Sukses

Benarkah Remaja Kini Makin Emosional?

Dua kasus kekerasan remaja di dua daerah berbeda menunjukkan bahwa remaja seolah cenderung semakin emosional. Apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Mendengar kabar adanya kasus-kasus kekerasan tentunya bikin miris, apalagi jika pelakunya adalah anak sekolah yang seharusnya dengan giat menuntut ilmu di sekolah. Terlebih lagi, kekerasan dilakukan terhadap guru atau orang yang lebih tua. Ada dua kasus yang kini tengah menjadi sorotan publik. Dengan adanya kasus tersebut, apakah remaja memang lebih emosional?

Belum lama ini ada kisah dari Gresik, Jawa Timur, ketika siswa kelas IX di SMP PGRI Wringinanom berinisial AA, menantang dan melawan gurunya setelah ditegur. Dirangkum dari berbagai sumber, ia merasa kesal karena rencana membolosnya batal. Ia pun lalu menantang gurunya untuk berkelahi, mencengkeram kerah bajunya, sambil merokok. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video berdurasi 25 detik.

Belakangan, AA mengaku bersalah dan meminta maat setelah melakukan mediasi di kantor polisi setempat. Ia pun mengaku menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Sang guru pun berbesar hati dan dengan lapang dada memaafkan perbuatan AA.

Belum lama kasus itu mereda, ada muncul lagi kasus yang serupa. Kali ini tejadi di Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan, dan bikin banyak pihak geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, ada empat pelajar sekolah SMP Negeri 2 Galesong beserta satu orang tua murid memukuli penjaga sekolah. Kasus ini berawal ketika penjaga sekolah yang bernama Faisal Pole (38), menegur siswa-siswa tersebut karena berkata kasar terhadap dirinya.

Tak terima ditegur, empat siswa tersebut itu kemudian melapor kepada salah satu orang murid berinisial DS. Ia dan beserta keempat siswa tersebut mengeroyok Faisal sampai kepalanya berdarah. Kejadian ini lantas berhasil dihentikan oleh penjaga sekolah yang lain. Kasus ini sekarang ditangani oleh Polsek Galesong Selatan.

Remaja kini semakin emosional dan agresif?

Kedua kasus yang disebutkan di atas bikin banyak orang mengelus dada sekaligus mencoreng instansi sekolah sebagai tempat menimba ilmu. Belum lagi banyak yang mempertanyakan kenapa para remaja tersebut seperti tak ada rasa takut dan hormat terharap orang yang lebih tua.

Kecenderungan sikap emosional remaja berdasarkan dua kasus di atas dicoba dianalisis oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter. Menurut dr. Sepri hal itu terjadi karena banyak faktor, dan tidak bisa dipukul rata serta harus mempertimbangkan beberapa kondisi.

"Sebenarnya ada banyak faktor yang mendasari, tidak bisa disamakan berdasarkan satu penyebab saja. Ini kembali ke pribadi anak-anak sekarang, bagaimana sebenarnya perilaku dan lingkungan mereka," ujar dr. Sepri saat dikonfirmasi.

"Namun, secara umum, biasanya memang yang melakukan perilaku agresif itu kan anak-anak remaja. Kalau dilihat dari sisi fisiologis medisnya, usia tersebut sedang mencari identitas diri dan berkaitan juga dengan hormon-hormon pubertas," jelas dr. Sepri.

Namun, di luar masalah medis yang bisa dijelaskan, sifat agresif remaja sekarang memang bisa juga terjadi akibat faktor eksternal seperti perkembangan zaman, berkaitan dengan gawai dan media sosial.

"Kalau dari sisi eksternalnya, itu bisa berasal dari gadget, game, dan video. Misalnya, kalau main game, biasanya kalau anak laki-laki itu main game yang sifatnya agresif, mempertontonkan suatu yang kasar. Kadang-kadang itu juga bisa memicu orang berlaku agresif. Bisa saja pada dasarnya orang tersebut tidak memiliki karakter agresif, tapi karena itu semua, lalu berubah menjadi agresif,"kata dr. Sepri.

"Memang orang yang kecanduan gawai itu diketahui lebih agresif atau cepat marah. Itu sangat berpengaruh terhadap apa yang terjadi sekarang ini," pungkas dr. Sepri.

Dua kejadian di atas – yang menampakkan usia remaja yang lebih emosional sekaligus disertai luapan amarah – semoga bisa menjadi pembelajaran bagi semua. Terutama bagi para orang tua yang memiliki anak usia remaja. Orang tua harus aktif memantau perkembangan anak dan berusaha untuk selalu ada untuknya. Dengan pengawasan sekaligus pendampingan serta mendapatkan dukungan positif dari lingkungan sekitar, remaja juga bisa mengembangkan pribadi yang positif.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar