Sukses

Orgasme saat Hamil, Berbahaya atau Justru Bermanfaat?

Berhubungan seks saat hamil tidak dilarang. Namun, ketika wanita hamil orgasme yang membuat otot rahim tertarik hingga mengubah bentuk perut berbahayakah?

Klikdokter.com, Jakarta Berhubungan seks saat hamil secara umum bukanlah aktivitas yang dilarang, asalkan kondisi kehamilan sehat dan tidak ada keluhan setelah berhubungan seks. Lantas, jika hubungan seks membuat Anda yang sedang hamil mengalami orgasme, apakah ini dapat berbahaya atau justru bermanfaat bagi kehamilan?

Orgasme dapat menyebabkan kontraksi ringan otot rahim. Namun, jangan khawatir karena kontraksi tersebut tidak akan menyakiti Anda ataupun janin di dalam kandungan. Hal ini karena janin dilindungi oleh selaput dan cairan ketuban yang mengelilinginya. Meski demikian, satu hal yang perlu wanita hamil waspadai apakah dokter mengizinkan untuk melakukan aktivitas seksual selama masa kehamilan.

Apabila terdapat komplikasi atau penyulit pada kehamilan seperti adanya riwayat keguguran, plasenta previa (kondisi plasenta atau ari-ari menutupi jalan lahir), terdapat inkompetensi serviks, atau ada riwayat kontraksi prematur yang dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, Anda dan pasangan tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan seks dan orgasme.

Seputar berhubungan seks dan orgasme saat hamil

Selama kehamilan, bukan hal yang aneh bila Anda merasakan hasrat hubungan yang berbeda dengan sebelum hamil. Perubahan hormon selama masa kehamilan akan membuat Anda merasakan hasrat seksual yang semakin meningkat. Namun, pada trimester pertama umumnya wanita hamil banyak yang merasakan penurunan hasrat seksual akibat sering merasa mual dan cepat lelah.

Sejalan dengan bertambahnya usia kehamilan, Anda dan pasangan juga harus mengubah posisi dalam berhubungan seks agar dapat tetap nyaman. Setelah kehamilan berusia 4 bulan, ibu hamil akan sering mengalami pusing atau mual jika tidur terlentang. Kondisi ini berkaitan dengan ukuran rahim yang semakin membesar sehingga menekan pembuluh darah besar yang ada di belakang rahim. Oleh karena itu, perubahan posisi dalam berhubungan seks perlu dilakukan sejak masa ini.

Selain itu, pada usia kehamilan cukup bulan (minggu ke-37 hingga minggu ke-42) saat kepala janin sudah memasuki rongga panggul, Anda tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual karena dikhawatirkan dapat menyebabkan perdarahan atau persalinan dini. Tak hanya itu, jika terdapat keputihan yang abnormal, sebaiknya Anda dan pasangan tidak berhubungan seks dan segera periksakan diri ke dokter.

Selama berhubungan seks, pastikan Anda tidak merasakan nyeri. Ketika orgasme, akan terjadi kontraksi ringan pada rahim. Jika kondisi kehamilan Anda sehat, tak perlu khawatir karena kontraksi rahim yang timbul saat orgasme tidak cukup kuat untuk mencetuskan persalinan. Namun, bila Anda mengalami kontraksi yang semakin kuat dan teratur, Anda harus segera menghubungi dokter. Anda yang sedang hamil juga tidak boleh melanjutkan atau kembali berhubungan seks bila terjadi perdarahan atau ketuban pecah.

Kehamilan tidak lantas menghentikan aktivitas seksual Anda dan pasangan. Berhubungan seks saat hamil nyatanya dapat membawa banyak manfaat seperti membantu melepas stres, membuat tidur lebih lelap, menurunkan risiko penyakit jantung saat hamil, dan tentunya memperkuat hubungan dengan pasangan.

Komunikasi yang baik dengan pasangan mengenai perasaan dan segala kekhawatiran Anda mengenai berhubungan seks saat hamil sangat penting untuk dilakukan. Dengan demikian Anda dan pasangan tetap merasa nyaman selama masa kehamilan.

Jadi, jika Anda yang sedang hamil bertanya-tanya apakah berhubungan seks diperbolehkan, apalagi hingga Anda meraih orgasme, jawabannya adalah aman jika kondisi kehamilan tidak bermasalah. Meski demikian, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan untuk mengetahui apakah terdapat komplikasi atau penyulit pada kehamilan.

(RN/ RH)

1 Komentar