Perawatan Wanita

Benarkah Miom Bisa Keluar Saat Haid?

Siti Putri Nurmayani, 21 Sep 2022

Ditinjau Oleh dr. Arina Heidyana

Terkadang gumpalan darah yang keluar saat haid dianggap sebagai tanda miom yang keluar. Benarkah miom bisa keluar secara spontan? Ketahui penjelasannya di sini.

Benarkah Miom Bisa Keluar Saat Haid?

Miom merupakan penyakit yang umum dialami oleh wanita. Berbeda dengan kista, miom merupakan tumor yang tumbuh di otot dinding rahim. 

Meski sering kali tidak menimbulkan gejala, ada beberapa ciri khas miom yang mirip dengan menstruasi, di mana terjadinya nyeri panggul dan perdarahan hebat. Bahkan, gumpalan darah haid pun sering dianggap sebagai tanda miom yang keluar.

Lantas, bisakah miom keluar saat haid? Yuk, ketahui informasi selengkapnya lewat ulasan berikut ini.

Bisakah Miom Keluar saat Haid?

Bisakah Miom Keluar saat Haid

Meski miom yang kecil jarang menimbulkan gejala, tetapi biasanya kondisi ini dapat menyebabkan nyeri panggul hingga perdarahan hebat. Karena gejalanya hampir serupa dengan gejala haid yang dialami kebanyakan orang, beberapa individu menganggap  bahwa miom bisa keluar sendiri bersamaan dengan haid.

Akan tetapi, dr. Arina Heidyana menyampaikan bahwa miom tidak bisa keluar saat haid.

Dilansir dari Medline Plus, miom atau fibroid rahim adalah tumor yang tumbuh di dalam rahim wanita (uterus). Pertumbuhan ini biasanya bersifat jinak dan jarang berubah menjadi kanker. Sebanyak 1 dari 5 wanita mungkin memiliki miom selama masa subur mereka. Bahkan, setengah dari semua wanita memiliki miom di usia 50 tahun

Di Indonesia, miom ditemukan pada 2,39-11,7 persen dari semua pasien ginekologi yang dirawat. Tumor yang tumbuh di dalam rahim kebanyakan dialami pada usia 35-45 tahun, dan jarang ditemukan pada wanita usia 20 tahun.

Artikel Lainnya: Fakta tentang Miom yang Perlu Anda Tahu

Namun, terdapat kasus langka di mana seorang wanita muda berusia 22 tahun mengalami miom keluar saat haid. Ia merasakan gejala seperti nyeri perut bagian bawah yang terasa hebat dan menstruasi berat yang disertai dengan gumpalan, demam, juga anemia.

Keluarnya miom secara spontan ini masih belum diketahui penyebabnya. Akan tetapi, ada kemungkinan tubuh menganggap jaringan miom sudah mati, sehingga perlu dikeluarkan.

Selain tu, miom juga mungkin bisa keluar dengan sendirinya karena adanya pengaruh obat-obatan, aborsi, operasi caesar, penggunaan alat kontrasepsi (KB), atau embolisasi arteri rahim. 

Tak hanya itu, ada juga laporan kasus dari seorang wanita perimenopause berusia 48 tahun yang mengeluarkan miom secara spontan tanpa menggunakan obat-obatan. Pasien mengeluhkan perdarahan hebat, nyeri, dan sensasi yang dikeluarkan oleh vagina.

Diduga, keluarnya miom secara spontan ini dipicu ketidakseimbangan hormon. Mengingat pada perimenopause terjadi penurunan kadar estradiol dan progesteron yang terkait dengan ketidakteraturan periode haid.

Sesungguhnya, belum dapat diketahui secara pasti penyebab seseorang mengalami fibroid rahim. Namun, miom dianggap dapat muncul karena pengaruh hormon dan genetik. Estrogen dan progesteron adalah hormon yang membuat lapisan rahim menebal setiap bulan selama menstruasi. Kedua hormon ini dapat memengaruhi pertumbuhan miom.

Seiring bertambahnya usia dan memasuki masa menopause, miom dapat menyusut karena terjadinya penurunan hormon. Saat mengalami kondisi ini, gejala dari fibroid mungkin juga akan menghilang.

Artikel Lainnya: Inilah Ciri Sakit Perut Akibat Miom

Pengobatan untuk Mengatasi Gejala Miom

Apabila kamu mengalami perdarahan hebat akibat miom, segera konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Berikut beberapa pengobatan yang dapat membantu mengatasi gejala miom:

1. Obat-Obatan

Jika kamu mengalami gejala miom yang ringan, seperti sakit punggung, maka obat-obatan adalah hal pertama yang direkomendasikan untuk mengatasi kondisi ini.

Dokter mungkin akan menyarankan pil KB dosis rendah untuk membantu mengendalikan perdarahan yang hebat. Selain itu, metode kontrasepsi lain juga bisa diberikan, seperti suntikan progesteron atau alat kontrasepsi yang mengandung hormon.

Selain itu, dokter juga mungkin merekomendasikan penggunaan Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonist. Obat-obatan ini dapat membantu mengecilkan ukuran fibroid sebelum operasi atau mengontrol perdarahan.

2. Suplemen Zat Besi

Jika kamu mengalami anemia karena perdarahan hebat, maka disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi.

3. Terapi Oral

Terapi oral dapat dilakukan untuk menangani uterus berat pada orang yang belum mengalami menopause dengan miom simptomatik. Terapi ini dapat digunakan hingga 24 bulan. Penggunaannya perlu didiskusikan terlebih dahulu kepada dokter.

4. Operasi Fibroid

Kamu juga bisa melakukan operasi fibroid untuk mengangkat miom. “Namun, operasi ini dilakukan apabila menimbulkan nyeri panggul yang mengganggu kualitas hidup atau menyebabkan anemia karena perdarahan yang banyak,” ungkap dr. Ariana.

Kamu perlu mempertimbangkan beberapa faktor sebelum melakukannya. Selain ukuran, lokasi, dan jumlah fibroid yang dapat memengaruhi jenis operasi, kamu juga  perlu memikirkan rencana kehamilan di masa depan.

Miomektomi menjadi salah satu operasi yang dapat mengangkat fibroid tanpa merusak rahim. Jenis prosedur miomektomi ini bisa dilakukan dengan histeroskopi, laparoskopi, atau laparotomi.

Apabila kamu tidak merencanakan kehamilan di masa depan, terdapat beberapa operasi yang bisa dilakukan, seperti histerektomi, embolisasi fibroid rahim, atau radiofrequency ablation.

Artikel Lainnya: Benarkah Mioma Hanya Dapat Diatasi dengan Operasi?

Sulit untuk memastikan miom keluar saat haid, mengingat gejala miom dan haid hampir serupa. Ada baiknya kamu melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi miom.

Jika mengalami perdarahan hebat saat menstruasi, ada baiknya berkonsultasi kepada dokter. Jangan sungkan untuk menggunakan fitur Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter. Jangan lupa download aplikasi KlikDokter, solusi untuk #JagaSehatmu.

(DA/JKT)

mioma uteri dan haid

Konsultasi Dokter Terkait