Sukses

Sanitasi Buruk Rentan Mengganggu Kesehatan Reproduksi Wanita

Bagi wanita yang sudah menikah, kesehatan reproduksi menjadi salah satu hal penting untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Klikdokter.com, Jakarta Kesehatan reproduksi bagi wanita yang sudah menikah, menjadi salah satu hal penting untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang sehat dan bahagia. Bila tidak dirawat dengan baik, area kewanitaan ini bisa mengalami beragam masalah kesehatan reproduksi. Misalnya keputihan, jamur, dan infeksi saluran kemih. 

Namun, ada kondisi yang tidak memungkinkan untuk selalu menjaga area kewanitaan tetap bersih dan sehat. Misalnya, kurang akses sanitasi, fasilitas kesehatan yang tak memadai, hingga minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

Terkait hal tersebut, Andalan Feminine Care bersama PKBI NTB pada Jumat 19 Juli  2019 lalu menyelenggarakan penyuluhan kesehatan reproduksi kepada masyarakat di Dusun Teluk Kode, Desa Malaka, Lombok Utara. Daerah ini dipilih karena Dusun Teluk Kodek adalah salah satu daerah terdampak bencana gempa bumi pada 2018. 

Kegiatan yang diramaikan oleh 100 ibu dan wanita di Dusun Teluk Kodek ini juga dihadiri oleh sejumlah perwakilan dokter serta tenaga kesehatan dari PKBI NTB, yaitu dr. Ratna Dewi, Maryati Rahayu, dan dr. Handomi. 

Disampaikan dr. Ratna Dewi, bencana gempa yang terjadi di Lombok tahun lalu masih berdampak kepada masyarakat hingga saat ini. Hal ini lama-kelamaan dapat mengganggu kesehatan reproduksi. 

"MCK belum maksimal, masih banyak orang yang turun untuk mendapatkan sumber air. Pakai MCK bersama-sama tetangga. Ini yang perlu diperhatikan untuk mengurangi masalah infeksi. Karena faktor air bersih dan ketidaktahuan merawat kesehatan reproduksi. Bahkan masih ada juga yang menggunakan kain ketika menstruasi," ungkapnya.

1 dari 2 halaman

Sanitasi buruk picu masalah kesehatan reproduksi

Maharani Anindita selaku Brand Manager Andalan Feminine Care mengungkapkan, bencana alam yang terjadi di Lombok Utara memperparah kondisi kesehatan reproduksi wanita di lokasi tersebut. 

“Sarana toilet dan air bersih pada umumnya kurang memadai. Hal ini mempersulit para wanita dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk kesehatan reproduksi. Misalnya saja menstruasi, mengandung, melahirkan, hingga menyusui,” ujar Maharani.

"Banyak sekali masyarakat di Dusun Teluk Kodek, terutama wanita yang tidak terlalu paham mengenai organ reproduksi, cara penggunaan alat-alat kontrasepsi, hingga masih percaya berbagai mitos tentang kesehatan reproduksi,” ujar dr. Ratna Dewi dari PKBI NTB salah satu pembicara pada acara tersebut. 

Menurut dr. Ratna hal ini karena para ibu dan wanita tinggal di daerah pedalaman, jauh dari fasilitas kesehatan dan jarang mendapatkan penyuluhan. 

Angka partisipasi KB rendah

Pernyataan dr. Ratna Dewi tersebut juga ditunjang oleh data partisipasi wanita di Nusa Tenggara Barat yang mengikuti KB dengan metode kontrasepsi modern masih sangat minim. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia pada tahun 2017, angka partisipasi KB di wilayah tersebut baru sebesar 35,9 persen. 

Padahal, dr. Ratna Dewi menegaskan, penggunaan kontrasepsi dapat menjadi tolok ukur bagi seorang ibu untuk menjaga kesehatan reproduksinya. Dengan  alat kontrasepsi pula, pasangan suami istri dapat menjaga jarak kelahiran antara anak satu dengan yang lain.

Penyuluhan terkait merawat kesehatan reproduksi memang perlu untuk terus digalakkan, terutama bagi warga di daerah terpencil. Hal ini karena merawat kesehatan organ intim – khususnya  vagina – bisa menghindarkan Anda dari beragam penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar