Masalah Metabolik

Diabetes Melitus Tipe 2

dr. Marsita Ayu Lestari, 20 Mar 2024

Ditinjau Oleh

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit metabolik yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Kondisi ini ditandai dengan sering buang air kecil, mudah haus dan lapar, serta penurunan berat badan.

Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes Melitus Tipe 2 (Kencing Manis)

Dokter Spesialis

Dokter Umum; Dokter spesialis terkait: Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes

Gejala

Rasa lapar berlebihan, sering berkemih, rasa haus berlebihan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, lemas, kesemutan, gatal, penglihatan kabur, disfungsi ereksi pada pria, gatal di kemaluan pada wanita, luka yang sulit sembuh

Faktor Risiko

Usia di atas 45 tahun; ras tertentu (penduduk asli Amerika, Afrika Amerika, Hispanik, Asia Amerika, atau pulau Pasifik); berat badan berlebih; riwayat diabetes melitus dalam keluarga; riwayat prediabetes; riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir ≥ 4000 gram; perempuan dengan riwayat diabetes melitus gestasional atau PCOS; kadar kolesterol darah HDL < 35 mg/dL atau trigliserida > 250 mg/dL; hipertensi; kondisi yang berhubungan dengan resistensi insulin (acanthosis nigricans), aktivitas fisik yang kurang, merokok

Cara Diagnosis

Wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang

Pengobatan

Pengaturan makan/diet, latihan fisik, obat antihiperglikemia

Obat

Obat antihiperglikemia

Komplikasi

Retinopati diabetik, nefropati diabetik, neuropati diabetik, penyakit arteri perifer, hipoglikemia, ketoasidosis diabetik, ulkus atau gangren kaki diabetik, hyperosmolar hyperglycemic state

Kapan harus ke dokter?

Terdapat gejala dan tanda diabetes melitus tipe 2

Pengertian Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes melitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia). Kondisi ini terjadi akibat tubuh tidak memproduksi cukup insulin atau resistensi insulin.

Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengatur metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.

DM tipe 2 juga sering disebut diabetes tipe 2 atau kencing manis. Ciri-ciri diabetes tipe 2 biasanya ditandai dengan sering buang air kecil, mudah merasa haus dan lapar, serta penurunan berat badan.

Disamping diabetes melitus tipe 2, juga terdapat diabetes melitus tipe 1 yang merupakan jenis dari diabetes melitus. Perbedaan diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 dilihat dari fungsi pankreas dalam menghasilkan insulin. Pada DM tipe 1, terjadi kerusakan sel pankreas sehingga tubuh tidak mampu menghasilkan insulin.

Sementara pada DM tipe 2, sel pankreas mampu menghasilkan insulin, namun sel tubuh mengabaikan sinyal insulin (resistensi insulin). Lama-kelamaan pankreas gagal memproduksi insulin. 

Kadar glukosa (gula) darah tinggi yang berlangsung lama berisiko menimbulkan kebutaan, gagal ginjal, dan amputasi kaki. Kondisi ini merupakan komplikasi berbahaya diabetes melitus tipe 2.

Kita sering mendengar tentang diabetes kering dan diabetes basah. Di bidang kesehatan, istilah tersebut tidak digunakan. Pada umumnya, jenis diabetes melitus adalah diabetes melitus tipe 1, tipe 2, dan gestasional.

Namun, orang awam menggunakan istilah diabetes kering dan diabetes basah untuk menggambarkan kondisi luka yang dialami pengidap diabetes. 

Untuk luka diabetes yang sulit sembuh dianggap sebagai diabetes basah. Sementara, pada luka diabetes yang sulit sembuh sempurna tapi tidak bernanah dianggap sebagai diabetes kering.

Artikel lainnya: 10 Ciri Gula Darah Tinggi yang Harus Diwaspadai

Penyebab Diabetes Melitus Tipe 2

Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel beta kelenjar pankreas dan memiliki banyak fungsi penting bagi tubuh. Adapun salah satu fungsi hormon insulin bagi tubuh adalah mempertahankan agar kadar gula (glukosa) darah normal, dengan cara berikut:

  • Membantu sel otot, hati, dan lemak untuk menyerap glukosa di peredaran darah.
  • Merangsang sel hati dan otot untuk menyimpan kelebihan glukosa.

Glukosa adalah hasil penguraian dari karbohidrat, lemak, dan protein yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh.

Pada DM tipe 2, proses tersebut tidak berjalan dengan normal. Karena, sel tubuh mengabaikan sinyal insulin (resistensi insulin) sehingga glukosa yang semestinya diserap oleh sel, menjadi menumpuk di darah.

Lama-kelamaan fungsi pankreas terganggu dalam memproduksi insulin. Keadaan ini menyebabkan hiperglikemia (kadar gula darah meningkat).

Berikut beberapa kondisi yang menjadi penyebab DM tipe 2:

  • Fungsi pankreas untuk menghasilkan insulin sudah sangat berkurang
  • Peningkatan kadar glukagon, yakni hormon yang dihasilkan pankreas untuk menjaga kestabilan gula darah.
  • Pemecahan lemak yang meningkat (lipolisis) di jaringan lemak
  • Pengangkutan glukosa ke sel otot terganggu
  • Produksi glukosa oleh hati meningkat
  • Resistensi insulin di otak meningkat
  • Perubahan komposisi mikrobiota usus. Mikrobiota merupakan mikroorganisme (bakteri, jamur, virus) yang berfungsi menguraikan makanan dan merangsang respons kekebalan tubuh.
  • Kekurangan inkretin di saluran cerna. Inkretin adalah hormon yang dihasilkan di usus ketika makanan masuk dan berfungsi membantu kontrol gula darah
  • Penyerapan glukosa yang meningkat di ginjal
  • Percepatan pengosongan lambung dan peningkatan penyerapan glukosa di usus halus
  • Kelainan sistem kekebalan tubuh yang berkaitan dengan proses peradangan

Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2

Berikut berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2:

  • Usia di atas 45 tahun.
  • Ras tertentu, seperti penduduk asli Amerika, Afrika Amerika, Hispanik, Asia Amerika, dan pulau Pasifik.
  • Berat badan berlebih (indeks massa tubuh ≥ 23 kg/m²) atau obesitas.
  • Riwayat diabetes melitus dalam keluarga (first degree relative with diabetes mellitus).
  • Riwayat prediabetes (kondisi ketika kadar gula darah melebihi batas normal, namun belum bisa dikategorikan pada diabetes melitus)
  • Riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir ≥ 4000 gram
  • Perempuan dengan polycystic ovary syndrome (kondisi yang ditandai dengan kadar androgen meningkat, kista kecil di indung telur, dan siklus menstruasi tidak teratur)
  • Kadar kolesterol darah HDL < 35 mg/dL atau trigliserida > 250 mg/dL
  • Menderita hipertensi (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau sedang dalam pengobatan hipertensi)
  • Perempuan dengan riwayat diabetes melitus gestasional (peningkatan kadar gula darah semasa kehamilan)
  • Kondisi yang berhubungan dengan resistensi insulin, seperti acanthosis nigricans (kondisi yang ditandai dengan bagian kulit yang terlihat lebih tebal dan lebih hitam dari kulit di sekitarnya)
  • Aktivitas fisik yang kurang (sedentary lifestyle)
  • Memiliki kebiasaan merokok

Gejala Diabetes Melitus Tipe 2

Gejala khas diabetes melitus tipe 2 meliputi:

  • Polifagia (rasa lapar berlebihan)
  • Poliuria (sering berkemih)
  • Polidipsi (rasa haus berlebihan)
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Gejala lain yang dapat dirasakan oleh tubuh ketika kadar gula darah tinggi atau DM tipe 2, yaitu:

  • Lemas
  • Kesemutan
  • Gatal
  • Penglihatan kabur
  • Disfungsi ereksi pada pria
  • Pruritus vulva (gatal di kemaluan) pada wanita
  • Luka yang sulit sembuh

Artikel lainnya: Ini Dia Daftar Buah yang Aman untuk Pengidap Diabetes

Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2

Dokter akan menentukan diagnosis diabetes melitus tipe 2 melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dokter akan menanyakan keluhan, riwayat penyakit penderita dan keluarga, riwayat pengobatan, pola makan, riwayat seksual, dan faktor risiko lainnya.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, seperti:

  • Pengukuran tanda-tanda vital
  • Pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar pinggang
  • Pemeriksaan anggota gerak tubuh
  • Pemeriksaan mata melalui funduskopi
  • Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid
  • Pemeriksaan jantung
  • Pemeriksaan kulit (acanthosis nigricans, bekas garukan atau luka, kulit kering)
  • Pemeriksaan persarafan untuk menguji sensibilitas atau fungsi sensorik (monofilament test)
  • Pemeriksaan ankle brachial index (ABI) untuk mencari kemungkinan penyakit arteri perifer
  • Pemeriksaan untuk mengidentifikasi tanda-tanda penyakit lain yang berisiko menimbulkan DM tipe 2

Berikut pemeriksaan penunjang yang dipertimbangkan oleh dokter untuk menentukan diagnosis DM tipe 2:

1. Pemeriksaan Glukosa Darah 

Tes gula darah sewaktu, puasa, dan dua jam sesudah makan akan direkomendasikan oleh dokter dengan mempertimbangkan kondisi penderita. Berikut interpretasi kadar gula darah yang dicurigai mengidap diabetes tipe 2:

  • Bila kadar gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dL.
  • Bila kadar gula darah puasa ≥ 126 mg/dL. Sebelum pemeriksaan, penderita diminta berpuasa setidaknya 8 jam.
  • Bila kadar gula darah 2 jam sesudah makan atau 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral dengan beban 75 gram ≥ 200 mg/dL.

Seseorang dikatakan mengidap diabetes tipe 2, bila mengalami salah satu dari kondisi di atas.

2. Pemeriksaan Hemoglobin Terglikasi (HbA1C)

Tes HbA1C memberikan informasi tentang kadar gula darah rata-rata selama 2 sampai 3 bulan terakhir. Seseorang dikatakan mengidap diabetes tipe 2, bila hasil HbA1C ≥ 6,5%.

3. Pemeriksaan Penapisan Komplikasi

Selain untuk menentukan diagnosis diabetes tipe 2, pemeriksaan penunjang juga dipertimbangkan untuk mengetahui komplikasi dari penyakit ini.

Berikut pemeriksaan penunjang yang dipertimbangkan:

  • Pemeriksaan kadar lemak darah (kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida) pada keadaan puasa
  • Tes fungsi hati (SGOT, SGPT)
  • Tes fungsi ginjal (ureum, kreatinin)
  • Pemeriksaan urine rutin
  • Elektrokardiogram (EKG)
  • Rontgen dada

Pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2

Cara mengatasi diabetes tipe 2 adalah berobat ke dokter. Secara umum, pengobatan bertujuan meningkatkan kualitas hidup penderita. Biasanya melibatkan kolaborasi antar multidisiplin kedokteran tergantung kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan.

Misalnya, dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, spesialis gizi klinik, dan spesialis terkait lainnya.

Kamu juga bisa melakukan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam secara online lewat fitur Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter.

Berikut cara pengobatan DM tipe 2 yang umumnya dilakukan:

1. Pengaturan Makan atau Diet

Prinsip pengaturan makan pada pasien DM adalah makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi individu.

Keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori dianjurkan terutama pada penderita DM yang menggunakan obat diabetes yang meningkatkan produksi insulin atau terapi insulin.

Beberapa perilaku yang perlu diperhatikan pada pengaturan diet:

  • Membatasi gula dan makanan yang mengandung gula murni, contohnya seperti ice cream, gula merah, sirup, puding manis, manisan buah, hingga susu kental manis.
  • Tidak mengonsumsi atau mengurangi pantangan makanan diabetes tipe 2 seperti makanan yang terbuat dari tepung-tepungan dan tinggi lemak. Contohnya adalah goreng-gorengan dan mie instan. 

2. Latihan Fisik

Latihan fisik merupakan kegiatan aktifitas fisik yang terstruktur dan terencana baik yang bertujuan meningkatkan kesehatan fisik. Keuntungan latihan fisik bagi penderita diabetes antara lain:

  • Mengendalikan kadar gula darah
  • Menambah kebugaran
  • Menurunkan berat badan
  • Menurunkan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Memperbaiki sensitivitas insulin (kepekaan sel tubuh dalam merespons insulin)

Program latihan fisik yang aman memerlukan instruksi spesifik dari dokter dalam hal durasi, frekuensi, dan intensitas. Latihan fisik akan disesuaikan dengan usia dan kesegaran fisik.

Secara umum, latihan fisik yang dianjurkan meliputi:

  • Bersifat aerobik dengan intensitas sedang (50-70% denyut jantung maksimal. Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi 220 dengan usia). Contoh latihan aerobik yang direkomendasikan untuk pengidap diabetes adalah jogging, bersepeda santai, jalan cepat, dan berenang.
  • Melakukan secara teratur 3 hingga 5 hari seminggu, selama 30 sampai 45 menit tiap latihan fisik.

3. Terapi Obat

Meski diabetes melitus tipe 2 tidak bisa sembuh total, kondisi ini dapat diobati dan dikontrol oleh obat bersama pengaturan makan dan latihan fisik.

Terapi obat diabetes yang dikenal sebagai obat antihiperglikemia dapat diberikan dalam bentuk obat minum atau suntikan. Waktu dan aturan mengonsumsi obat, serta kemungkinan efek samping bisa berbeda pada masing-masing penderita.

Berikut beberapa jenis obat antihiperglikemia yang diresepkan oleh dokter untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2:

  • Biguanide (metformin, metformin XR), obat minum untuk meningkatkan sensitivitas insulin
  • Penghambat dipeptidyl peptidase 4 (DPP-4), seperti sitagliptin, vildagliptin, saxagliptin, dan linagliptin, obat minum untuk meningkatkan sekresi insulin dan menghambat sekresi glukagon.
  • Thiazolidinedione (pioglitazone), obat minum untuk meningkatkan sensitivitas insulin
  • Sulfonilurea (glibenclamide, glipizide, gliclazide, glimepiride), obat minum untuk meningkatkan sekresi insulin.
  • Glinid (repaglinide, nateglinide), obat minum untuk meningkatkan sekresi insulin.
  • Penghambat alfa-glukosidase (acarbose), obat minum yang menghambat penyerapan glukosa.
  • Penghambat sodium-glucose co-transporter 2 (SGLT-2), seperti dapagliflozin, canagliflozin, dan empagliflozin, obat minum yang menghambat penyerapan glukosa di ginjal.
  • Terapi insulin dan terapi glucagon-like peptide 1 (GLP-1) receptor agonists merupakan obat suntik pada penderita DM.

Selain dengan cara di atas, penderita juga dianjurkan untuk berhenti merokok, merawat kaki, melakukan pemantauan gula darah secara mandiri, dan kontrol rutin ke dokter.

Artikel lainnya: Apakah Pasien Diabetes Boleh Cabut Gigi?

Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2

Upaya pencegahan diabetes melitus tipe 2 adalah dengan mengendalikan faktor-faktor risiko yang dapat diubah, seperti:

1. Konsumsi Makanan Gizi Seimbang dan Sehat

Diet gizi seimbang dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh setiap harinya perlu kamu lakukan untuk mencegah diabetes tipe 2.

Mulailah dengan membatasi makanan yang mengandung gula murni, tepung, lemak, natrium tinggi, dan cepat saji.

2. Aktif Bergerak dan Menjaga Berat Badan Tetap Ideal

Lakukan olahraga secara rutin untuk menghindari gaya hidup sedentari alias malas gerak. Sekaligus bertujuan untuk mengendalikan berat badan tetap ideal.

Berat badan dijaga agar di rentang indeks massa tubuh (IMT) normal, yaitu 18,5-22,9 kg/m² untuk orang Asia. Kamu bisa mengecek indeks massa tubuh dengan mudah lewat kalkulator BMI.

3. Berhenti Merokok

Kadar nikotin dari rokok diketahui dapat mengurangi efektivitas insulin. Hal ini menyebabkan perokok lebih banyak membutuhkan insulin untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuhnya.

Oleh karena itu, berhenti merokok bisa menurunkan risiko terjadinya masalah pada insulin yang berkaitan erat dengan diabetes.

4. Tidur Cukup dan Dapat Mengelola Stres

Kurang tidur jangka panjang bisa mengganggu sekresi insulin. Sementara ketika kamu stres, hormon kortisol (hormon stres) mempersulit insulin melakukan tugasnya dengan optimal.

Kedua efek ini mengakibatkan terlalu banyak glukosa yang tersisa dalam aliran darah, sehingga bisa meningkatkan risiko diabetes. Jadi, dengan tidur cukup dan dapat mengelola stres, kamu bisa mencegah diabetes di kemudian hari.

5. Rutin Cek Kesehatan

Melakukan medical check up bagi yang berisiko sebagai upaya penapisan atau deteksi dini.

Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2

Bila tidak diobati secara efektif, maka diabetes melitus tipe 2 berisiko menimbulkan berbagai komplikasi dengan ciri-ciri yang parah, seperti:

  • Retinopati diabetik, dengan ciri kehilangan penglihatan atau kebutaan.
  • Nefropati diabetik, dengan ciri-ciri kelelahan, mual, muntah, sesak napas, protein dalam urine, dan bengkak di kaki.
  • Ulkus atau gangren kaki diabetik, dengan ciri luka borok pada kaki.
  • Neuropati diabetik, dengan ciri-ciri rasa terbakar, kesemutan, nyeri tusuk, atau baal.
  • Penyakit arteri perifer, dengan ciri nyeri otot ketika melakukan aktivitas fisik dan membaik saat istirahat.
  • Hyperosmolar hyperglycemic state, dengan ciri penurunan kesadaran, kelemahan, kelumpuhan, dan kehilangan penglihatan. 
  • Hipoglikemia, dengan ciri-ciri jantung berdebar dan penurunan kesadaran.
  • Ketoasidosis diabetik, dengan ciri-ciri pernapasan cepat dan dalam, penurunan kesadaran, dehidrasi, dan penurunan tekanan darah.

Kapan Harus ke Dokter ?

Segera ke dokter, bila kamu mengalami gejala dan tanda di atas. Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang cara mengatasi dan pantangan diabetes melitus tipe 2, yuk #JagaSehatmu dengan download aplikasi KlikDokter!

Sebagai upaya pencegahan diabetes, kamu bisa mengecek risiko diabetes lewat tools skrining diabetes ini!

(APR)

Diabetes Melitus
Kencing Manis
Diabetes Melitus Tipe 2
  1. Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan J, Tahapary DL. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktik Klinis. InternaPublishing. 2015.
  2. PERKENI. Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. 2021.
  3. Purnamasari D. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke 6. InternaPublishing. 2014. 
  4. Soegondo S. Farmakoterapi pada Pengendalian Glikemia Diabetes Melitus Tipe 2. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke 6. InternaPublishing. 2014. 
  5. American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes—2022 abridged for primary care providers. Clinical Diabetes. 2022.
  6. Schwartz SS, Epstein S, Corkey BE, Grant SF, Gavin III JR, Aguilar RB. The time is right for a new classification system for diabetes: rationale and implications of the β-cell–centric classification schema. Diabetes care. 2016.
  7. Galicia-Garcia U, Benito-Vicente A, Jebari S, Larrea-Sebal A, Siddiqi H, Uribe KB, Ostolaza H, Martín C. Pathophysiology of type 2 diabetes mellitus. International journal of molecular sciences. 2020.
  8. Sigal RJ, Armstrong MJ, Bacon SL, Boule NG, Dasgupta K, Kenny GP, Riddell MC. Physical activity and diabetes. Canadian journal of diabetes. 2018.
  9. Colberg SR, Sigal RJ, Yardley JE, Riddell MC, Dunstan DW, Dempsey PC, Horton ES, Castorino K, Tate DF. Physical activity/exercise and diabetes: a position statement of the American Diabetes Association. Diabetes care. 2016.
  10. Huh IS, Kim H, Jo HK, Lim CS, Kim JS, Kim SJ, Kwon O, Oh B, Chang N. Instant noodle consumption is associated with cardiometabolic risk factors among college students in Seoul. Nutrition research and practice. 2017.
  11. Goyal R, Jialal I. Diabetes mellitus type 2. StatPearls [Internet]. 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513253/ Diakses 18 September 2023.
  12. Nakrani MN, Wineland RH, Anjum F. Physiology, glucose metabolism. StatPearls [Internet]. 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560599/ Diakses 18 September 2023.
  13. FDA. Diakses 2023. Cigarette Smoking: A Risk Factor for Type 2 Diabetes.
  14. Samy AL, Hairi NN, Low WY. Psychosocial stress, sleep deprivation, and its impact on type II diabetes mellitus: Policies, guidelines, and initiatives from Malaysia. FASEB Bioadv. 2021 May 22;3(8):593-600. doi: 10.1096/fba.2020-00115. PMID: 34377955; PMCID: PMC8332468.