Sukses

Kenali Gejala Sakit Perut Akibat Keracunan Makanan

Anda mengalami sakit perut, muntah-muntah atau diare setelah mengonsumsi suatu makanan? Mungkin Anda mengalami gejala keracunan makanan.

Klikdokter.com, Jakarta Senang rasanya bisa menghadiri pesta ulang tahun, arisan atau acara pernikahan. Alasannya apalagi kalau bukan makan gratis sepuasnya. Ya, memang nikmat dan menyenangkan. Namun Anda perlu tahu bahwa di balik itu, makanan yang dihidangkan di acara jamuan lebih rentan menyebabkan Anda sakit perut akibat keracunan makanan.

Keracunan makanan merupakan penyakit saluran pencernaan, yang disebabkan akibat mengonsumsi makanan yang sudah tidak layak atau terkontaminasi oleh racun maupun bakteri.

Gejala yang terjadi akibat keracunan makanan bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Gejala tersebut dapat timbul antara 1 jam hingga 28 hari sejak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala yang paling sering muncul adalah mual, muntah, dan diare.

Selain itu, orang yang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi juga dapat mengalami kehilangan nafsu makan, nyeri perut, demam ringan, badan lemas, dan sakit kepala.

Makanan beracun

Daging, telur, dan produk susu adalah makanan yang paling sering terkontaminasi. Makanan yang terkontaminasi tersebut tentu selanjutnya akan menyebabkan orang yang mengonsumsinya mengalami keracunan makanan.

Sebenarnya, hampir semua kuman penyebab keracunan makanan akan mati ketika makanan dimasak dalam suhu tinggi. Namun, makanan masih dapat terkontaminasi dalam proses penghidangan. Hal ini terjadi apabila orang yang mengolah dan menghidangkan makanan kurang memperhatikan tingkat kematangan makanan dan kebersihan dirinya sendiri.

1 dari 2 halaman

Penyebab keracunan makanan

Keracunan makanan paling sering disebabkan oleh bakteri E.coli, listeria, dan Salmonella. Selain itu, toksoplasma – parasit yang terdapat pada feses kucing – juga dapat menyebabkan keracunan makanan, bahkan menyebabkan gangguan kehamilan pada wanita.

Virus pun demikian. Mikroorganisme berbahaya ini juga dapat menyebabkan keracunan makanan. Contohnya adalah norovirus atau Norwalk virus, rotavirus, dan hepatitis A.

Meski semua orang yang menyantap hidangan terkontaminasi sama-sama memiliki kemungkinan untuk mengalami gejala keracunan makanan, ada sekelompok orang tertentu yang lebih rentan mengalami keadaan tersebut. Mereka adalah orang yang sedang sakit, memiliki kekebalan tubuh rendah, wanita hamil, lansia, dan anak-anak.

Pertolongan pertama di rumah

Apabila Anda mencurigai suatu kejadian keracunan makanan, pastikan penderitanya mengonsumsi cairan yang cukup. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare yang dialami.

Dalam mengonsumsi cairan, air putih, oralit, jus buah dan air kelapa dapat dipilih sesuai selera dan kondisi masing-masing. Hindari konsumsi kopi dan alkohol, yang justru dapat mengiritasi saluran cerna.

Untuk mengatasi gejala mual muntah dan diare, Anda dapat mengonsumsi obat yang dijual secara bebas di apotek. Pastikan Anda mengonsumsinya sesuai indikasi yang tertera di label masing-masing obat.

Dan yang tak kalah pentingnya, perhatikan makanan yang dikonsumsi selanjutnya. Apabila muntah dan diare yang dialami cukup berat, ada baiknya untuk membatasi asupan makanan untuk sementara.

Pilih makanan yang mudah dicerna dan rendah serat, agar tidak membebani saluran cerna. Makanan seperti itu, termasuk biskuit, pisang, bubur, oatmeal, kaldu ayam, kentang, dan roti putih. Sebaliknya, hindari dulu konsumsi susu, keju, krim, dan yoghurt. Hindari pula makanan yang berlemak, digoreng, berbumbu, dan tinggi gula.

Segera ke dokter

Sebagian besar gejala keracunan makanan umumnya ringan-sedang dan dapat ditangani sendiri di rumah. Namun, apabila gejala yang dialami berat atau tidak membaik setelah diberikan pengobatan seperti di atas, segeralah membawa penderita ke dokter terdekat, apalagi bila ia mengalami diare berat selama tiga hari atau lebih, demam tinggi, dehidrasi (mulut kering, urine sedikit dan pekat), serta penurunan kesadaran.

Jangan anggap sepele sakit perut yang diakibatkan keracunan makanan. Sebab, bila keadaan ini tak segera ditangani dengan cara yang tepat, penderitanya berisiko tinggi untuk kehilangan nyawa akibat dehidrasi berat.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar