Sukses

Kebiasaan Sering Mendengkur Picu Alzheimer?

Sebuah penelitian menyebut bahwa mendengkur dapat memengaruhi kondisi otak seseorang. Namun, apakah ini berkaitan dengan Alzheimer?

Mendengkur saat tidur bisa terjadi saat Anda merasa sangat lelah. Hal ini kadang mengganggu pasangan atau teman tidur Anda. Tapi waspadalah, ada yang mengatakan kebiasaan mendengkur dengan berat dan keras dapat menjadi ciri penyakit Alzheimer.

Apa benar mendengkur dapat memicu penyakit Alzheimer? Mari simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.

Benarkah Kebiasaan Mendengkur Picu Alzheimer?

Penyakit Alzheimer merupakan kondisi ketika sebagian sel-sel otak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, kemampuan otak menurun drastis. Kebiasaan mendengkur pernah diduga menjadi pemicu Alzheimer.

Beberapa tahun lalu, terdapat penelitian yang menyatakan bahwa mendengkur berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Dikatakan bahwa terdapat hubungan antara pernapasan yang terganggu saat tidur, dengan terjadinya penyakit Alzheimer di hari tua.

Artikel lainnya: Inilah 9 Gejala Awal Alzheimer pada Lansia

Pernapasan yang terganggu saat tidur, atau sleep-disordered breathing, merupakan istilah umum akan adanya jeda dalam bernapas saat tidur. Kondisi paling buruk yang dapat terjadi pada spektrum ini adalah obstructive sleep apnea, yang derajat keparahannya dibagi menjadi ringan, sedang dan berat.

1 dari 3 halaman

Penelitian Tentang Hubungan Antara Mendengkur dan Alzheimer

Dalam studi terbaru, para peneliti mengamati data mengenai kebiasaan tidur 1.750 orang dewasa dan lansia. Mereka ingin melihat apakah orang dewasa dan lansia ini memiliki masalah bernapas saat tidur, serta bagaimana kaitannya dengan performa saat uji kognitif atau berpikir.

Ditemukan suatu hubungan antara pernapasan yang terganggu saat tidur dengan kemampuan memperhatikan yang buruk, ingatan jangka pendek, serta kecepatan pemrosesan informasi.

Namun, tidak ditemukan hubungan antara fungsi kognitif secara keseluruhan (yang juga meliputi aspek bahasa, pertimbangan, kefasihan berbicara, serta berpikir visual). Alasan mengapa hal ini terjadi belumlah jelas. Namun hal ini memberi sugesti bahwa bukti hubungan antara keduanya tidak dapat disimpulkan.

Artikel lainnya: Penderita Alzheimer Perlu Wilayah Perawatan Khusus?

Kendati demikian, memang ditemukan bahwa hubungannya lebih kuat pada mereka yang memiliki gen yang bernama APOE-ε4. Ini diketahui sebagai gen pembawa faktor risiko penyakit Alzheimer.

Jadi, studi ini tidak membuktikan bahwa pernapasan yang terganggu saat tidur merupakan faktor risiko Alzheimer. Studi ini juga tidak secara spesifik melihat apakah seseorang jadi mengidap demensia atau tidak (yang bisa menjadi kelanjutan dari Alzheimer). Karena, studi ini hanya melihat performa kemampuan kognitif seseorang pada satu waktu.

2 dari 3 halaman

Mengatasi Sleep Apnea

Apabila Anda memiliki gangguan tidur dan atau curiga mengalami sleep apnea, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Pasalnya, jika sleep apnea tidak ditangani, Anda dapat memiliki risiko lebih tinggi akan kondisi yang lebih serius, seperti serangan jantung dan stroke.

Terlebih lagi, terdapat faktor risiko yang mirip antara sleep apnea dengan yang dialami pengidap demensia. Hal ini meliputi memiliki berat badan berlebih atau obesitas, merokok, serta mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

Dengan mengetahui hal ini, Anda dapat mengatur dan menyeimbangkan berat badan dalam batas normal, berhenti merokok, serta membatasi konsumsi alkohol. Pola hidup sehat akan menurunkan risiko Anda mengalami pernapasan yang terganggu saat tidur. Artinya, risiko Anda untuk mengalami sleep apnea dan demensia pun akan berkurang.

Studi di atas yang dilakukan pada tahun 2017 menyangkal adanya hubungan antara kebiasaan mendengkur dengan penyakit Alzheimer. Meski demikian, para peneliti melihat bahwa gangguan kognitif lebih banyak ditemukan pada seseorang yang membawa gen Alzheimer.

Setelah mengetahui fakta di atas, bagi Anda yang punya pertanyaan seputar sleep apnea, penyakit Alzheimer, atau penyakit lainnya, Anda dapat berkonsultasi secara online kepada dokter kami. Gunakan layanan Live Chat dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

[NWS/ RS]

0 Komentar

Belum ada komentar