Sukses

Amankah Ibu Hamil Konsumsi MSG?

Si penguat rasa MSG banyak sekali terkandung dalam makanan sehari-hari. Apakah makanan ber-MSG ini aman dikonsumsi ibu hamil?

Klikdokter.com, Jakarta MSG punya rasa unik. Bukan rasa manis, asin, pahit, atau asam seperti yang Anda kenal. Rasa unik ini disebut dengan umami, yang dekat dengan cita rasa gurih. Tak heran industri makanan berbondong-bondong menggunakan zat tambahan ini. Nah, apakah makanan yang mengandung MSG ini aman untuk dikonsumsi ibu hamil?

MSG (monosodium glutamat) adalah salah satu asam amino non esensial yang bisa dibentuk di dalam tubuh. Glutamat merupakan asam amino yang ditemukan lebih banyak pada protein nabati. Mungkin selama ini Anda lebih mengenal MSG sebagai bahan tambahan produk pabrikan daripada bahan sumbernya langsung.

Padahal, MSG juga terkandung di dalam banyak sumber makanan seperti kedelai, tomat, ikan tuna, jamur, dan keju. Uniknya MSG tidak hanya memiliki cita rasa tersendiri, tapi juga dapat bereaksi dengan sumber makanan lain sehingga memperkaya cita rasa sumber bahan makanan lain.

Apakah MSG berbahaya?

Desas-desus mengenai bahaya MSG pertama kali diungkapkan oleh sebuah jurnal yang menyebut-nyebut tentang Chinese restaurant syndrome. Gejala dari sindrom ini adalah mual, muntah, pusing, berdebar, kesemutan, dan kebas setelah makan makanan yang mengandung MSG. Apakah efek yang serupa juga bisa dirasakan semua orang? Sebelum menjawab ini, mari membahas glutamat terlebih dulu.

Glutamat merupakan komponen utama dari MSG. Setelah diproses di dalam tubuh, ternyata tubuh tak dapat membedakan antara glutamat murni yang berasal dari makanan, atau glutamat yang berasal dari bahan tambahan penyedap rasa. Metabolisme glutamat juga tidak dapat dibedakan antara etnis satu dengan yang lainnya.

Entah karena indra perasa yang berbeda atau karena kebiasaan, tapi memang faktanya penggunaan MSG di Asia Tenggara dan Asia Timur lebih tinggi 2-3 lipat dibandingkan dengan negara-negara di Eropa.

Dalam sebuah penelitian, MSG yang diberikan melalui suntikan intravena atau subkutan dapat menimbulkan kelainan metabolisme lemak di hati, kerusakan retina mata, dan kerusakan otak. Namun, berbeda dengan hasil penelitian yang melihat dampak MSG yang masuk ke tubuh melalui makanan, hasilnya tidak tampak adanya kelainan metabolisme lemak di hati dan kerusakan otak.

Jenis makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan MSG juga memengaruhi konsentrasi MSG di dalam tubuh. Misalnya, makanan yang kaya akan karbohidrat akan menurunkan konsentrasi glutamat di dalam tubuh. Jadi, cukup sulit menentukan seberapa banyak batasan konsumsi MSG harian.

Walaupun sebuah penelitian mengungkapkan bahwa gejala Chinese restaurant syndrome ini hanya akan dirasakan bagi orang-orang yang sensitif terhadap MSG dan mengonsumsinya murni tanpa makanan lebih dari 3 gram, tapi hasil penelitian lain hasilnya belum konsisten. Dengan kata lain, MSG belum bisa dikatakan secara pasti menyebabkan sindrom tersebut.

Apakah ibu hamil boleh mengonsumsi MSG?

Glutamat dapat terkandung di dalam cairan amnion yang berada di kantong rahim. Hebatnya, banyaknya glutamat yang perlu disuplai ke aliran darah janin akan disesuaikan oleh plasenta. Artinya, semua yang dikonsumsi ibu hamil tak lantas sampai ke janin.

Begitu pula pada ibu menyusui, glutamat juga dapat terkandung di dalam ASI. Namun, ibu menyusui yang mengonsumsi MSG terlalu tinggi tidak akan menaikkan jumlah konsentrasi glutamat dalam ASI.

Joint FAO/WHO Expert Committe on Food Additives (JECFA) menyebut, MSG yang ditambahkan maupun yang berasal dari bahan makanan tidak membahayakan bayi.

Sayangnya, hingga saat ini masih belum ada larangan maupun rekomendasi penambahan MSG harian. Kesimpulannya, konsumsi MSG dalam batas wajar masih diperbolehkan, termasuk untuk ibu hamil. Namun, untuk meminimalkan keluhan, sebaiknya utamakan penggunaan penguat rasa yang lebih alami, yang berasal dari sumber makanan atau mengandalkan rempah-rempah.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar