Sukses

Apa Itu Kleptomania?

Mencuri benda yang tidak dibutuhkan secara kompulsif dapat merupakan salah satu tanda kleptomania.

Klikdokter.com, Jakarta Kleptomania merupakan kondisi dimana seorang individu memiliki dorongan untuk mencuri objek atau benda yang belum tentu dibutuhkannya. Terkadang, objek yang dicuri memiliki nilai yang kurang berharga bagi individu tersebut, sehingga sering diberikan kepada orang lain atau dibuang.

Setelah melakukan itu, seorang kleptomania akan merasa senang atau lega. Akan tetapi, pada seseorang dengan kleptomania, pencurian yang dilakukan bukan untuk mengekspresikan amarah atau balas dendam, serta tidak berhubungan dengan halusinasi atau gangguan panik.

Salah satu ciri khas pengidap kleptomania yaitu timbulnya dorongan untuk mencuri yang tidak dapat ia kendalikan. Selain itu, tindakan pencurian sering terjadi tanpa perencanaan. Jadi, perbedaan antara kleptomania dan tindak pencurian lainnya yaitu kleptomania mencuri bukan karena faktor kesulitan ekonomi.

Terkait penyebabnya, para pakar masih mencoba meneliti pemicu kleptomania. Kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan jiwa seperti gangguan kepribadian, cemas, bipolar, kepribadian, gangguan pengendalian impuls, atau depresi.

Dorongan untuk mencuri pada orang dengan kleptomania dapat hilang dan timbul secara tidak menentu. Selain itu, seseorang dengan kleptomania dapat mengalami intensitas yang makin tinggi atau rendah dari dorongan tersebut seiring dengan berjalannya waktu.

Seorang individu yang mengalami gejala serupa dengan kondisi ini disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa.

Lantas bagaimana penatalaksanaan untuk orang yang mengalami kleptomania? Penatalaksanaan dari kleptomania umumnya merupakan gabungan dari pengobatan dan psikoterapi.

Dokter yang menangani individu dengan kleptomania dapat meresepkan pengobatan. Dokter juga dapat melakukan psikoterapi atau konseling yang dapat mencakup terapi modifikasi perilaku, terapi psikodinamik, atau beberapa jenis terapi lainnya. Dengan menjalani pengobatan dan psikoterapi secara teratur, diharapkan kondisi ini dapat dikendalikan dengan baik.

[BA/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar