Sukses

Awas, Penyakit Parkinson Bisa Berawal dari Perut!

Bukan bermula dari otak, konon penyakit Parkinson berasal dari perut. Benarkah demikian? Simak ulasannya berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, meninggal dunia beberapa tahun silam setelah berjuang lama menghadapi penyakit Parkinson. Sudah lama diketahui, Parkinson adalah penyakit yang disebabkan oleh kerusakan otak secara progresif sehingga penderitanya mengalami tremor (gemetar) dan sulit bergerak.

Namun, ada sebuah studi yang menemukan bahwa penyakit Parkinson bermula dari ketidakseimbangan komposisi bakteri di usus. Pada 2016, para peneliti dari Departemen Neurologi dari University of Wisconsin-Madison meneliti tikus-tikus yang telah diprogram secara genetik untuk mengidap Parkinson. Tikus-tikus itu dibagi ke dalam tiga kelompok. Dua kelompok diberikan bakteri usus seperti yang terdapat dalam manusia, dan satunya lagi tidak diberikan bakteri.

Hasilnya, tikus-tikus yang diberikan bakteri usus memproduksi protein alpha-synuclein yang sangat tinggi. Protein tersebut berkaitan dengan kerusakan otak pada pasien Parkinson dan memunculkan gejala-gejala Parkinson. Sementara itu, tikus yang terbebas dari bakteri usus tidak menunjukkan gejala penyakit yang berarti.

Kemudian, tikus yang steril itu diberikan sisa metabolisme bakteri usus (asam lemak rantai pendek). Hasilnya, tikus-tikus itu memunculkan gejala-gejala Parkinson. Agar lebih meyakinkan, pada percobaan terakhir, tikus-tikus yang masih streril itu pun diberikan bakteri usus langsung dari pasien Parkinson. Alhasil, gejala yang timbul menjadi semakin buruk.

Ketidakseimbangan bakteri

Berkaca dari hasil penelitian itu, para peneliti akhirnya mempercayai bahwa ketidakseimbangan bakteri pada usus bisa memunculkan gejala Parkinson. Menurut dr. Fiona Amelia, MPH. dari KlikDokter, dalam kondisi yang normal, bakteri usus akan memecah serat menjadi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty accids/SCFA) dan memproduksi zat-zat kimia lain yang turut mengatur metabolisme tubuh. Jika kadar zat kimia tersebut tidak seimbang, kerusakan otak mungkin terjadi.

“Pada penderita Parkinson, ditemukan komposisi bakteri usus tertentu yang lebih banyak daripada orang sehat. Namun, ada pula jenis bakteri yang ditemukan pada orang sehat dan tidak ditemukan pada penderita Parkinson,” dr. Fiona menambahkan.

Tak hanya itu, gejala yang pertama kali muncul pada penderita Parkinson umumnya berupa peradangan atau konstipasi. Para peneliti berpendapat bahwa ada kaitan yang erat antara pencernaan dan Parkinson. Karena itulah, penderita Parkinson biasanya disarankan untuk mengonsumsi banyak serat demi mengurangi efek obstipasi, yakni ketidakmampuan untuk mengosongkan usus sehingga feses menumpuk.

Menurut dr. Fiona, hasil studi tersebut sebenarnya memberikan alternatif terapi penyakit Parkinson, misalnya saja dengan probiotik dan obat-obatan saluran cerna. Probiotik merupakan kuman baik yang tinggal di usus yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk menjaga kesehatan manusia.

Sementara itu, bakteri yang termasuk ke dalam probiotik adalah lactobacillus dan bifidobacteria. “Probiotik memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan. Anak yang ususnya banyak mengandung probiotik umumnya lebih sehat, memiliki riwayat tumbuh kembang yang baik, dan jarang sakit,” ujar dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter.

Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko terkena penyakit Parkinson, sangat baik apabila kita rutin mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik, seperti yoghurt, tempe, fermentasi kedelai (miso), kacang-kacangan, bawang putih, dan alpukat. Sebab, saluran cerna yang sehat adalah awal dari pencegahan penyakit yang berbahaya.

[HNS]

0 Komentar

Belum ada komentar