Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Jenis-jenis Pelumas yang Aman untuk Berhubungan Seks

Banyak beredar dan dibeli di pasaran, pelumas untuk berhubungan seks masih meninggalkan tanda tanya besar. Amankah penggunaannya?

Klikdokter.com, Jakarta Topik seks di budaya ketimuran seperti Indonesia masih menjadi ranah yang “abu-abu”. Diam, tapi dalam hati penasaran. Ingin bertanya, tapi malu. Akhirnya, banyak salah kaprah. Begitu juga terhadap penggunaan pelumas saat berhubungan seksual. Ada yang menggunakan pelumas alami seperti air liur, tapi ada juga yang membeli pelumas di toko serba ada.

Antara takut mencoba dan malu membeli nyatanya pengguna pelumas vagina belum umum digunakan masyarakat kita. Berbeda dengan di Indonesia, di Amerika, pelumas vagina sangat umum digunakan bersama pasangan. Tidak sulit memang mendapatkan pelumas vagina di pasaran. Namun, amankah semuanya?

Serba-serbi pelumas hubungan seksual

Pelumas vagina digunakan untuk meningkatkan lubrikasi, kelembapan, dan kenikmatan saat berhubungan seksual. Normalnya, proses hubungan seksual akan menghasilkan pelumas alami, baik dari vagina dan penis.

Hubungan seksual akan melibatkan beberapa fase. Saat fase foreplay, vagina wanita akan menghasilkan cairan lubrikan dengan osmolalitas 260-290 mOsm/kg. Pada pria juga demikian, yakni cairan semen dengan osmolalitas 250-380 mOsm/kg.

Bila proses foreplay berjalan dengan semestinya, penggunaan pelumas tambahan tidak mutlak diperlukan. Namun, beberapa kondisi mungkin menyebabkan cairan pelumas ini belum cukup, sehingga butuh pelumas tambahan dari luar.

Pelumas tambahan ini beragam, ada yang dijual di pasaran pelumas khusus untuk hubungan seksual, tapi banyak juga yang menggunakan baby oil, air liur, mentega, minyak, dan hand body lotion. Tapi amankah?

Jenis pelumas aman untuk hubungan seksual

Ada dua hal utama yang harus diperhatikan untuk keamanan dari pelumas, pertama osmolalitas dan pengaruhnya terhadap pH vagina. Idealnya, pelumas yang baik memiliki osmolalitas 380 mOsm/kg. Hal ini bertujuan supaya dengan osmolalitas maksimal tersebut tidak terjadi kerusakan epitel vagina.

Setidaknya, osmolalitas pelumas yang digunakan tidak boleh melebihi 1200 mOsm/kg. Namun sayang, sebagian besar pelumas yang dijual di pasaran memiliki osmolalitas di atas angka ini.

Komponen utama yang menyebabkan osmolalitas pelumas ini tinggi adalah adanya konsentrasi dari glycol. Glycol digunakan sebagai pelembap. Produk turunan dari glycol ini misalnya glycerol dan propylene. Supaya osmolalitas dari pelumas di bawah 1200 mOsm/kg maka konsentrasi glycerol tidak melebihi 9,9 persen dan konsentrasi propylene glycol tidak melebihi 8,3 persen.

Selain itu, hindari pelumas yang mengandung polyquaternium. Kandungan zat ini dapat meningkatkan risiko penularan penyakit seksual, bila memang terdapat infeksi menular seksual pada pasangan.

Selain itu, dalam pemakaian pelumas, perhatikan juga pH vagina yang sehat, yakni berkisar 3,8-4,5. Peningkatan pH dapat meningkatkan risiko infeksi keputihan akibat bakteri. Karena itu, idealnya pelumas vagina yang baik digunakan memiliki pH sekitar 4,5.

Pelumas dengan pH demikian biasanya terdapat pada pelumas yang berbahan dasar air (water based lubricants). Lalu bagaimana keamanan pelumas lain yang bukan formula komersial?

Produk rumahan yang sering digunakan sebagai pelumas

Baby oil, mentega, minyak sayur, minyak ikan, santan, petroleum jelly, dan hand body lotion sering kali digunakan sebagai pelumas saat berhubungan seksual. Sayangnya, keamanan pelumas dari produk rumahan ini belum diketahui.

Namun yang pasti, produk rumahan yang disebutkan di atas tidak bisa digunakan untuk pelumas bila dipakai bersamaan dengan kondom. Produk rumahan ini dikatakan dapat merusak lateks kondom, sehingga efek proteksi dari kondom bisa hilang.

Pelumas untuk berhubungan seks boleh saja digunakan, sepanjang Anda memilih jenis yang tepat. Sebelum memilih pelumas untuk berhubungan seksual, perhatikan osmolalitas, zat, dan pH vagina. Pilihlah pelumas yang memiliki osmolalitas di bawah 1200 mOsm/kg, tidak mengandung polyquaternium dan memiliki pH sekitar 4,5.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar