Sukses

Ketika Si Kecil Alergi Cokelat

Bagi sebagian orang – terutama anak-anak – cokelat adalah makanan terlezat di dunia. Namun, bagaimana jika Si Kecil alergi terhadap cokelat?

Pernahkah Anda mendengar ada orang yang alergi terhadap cokelat? Mungkin tidak. Karena alergi cokelat sebenarnya jarang terjadi. Jika timbul gejala-gejala alergi ketika Si Kecil mengonsumsi cokelat, bisa jadi ia alergi terhadap cokelat (kakao) atau komponen-komponen tambahan di dalamnya.

Ketika diproduksi, cokelat bisa ditambahkan 300 bahan lainnya, seperti sirop, jagung, kacang, gluten, kafein, dan lain-lain. Semakin tinggi kualitas cokelat tersebut, umumnya semakin sedikit pula bahan-bahan lain yang ditambahkan ke dalamnya. Dan semakin banyak bahan tambahan, semakin besar kemungkinan cokelat tersebut dapat menyebabkan alergi.

Gejala Alergi Cokelat

Alergi cokelat dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan alergi pada umumnya, yaitu gejala pada pencernaan, kulit, saluran napas, dan lain-lain. Biasanya gejala muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam sejak mengonsumsi cokelat.

Pada sistem pernapasan, alergi cokelat dapat memberikan gejala seperti batuk kering, bersin-bersin, hidung tersumbat, hingga asma. Selain itu, gangguan pencernaan juga dapat timbul berupa nyeri perut, mual, muntah, dan diare. Di kulit dapat pula timbul ruam-ruam kemerahan yang gatal, biduran, ataupun bengkak pada mata dan bibir.

Sensitivitas terhadap beberapa kandungan dalam cokelat seperti kafein, teobromin, feniletilamin, dan tiramin dapat menyebabkan sakit kepala – umumnya migrain. Oleh karena itu, orang yang memiliki migrain harus berhati-hati dalam mengonsumsi cokelat.

Selain gejala-gejala tersebut di atas, reaksi alergi yang berat juga dapat terjadi berupa syok anafilaksis (syok akibat alergi). Kondisi ini merupakan keadaan gawat darurat yang dapat mengancam nyawa dan harus mendapatkan pertolongan medis secepatnya.

Pemeriksaan untuk Alergi Cokelat

Jika Anda curiga kalau Si Kecil memiliki alergi terhadap cokelat, Anda dapat melakukan tes provokasi untuk memastikannya. Pertama, Si Kecil harus pantang mengonsumsi cokelat selama satu minggu. Setelah itu, berikan lagi cokelat kepadanya. Jika gejala muncul kembali, berarti ia memang alergi terhadap cokelat.

Namun harus dibedakan, apakah ia alergi terhadap kakao atau bahan-bahan tambahan lainnya. Di laboratorium, Si Kecil akan diberikan cokelat murni untuk memastikannya. Jika muncul gejala, berarti ia alergi cokelat. Namun jika tidak, berarti ia alergi terhadap komponen tambahan di dalam cokelat.

Mencegah dan Mengobati Alergi Cokelat

Mencegah alergi cokelat hanya dapat dilakukan dengan menghindari konsumsi cokelat dan produk makanan yang mengandung cokelat. Namun jika gejala alergi Si Kecil tergolong ringan, umumnya ia masih dapat menoleransi kandungan cokelat yang terdapat dalam olahan makanan.

Apabila sudah terlanjur timbul gejala, Anda dapat memberikan Si Kecil obat antihistamin yang dijual bebas.

0 Komentar

Belum ada komentar