Sukses

Terapi Hormon pada Wanita Transgender Rentan Picu Stroke

Menurut studi terbaru, terapi hormon yang dilakukan terhadap wanita transgender rentan memicu risiko stroke. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Terapi hormon yang dilakukan untuk transisi gender dianggap dapat bermanfaat untuk kesehatan mental para transgender. Kendati demikian, layaknya prosedur medis, terapi hormon juga memiliki risiko. Hasil studi terbaru dalam Annals of Internal Medicine menyebutkan, terapi ini terbukti menimbulkan risiko yang signifikan berupa penggumpalan darah serius dan stroke di kalangan wanita transgender.

Dilansir Medical Daily, peneliti menggunakan Kaiser Health System untuk menguji data hampir 5,000 pasien transgender (2,834 transgender wanita dan 2,118 transgender pria).

Ditemukan bahwa wanita transgender yang melakukan terapi hormon (dengan estrogen) memiliki risiko tinggi terkena penggumpalan darah yang disebut venous thromboembolism. Namun, pria transgender yang melakukan terapi hormon (dengan testosteron) tidak memiliki risiko setinggi itu.

Risiko stroke di antara transgender wanita juga 9.9 kali lebih tinggi dibanding pria yang masuk kelompok kontrol (kelompok yang tidak melakukan terapi).

Terapi hormon dan hubungannya dengan stroke

Berdasarkan pemaparan dr. Fiona Amelia MPH dari KlikDokter, risiko penggumpalan dan pembekuan darah dapat menyumbat suatu pembuluh darah yang akhirnya menyebabkan stroke iskemik. Pada umumnya, wanita memiliki tingkat penyakit jantung yang lebih rendah daripada pria.

Berbeda dengan wanita transgender, kemungkinan stroke dan serangan jantung akan tetap sama seperti sebelum mereka melakukan transisi. Sementara untuk pria transgender, para peneliti belum dapat memastikan risiko kesehatan yang mungkin terjadi karena jumlah insiden yang dilaporkan masih terlalu sedikit.

Profesor Michael Goodman dari Emory University, Atlanta, yang terlibat dalam penelitian ini menyatakan bahwa para transgender tersebut disertakan selama empat tahun masa penelitian. Tapi hanya sekitar 23 persen yang telah menjalani operasi peralihan kelamin.

Variabel yang digunakan untuk perbandingan adalah ras, etnis dan tahun kelahiran. Tidak ada variabel pada formula, kombinasi atau dosis hormon yang digunakan dalam terapi peralihan jenis kelamin ini. Sehingga mungkin saja beberapa rejimen pengobatan memiliki risiko yang lebih rendah daripada proses pengobatan lainnya.

Goodman kemudian mengemukakan bahwa penelitian ini dilakukan untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar terapi hormon dan hal-hal terkait. Ia mengaku tidak bermaksud untuk menakut-nakuti siapa pun.

Penelitian tersebut tidak akan menghalangi siapa pun untuk melakukan terapi hormon jika dirasa sangat membutuhkannya. Untuk meminimalkan risiko, dokter kerap mendiskusikan berbagai risiko terkait terapi tersebut dengan pasien.

Terapi hormon untuk transgender di Indonesia

Berdasarkan penjelasan dr. Suci Dwi Putri dari KlikDokter, sampai sekarang belum ada izin resmi yang dikeluarkan untuk menangani terapi hormon bagi transgender di Indonesia. Namun, ada pengecualian jika pasien tersebut memiliki kelainan atau gangguan kesehatan tertentu.

“Bagi Anda yang ingin melakukan terapi hormon, ada baiknya memikirkan matang-matang akan hal tersebut. Mengingat izin yang juga belum resmi, maka risiko kegagalan bisa saja terjadi,” ujarnya.

Untuk banyak pasien transgender, terapi hormon sangat penting untuk kesehatan mental mereka karena identitas gender mereka selaras dengan jenis kelamin. Namun, penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa terapi transisi gender ini berhubungan dengan peningkatan risiko stroke pada wanita transgender. Sebelum membuat keputusan besar ini, tentu membutuhkan diskusi dengan ahli medis yang bijaksana, terlatih dan memiliki pemahaman secara mumpuni.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar