Sukses

Pantangan Makanan untuk Orang dengan Autisme

Orang dengan autisme disarankan untuk diet khusus dan melakukan pantangan makanan tertentu.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi seseorang yang menderita penyakit tertentu, melakukan diet atau pantangan makanan amat disarankan. Salah satunya untuk orang dengan autisme. Mengapa demikian?

Untuk tumbuh kembang yang optimal, tubuh membutuhkan kalori dan sumber gizi. Setiap makanan yang dikonsumsi, selain dapat menambah energi, juga dapat memengaruhi perilaku dan mood seseorang.

Kandungan zat tertentu yang ada di dalam makanan dapat menyebabkan timbulnya penyakit, bahkan bisa mengakibatkan kematian pada individu dengan kondisi tertentu. Namun di sisi lain, zat tertentu yang ada di dalam makanan juga bisa mencegah, bahkan berguna untuk mengobati suatu penyakit.

Para peneliti di Marcus Autism Center di Emory University School of Medicine, Georgia, Amerika Serikat, meneliti masalah perilaku makan pada anak dengan autisme. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa anak dengan autisme cenderung lima kali lebih tinggi mengalami “tantangan” saat makan, seperti tantrum, pilih-pilih makanan, atau melakukan “ritual” tersendiri sebelum memulai makan.

Selain itu, anak dengan autisme juga lebih berisiko mengalami kekurangan gizi dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami autisme. Masalah makan yang kronis kemudian dapat berdampak pada kesulitan bersosial dan penurunan performa akademis.

Beberapa jenis diet yang banyak diteliti dapat mengurangi gangguan perilaku pada orang dengan autisme, antara lain:

1. Diet bebas kasein bebas gluten

Diet bebas kasein bebas gluten, atau dikenal juga dengan diet GFCF (gluten free casein free), merupakan pola makan yang membatasi makanan yang mengandung gluten (seperti gandum) dan kasein (terdapat pada susu dan produk olahannya).

Dasar teori dari diet GFCF adalah anak dengan autisme dianggap memiliki alergi atau sensitivitas tinggi terhadap makanan yang mengandung gluten atau kasein. Makanan yang tidak dapat tercerna dengan “baik” ini kemudian akan memberikan sinyal ke otak dan memengaruhi perilaku anak, termasuk fungsi kognitif dan perilaku sosial.

2. Diet Feingold

Diet Feingold merupakan pola makan yang membatasi—bahkan menghilangkan—semua jenis pewarna buatan, perasa buatan, pengawet makanan tertentu, dan salisilat (kandungan mirip aspirin) dari diet sehari-hari, karena dianggap dapat memengaruhi gangguan perilaku, seperti hiperaktif, autisme, gangguan belajar, dan sulit memusatkan konsentrasi.

Menurut Feingold Association, bagi anak di bawah usia 6 tahun yang menjalankan diet Feingold akan mengalami perubahan perilaku dalam 1 minggu. Sedangkan anak di atas usia 6 tahun akan menunjukkan hasil yang positif setelah 2–6 minggu.

Di samping itu, salisilat yang ada di dalam buah atau sayuran tertentu—seperti apel, beri, ceri, mentimun, jeruk, tomat, plum, anggur, kismis, dsb—juga harus dihindari saat menjalani diet Feingold.

3. Diet bebas ragi

Diet bebas ragi, atau yeast free diet, merupakan pola makan yang membatasi makanan yang mengandung ragi dan yang bisa menumbuhkan organisme ragi (seperti jamur candida) di dalam usus.

Untuk itu, diet ini menganjurkan untuk  membatasi gula dan karbohidrat karena dianggap bisa menjadi medium pertumbuhan yang baik bagi jamur di dalam usus. Pada diet bebas ragi, juga dianjurkan untuk memantang makanan fermentasi, seperti roti yang terbuat dari ragi, keju, jamur, dan bir.

Meski dari beberapa penelitian, beberapa jenis diet tertentu dianggap bermanfaat untuk mengurangi gejala atau gangguan perilaku pada orang dengan autisme, namun tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan kebenaran dan efektivitasnya.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar