Sukses

Kebiasaan Sering Mendengkur Picu Alzheimer?

Benarkah kebiasaan sering mendengkur bisa picu Alzheimer?

Klikdokter.com, Jakarta Para ilmuwan di Harvard University menemukan fakta bahwa, gangguan tidur seperti sleep apnea dapat menganggu kualitas tidur seseorang. Apabila kebiasaan ini berlangsung terus, bisa menurunkan kemampuan kognitifnya.

Kehilangan memori dan fungsi berpikir biasanya dialami oleh penderita gangguan tidur, dan mereka yang memiliki gen yang disebut apolipoprotein ε-4 (APOE-ε4) allele. Kedua kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya penyakit Alzheimer.

Para peneliti menemukan fakta lain bahwa kondisi yang mengakibatkan hipoksemia di malam hari, juga akan menyebabkan turunnya konsentrasi dan memburuknya ingatan. Seseorang yang mengalami hipoksemia biasanya akan mengantuk di siang hari karena penurunan tingkat oksigen dalam darah.  Kondisi ini tentu saja akan berakibat pada melambatnya daya pikir seseorang.

Sementara itu sleep apnea dikaitkan dengan menurunnya perhatian dan kecepatan berpikir sese orang. Gangguan tidur ini ditandai dengan adanya suara dengkuran yang berat dan keras. Pernapasan penderita gangguan ini sering terhenti hingga 30 kali setiap jam dalam semalam.

“Studi kami membuktikan bahwa gangguan pernapasan saat tidur, akan memengaruhi kemampuan dan kecepatan berpikir, yang menunjukkan adanya penurunan kognitif,” kata Susan Redline, profesor bidang sleep medicine dari Harvard Medical School.

Menurut Susan, pengobatan yang efektif terhadap penyakit Alzheimer masih kurang. Sehingga hasil penelitian tersebut diharapkan bisa mendukung penanganan pernapasan yang tidak teratur sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi risiko demensia.

Sementara itu, berdasarkan sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Jurnal Neurology, mendengkur bisa memengaruhi kondisi otak seseorang. Menurut penelitian tersebut, orang dengan penyakit sleep anea cenderung mengalami masalah ingatan dan tanda-tanda gangguan kognitif ringan lebih awal, dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mengalami gangguan tidur.

 

1 dari 2 halaman

Kerusakan kognitif ringan sering mendahului demensia Alzheimer.

Ricardo Osorio, MD, asisten profesor psikiatri di NYU Center for Brain Health mempelajari 2.000 orang yang berusia 55 sampai 75 tahun. Peserta terdiri atas kelompok yang normal secara kognitif, kelompok yang mengalami gangguan kognitif ringan dan mereka yang menderita demensia Alzheimer. Setiap enam bulan periset menindaklanjuti perubahan status kognitif yang mereka alami.

Hasilnya, mereka yang melaporkan mengalami sleep apnea atau mendengkur, cenderung mengalami tanda-tanda kerusakan kognitif ringan. Selain itu, mereka juga mengalami penyimpangan memori dan melambatnya kemampuan kognitif, sekitar 12 tahun lebih awal, dibandingkan mereka yang tidak mendengkur.

Kerusakan kognitif ringan sering mendahului demensia Alzheimer. Namun tidak semua orang yang mengalami hal ini pasti menderita Alzheimer. Meski begitu, Osorio mengakui eratnya hubungan kebiasaan mendengkur dengan gangguan kognitif  ringan, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, depresi dan penyakit.

Jika Anda memiliki kebiasaan mendengkur, segera konsultasikan kepada dokter apakah kebiasaan tersebut bisa mengakibatkan Alzheimer. Semakin cepat kondisi Anda terdiagnosis, maka semakin cepat pula tindakan yang diberikan oleh dokter.

[DA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar