Sukses

Pengertian

Spermatokel, atau dikenal juga dengan kista sperma merupakan salah satu jenis masalah yang menyebabkan munculnya massa atau benjolan pada skrotum. Spermatokel ini umumnya berupa benjolan berisi cairan dan sperma yang ditemukan pada kepala epididimis (saluran panjang bergulung yang bisa ditemukan di belakang masing-masing testis).

Spermatokel tergolong benjolan jinak. Kondisi ini pun tidak menyebabkan gangguan pada kesuburan pria. Selain spermatokel, beberapa kondisi lain juga dapat menyebabkan benjolan pada skrotum. Di antaranya hidrokel, varikokel, hernia, kista epididimis, keganasan, dan sebagainya.

Penyebab

Penyebab pasti spermatokel masih belum diketahui hingga saat ini. Beberapa teori meyakini kondisi ini disebabkan oleh adanya sumbatan pada epididimis. Inilah organ yang berfungsi membawa sperma keluar dari testis.

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis spermatokel, diperlukan evaluasi lengkap yang didapatkan dari:

  • Anamnesis: dokter akan mengumpulkan info seputar tanda dan gejala yang dialami, riwayat penyakit, dan seterusnya.
  • Pemeriksaan fisik: terutama pemeriksaan pada testis. Dapat juga dilakukan pemeriksaan transiluminasi dengan menyinari testis dari belakang. Jika benjolan berisi cairan maka akan dilewati cahaya, namun jika benjolan testis padat maka tidak dapat dilewati cahaya.
  • Pemeriksaan penunjang: untuk pemeriksaan pada skrotum akan disarankan penggunaan ultrasonografi (USG). Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan histologi (pemeriksaan jaringan dengan mikroskop).

Gejala

Sering kali, spermatokel tidak memberikan gejala apa pun (asimtomatik). Oleh karena itu, pada banyak kasus, adanya spermatokel ditemukan secara tidak sengaja saat seseorang tengah menjalani pemeriksaan rutin.

Jika ada gejala, biasanya berupa adanya benjolan atau masa pada bagian atas testis di salah satu sisi. Dapat juga berupa adanya pembesaran skrotum pada salah satu sisi.

Umumnya benjolan ini memiliki permukaan mulus, teraba lunak, memiliki batas tegas, dan tidak menimbulkan nyeri. Terkadang, dapat muncul keluhan berupa bengkak, kemerahan, dan nyeri (berupa nyeri tumpul) pada skrotum, atau sensasi tekanan pada pangkal penis.

Pengobatan

Pada umumnya spermatokel tidak menimbulkan gejala, serta sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Sehingga, pada kebanyakan kasus, kondisi ini tidak membutuhkan pengobatan. Pendekatan untuk kasus spermatokel tanpa nyeri adalah observasi secara rutin dan berkala.

Jika timbul keluhan yang mengganggu penderita, misalnya nyeri atau ukuran benjolan yang menimbulkan ketidaknyamanan, maka dokter bisa menyarankan beberapa metode pengobatan.

Keluhan dapat diredakan dengan konsumsi obat anti-nyeri atau obat untuk mengurangi pembengkakan. Perlu diingat, konsumsi obat-obatan ini bertujuan meredakan gejala yang mengganggu. Konsumsi obat tidak dapat menyembuhkan spermatokel, atau mencegah timbulnya spermatokel.

Pada kasus spermatokel yang menimbulkan gejala lain, terapi standar yang disarankan adalah pembedahan. Pembedahan ini berupa spermatokelektomi, yang bertujuan membuang spermatokel dari jaringan epididimis dan mempertahankan saluran reproduksi.

Umumnya prosedur pembedahan cukup singkat (kurang dari 1 jam), dan dapat dilakukan dengan pembiusan lokal atau umum. Penderita disarankan untuk kontrol 2–6 minggu pasca operasi, untuk menilai kesembuhan luka dan adanya keluhan lainnya.

Selain pembedahan, terdapat pilihan terapi minimal invasif. Akan tetapi terapi ini tidak terlalu sering digunakan. Terapi itu antara lain adalah aspirasi dan skleroterapi.

Pada aspirasi, area spermatokel akan ditusuk menggunakan jarum dan isinya disedot keluar. Sedangkan pada skleroterapi, akan disuntikkan agen bersifat iritatif pada kantong spermatokel dengan harapan akan terjadi penyembuhan luka dan penutupan jaringan parut.

Keduanya tidak terlalu banyak menjadi pilihan karena sering kali spermatokel akan kambuh kembali setelah terapi. Selain itu, terdapat risiko terjadinya kerusakan pada epididimis. Jika hal ini terjadi, maka dapat timbul masalah kesuburan.

Pencegahan

Karena penyebab spermatokel yang belum bisa didefinisikan dengan pasti, maka belum ada juga bentuk pencegahan yang bisa dilakukan untuk masalah kesehatan ini.