Sukses

Bagaimana Stres Picu Gangguan Kesehatan?

Kesehatan psikologis bisa sangat memengaruhi kesehatan fisik. Inilah penjelasan bagaimana stres bisa memicu gangguan kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Stres merupakan kondisi tekanan pada psikologis maupun fisik. Stres dan rasa cemas yang tidak ditangani dengan baik bisa picu berbagai gangguan kesehatan. Kondisi ini tentunya bisa menganggu konsentrasi dan aktivitas harian Anda. Salah satu bagian tubuh yang sering diserang saat stres adalah kepala, terutama di bagian otak.

Berdasarkan penjelasan dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, dari KlikDokter, tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pemicunya bisa akibat beban pekerjaan, beban hidup, kemacetan, putus cinta, dan masih banyak lagi.

“Perlu diketahui, stres dikaitkan dengan penurunan kadar hormon serotonin di dalam tubuh. Serotonin adalah zat kimia yang berperan dalam pengaturan mood atau suasana hati,” ujar dr. Nitish.

Apa yang terjadi pada Anda yang mengalami stres kronis adalah perubahan pada sistem otak, terutama area bernama hipotalamus. Area ini berhubungan dengan sistem hormonal otak serta sistem saraf otonom.

Berikut ini adalah bagaimana stres yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan ganggguan kesehatan.

1. Depresi

Anxiety and Depression Association of America (ADAA) mendefinisikan depresi sebagai penyakit dimana seseorang mengalami suasana hati yang rendah dan persisten. Penelitian menunjukkan hubungan antara tingkat stres yang tinggi dan timbulnya depresi.

Satu penelitian terhadap 800 wanita menyelidiki hubungan antara berbagai jenis stres dan depresi berat. Selama masa studi, tim peneliti menemukan bahwa stres kronis dan akut berkontribusi pada insiden depresi yang lebih besar pada wanita.

Studi observasional lain meneliti stres berdasarkan populasi usia kerja. Tingkat stres dan gejala keseluruhan partisipan diukur, lalu ditemukan bahwa kondisi tersebut lebih sering terjadi pada orang yang melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi.

2. Gangguan kecemasan

Gangguan kecemasan berbeda dari depresi. Kondisi ini ditandai dengan perasaan takut yang luar biasa, bukan hanya perasaan sedih. Penelitian menunjukkan bahwa stres mungkin terkait dengan gangguan kecemasan.

Pada sebuah studi, peneliti menyelidiki efek stres di rumah yang turut berdampak pada tingkat kecemasan serta depresi. Hasilnya, orang-orang yang mengalami tingkat stres tinggi lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dan depresi.

3. Mudah marah

Iritabilitas dan kemarahan bisa menjadi ciri umum pada orang yang sedang mengalami stres. Pada sebuah penelitian, tingkat kemarahan yang lebih tinggi dikaitkan dengan stres mental dan kemungkinan terjadinya serangan jantung yang berhubungan dengan stres.

4. Dorongan seks rendah

Pada beberapa orang, stres dapat memengaruhi kehidupan seksual mereka. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2014 menemukan bahwa tingkat stres kronis memiliki dampak negatif pada gairah seksual. Penelitian menemukan kadar kortisol yang lebih tinggi, yang pada akhirnya menurunkan gairah seks.

Sebagian besar penelitian seputar stres dan libido rendah melibatkan wanita, tetapi ini tentu saja juga bisa memengaruhi pria. Pada sebuah studi yang menguji hamster menunjukkan bahwa stres selama masa remaja akan berdampak pada nafsu seksual hamster tersebut saat menginjak masa dewasa.

5. Masalah ingatan dan konsentrasi

Jika Anda mengalami kesulitan konsentrasi dan memori, bisa jadi seks adalah penyebabnya. Sebuah penelitian pada hewan menemukan bahwa tikus remaja yang terkena stres akut mengalami masalah kinerja memori lebih banyak daripada tikus-tikus lainnya yang tidak mengalami stres.

Ada juga ulasan lain menyelidiki jalur respons stres di otak serta pengaruhnya terhadap memori jangka panjang. Peneliti menemukan bahwa hormon tertentu yang mengikuti peristiwa stres atau traumatis dapat memiliki kemampuan untuk merusak memori.

Stres, apalagi yang tidak diatasi dan dikelola dengan baik, bisa picu gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental. Kondisi ini tentunya bisa mengganggu kualitas hidup seseorang. Perlu dilakukan penanganan segera, jika perlu dengan bantuan para ahli, agar stres tidak menggerogoti kondisi fisik dan mental penderitanya lebih parah.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar