Sukses

Mengenal Chiropraktik Lebih Dekat

Chiropraktik merupakan suatu tindakan terapi yang banyak diperdebatkan masyarakat. Mari mengenal chiropraktik lebih dekat bersama dr. Dina Kusumawardhani berikut ini.

Saat ini, chiropraktik banyak diperbincangkan karena kasus yang terjadi dimasyarakat. Pasalnya, baru-baru ini beredar kabar bahwa chiropraktik dapat menimbulkan kematian. Hal ini mungkin saja disebabkan karena cara kerja chiropraktik ini masih belum banyak diketahui masyarakat pada umumnya.

Chiropraktik pertama kali diperkenalkan oleh Daniel David Palmer. Chiropraktik berasal dari bahasa Yunani, yaitu Cheir dan praktos, yang berarti dilakukan oleh tangan. DD Palmer melakukan chiropraktik berdasarkan keilmuan anatomi tubuh dan fisiologi tubuh. Pada bulan September 1985, DD palmer melakukan tindakan chiropraktik pada pasien tuna rungu setelah pasien tersebut mengeluhkan adanya nyeri di bagian punggung belakangnya. Setelah dilakukan terapi, pasien merasa keluhan nyeri yang Ia alami berkurang.

Sejak saat itu, tindakan chiropraktik mulai dikembangkan hingga saat ini. Hal ini juga berdampak pada banyaknya sekolah khusus chiropraktik yang didirikan. Namun demikian, terapi chiropraktik masih menuai kontroversi di beberapa negara. Hal ini disebabkan karena masih banyak yang belum mengakui tindakan ini sebagai landasan terapi pengobatan.

Saat ini, di Indonesia, banyak berdiri klinik chiropraktik, dan kebanyakan pasien yang dilayani adalah pasien dengan keluhan nyeri di sekitar leher, tulang belakang atau bagian tubuh lainnya.

Pada prinsipnya, tindakan chiropraktik adalah tindakan merubah posisi tulang belakang atau bagian tubuh seseorang dengan tujuan untuk mengembalikan bagian tersebut ke posisi yang seharusnya, mengurangi rasa nyeri dan membantu tubuh agar dapat kembali normal. Karenanya, chiropraktik harus dilakukan oleh ahli yang mengerti dengan baik keluhan pasien, kelainan yang diderita pasien dan teknik apa yang harus digunakan.

Terapi chiropraktik ini banyak menggunakan beberapa alat bantu, seperti:

  1. Pemanasan dan pendinginan (heat and ice). Hal ini dilakukan untuk membantu terjadinya rasa relaks pada otot.
  2. Electrical stimulation, atau proses relaksasi menggunakan gelombang listrik
  3. Alat rehabilitasi lainnya.

Pertimbangan penggunaan alat bantu tersebut tergantung pada kasus yang dihadapi. Karenanya, perlu dilakukan evaluasi berkala, termasuk konseling, misalnya dengan mengatur pola hidup sehat dan olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, pola makan yang sehat, dan tentunya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.

Pada beberapa laporan kasus, banyak ditemukan ketidakberhasilan dalam melakukan terapi chiropraktik ini. Sebagai terapi alternatif yang menggunakan tindakan non-invasive, tindakan chiropraktik ini masih dapat dipertimbangkan tergantung pada kondisi setiap pasien.

Sebelum melakukan chiropraktik, pasien perlu melakukan pemeriksaan tambahan, seperti foto rontgen, CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging). Jika Anda memiliki keluhan yang berkaitan dengan nyeri, sakit pada leher dan tulang belakang, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopaedi untuk dapat mengetahui kelainan yang Anda alami.

Tindakan chiropraktik memiliki manfaat yang baik jika dilakukan dengan benar, dan dilakukan evaluasi secara berkala. Namun, tindakan chiropraktik ini juga memiliki risiko yang bisa saja terjadi pada setiap tindakannya.

Sampai saat ini, Ikatan Dokter Indonesia, masih belum menjadikan chiropraktik sebagai bagian dari praktek kedokteran di Indonesia, dan masih sebagai terapi alternatif. Dengan demikian, Anda perlu mencermati jika akan melakukan terapi ini. Selain itu, Anda juga perlu mengetahui apakah tempat Anda melakukan terapi chiropraktik tersebut sudah sesuai dengan perizinan yang ada di Indonesia, termasuk juga para terapis yang melakukan terapi chiropraktik ini, apakah sudah terlatih dan memiliki perizinan yang sesuai dengan peraturan yang ada atau justru sebaliknya.

0 Komentar

Belum ada komentar