Sukses

Mitos dan Fakta tentang Kesehatan Mental

Ada banyak mitos yang beredar mengenai kesehatan mental. Ini adalah beberapa yang paling umum.

Klikdokter.com, Jakarta Banyak stereotip yang menyelimuti isu kesehatan mental. Hal ini menimbulkan stigma, diskriminasi, dan isolasi pada orang-orang dengan gangguan mental. Mereka pun akan semakin sulit untuk mendapatkan pengobatan yang baik, terlebih masih minimnya fasilitas kesehatan jiwa di berbagai daerah Indonesia.

Dilansir Reader’s Digest dan sumber lainnya, berikut ini mitos yang banyak beredar mengenai kesehatan mental dan perlu dibicarakan secara terbuka:

Mitos: Tidak ada keluarga, teman, atau kolega saya yang memiliki masalah kesehatan mental.

Anda yakin? Masalah kesehatan mental jauh lebih umum daripada yang banyak orang duga. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Mitos: Depresi hanya dialami oleh orang dewasa.

Banyak orang berpikir bahwa gangguan mental tidak bisa menyerang anak-anak. Tapi ini salah besar. Faktanya, diperkirakan 50 persen dari gangguan mental dimulai pada usia 14 tahun (meski sebagian besar baru terdiagnosis bertahun-tahun kemudian). Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, beberapa pemicu gangguan mental – terutama depresi – pada anak antara lain faktor genetik, masalah neuropsikiatri (autism, gangguan cemas, dll), dan faktor lingkungan.

Mitos: Gangguan mental terjadi karena orang tersebut terlalu lemah.

Gangguan mental bukan salah siapa-sapa. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, tidak melihat usia, jenis kelamin, ras, atau status ekonomi, dan Anda tidak perlu merasa malu atau bersalah. Mengatakan bahwa kondisi mental seseorang disebabkan oleh kelemahan diri sendiri, hanya akan membuat pasien merasa tertekan. Pahamilah bahwa gangguan mental dapat disebabkan oleh beragam faktor, seperti genetik, diet yang buruk, atau perubahan besar yang terjadi dalam hidup seseorang.

Mitos: Orang dengan gangguan mental sebaiknya menyembunyikan kondisinya.

Karena stigma negatif yang banyak beredar mengenai kesehatan mental, banyak orang dengan gangguan mental lebih memilih untuk menyembunyikan kondisi mereka. Namun sebenarnya, cara terbaik untuk menghilangkan stigma ini adalah dengan mendiskusikan tentang isu kesehatan mental secara terbuka.

Mitos: Gangguan mental memicu tindak kekerasan.

Tak sedikit yang menganggap bahwa orang dengan gangguan mental cenderung agresif dan kasar. Menurut Mental Health America, sekitar 95 hingga 97 persen tindak kejahatan kekerasan dilakukan oleh orang tanpa gangguan mental. Selain itu, banyak orang dengan gangguan mental tidak pernah berlaku kasar, justru merekalah yang menjadi korban kekerasan.

Mitos: Anda tidak dapat mencegah gangguan mental.

Seperti halnya kondisi kesehatan lain, gangguan mental dapat muncul secara tak terduga dan terjadi pada siapa saja. Namun, ada banyak cara untuk mengurangi risiko gangguan mental, dan ini bisa dimulai saat Anda masih muda. Salah satu langkah terpenting dalam mencegah gangguan mental adalah dengan selalu menjalani gaya hidup sehat, mengenali dan memperhatikan tanda dan gejala gangguan mental, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Mitos: Gangguan mental tidak bisa dipulihkan kembali.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan mental dapat pulih dari kondisi mereka. Mereka juga dapat bekerja, belajar, dan berkontribusi untuk masyarakat luas dengan baik.

Stigmatisasi terhadap orang-orang dengan masalah kesehatan mental masih sering terjadi. Anda bisa membantu menghilangkan stigma tersebut dengan tidak menganggap kesehatan mental sebagai hal yang tidak tabu atau perlu disembunyikan. Apabila Anda merasa keluarga, teman, atau bahkan diri sendiri memiliki gejala dari gangguan mental, tidak perlu malu untuk menemui psikolog atau memanfaatkan layanan konseling daring yang kini semakin banyak.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar