu yang tidak mengalami diabetes gestasional saat hamil.

Pada umumnya, skrining diabetes gestasional dilakukan pada usia kehamilan 24 minggu. Skrining biasanya dilakukan dengan pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO).

Pemeriksaan ini dimulai dengan pemeriksaan gula darah. Ibu hamil akan diminta untuk mengonsumsi gula dengan dosis tertentu, lalu gula darah diperiksa lagi 1-2 jam kemudian.

Diabetes pregestasional

Pada dasarnya, diabetes pregestasional merupakan diabetes yang sudah mulai terjadi sebelum hamil. Dilihat dari jenisnya, diabetes pregestasional yang paling banyak terjadi adalah diabetes melitus tipe 2.

Jenis diabetes ini terjadi sejak sebelum hamil dan terus berlangsung seumur hidup, termasuk saat sedang hamil dan sesudah bersalin. Kondisinya pun sudah dapat diketahui sejak sebelum hamil.

Namun pada kenyataannya, banyak wanita yang tak rutin memeriksakan kadar gula darahnya, sehingga tak mengetahui dirinya mengalami diabetes sampai kemudian hamil. Oleh karena itu, tak jarang, diabetes pregestasional baru diketahui saat skrining diabetes dalam kehamilan.

Diabetes gestasional dan diabetes pregestasional dapat dibedakan dari hasil pemeriksan gula darahnya. Penderita diabetes pregestasional memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi dibandingkan diabetes gestasional.

Bahaya diabetes dalam kehamilan

Ibu hamil yang mengalami diabetes akan meneruskan lebih banyak gula kepada janinnya melalui plasenta. Karena janin mendapatkan lebih banyak gula, janin lebih rentan berukuran lebih besar dibandingkan seharusnya.

Hal ini dapat menyebabkan persalinan menjadi lebih sulit dilakukan sehingga meningkatkan kemungkinan ibu harus dilakukan operasi caesar. Selain itu sangat rentan terjadi perdarahan setelah persalinan, dan robekan besar di vagina atau anus saat proses persalinan.

Di samping itu, saat hamil, ibu yang mengalami diabetes juga lebih rentan mengalami hipertensi dan keracunan dalam kehamilan (preeklampsia). Kedua komplikasi tersebut meningkatkan risiko bayi lahir prematur.

Lebih lanjut, diabetes juga dapat menyebabkan bayi rentan mengalami kadar gula darah rendah (hipoglikemia) sesaat setelah lahir. Selain itu, bayi juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kuning serta  gangguan pernapasan.

Meski dapat membahayakan ibu dan bayi, jika diabetes dalam kehamilan ditangani dengan baik dan tepat, komplikasi bagi ibu dan bayi bisa dicegah. Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan antenatal rutin, sehingga diabetes gestasional dan diabetes pregestasional bisa dideteksi sedini mungkin.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar