Menu
KlikDokter
Icon Search
Icon LocationTambah Lokasi KamuIcon Arrow
Masalah Kulit

Herpes Zoster

dr. Arina Heidyana, 18 Januari 2023

Ditinjau Oleh dr. Arina Heidyana

Icon ShareBagikan
Icon Like

Herpes zoster adalah penyakit infeksi yang menimbulkan bintik berair di kulit. Kondisi ini bisa amat mengganggu karena nyeri yang dirasakan.

Herpes Zoster

Herpes Zoster

Dokter Spesialis

Dokter spesialis kulit

Gejala

Bintik berair, gatal, nyeri, dan terasa panas

Faktor Risiko

Usia di atas 50 tahun, stres, sistem imun rendah

Cara Diagnosis

Wawancara medis dan pemeriksaan fisik

Pengobatan

Antivirus, antinyeri

Obat

Acyclovir, valacyclovir, NSAID

Komplikasi

Postherpetic neuralgia, sindrom ramsay-hunt, kebutaan

Kapan harus ke dokter?

Usia 60 tahun ke atas, memiliki daya tahan tubuh rendah, ruam semakin nyeri dan menyebar


Pengertian Herpes Zoster

Penyakit herpes zoster yang juga dikenal dengan cacar api adalah infeksi yang disebabkan oleh varisela zoster, virus yang juga menyebabkan penyakit cacar air. 

Saat pengobatan cacar air, virus ini tidak sepenuhnya teratasi. Virus menetap pada dasar tulang tengkorak ataupun tulang belakang. 

Setelah cacar air sembuh, virus kembali aktif di kemudian hari. Inilah yang dinamakan herpes zoster.

Penyebab Herpes Zoster

Kebanyakan orang biasanya sudah pernah terkena cacar air di masa kanak-kanak. Setelah sembuh, rupanya virus penyebab cacar air masih dapat menetap pada dasar tulang tengkorak ataupun tulang belakang.

Hal tersebut terjadi karena sistem imunitas membuat virus tak aktif. Tapi, di kemudian hari, ketika cacar air telah sembuh, virus bisa aktif kembali.

Mengapa virus bisa aktif kembali hingga kini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, pada kebanyakan kasus, penyebab herpes zoster akibat sistem kekebalan tubuh yang turun. Tubuh pun rentan terkena infeksi.

Stres juga diduga turut berperan dalam reaktivasi virus varisela zoster.

Faktor Risiko Herpes Zoster

Beberapa faktor risiko penyebab herpes zoster, meliputi:

  • Usia. Herpes zoster lebih umum terjadi pada mereka yang berusia di atas 50 tahun. Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh menurun karena pertambahan usia. Meskipun demikian, tidak berarti mereka yang berusia muda tidak dapat terkena herpes zoster
  • Stres fisik dan emosional. Saat mengalami stres, tubuh melepaskan zat kimia. Zat kimia ini memengaruhi fungsi sistem kekebalan tubuh
  • Masalah sistem kekebalan tubuh, misalnya HIV/AIDS
  • Baru menjalani prosedur medis cukup berat, misalnya menjalani kemoterapi atau setelah menjalani operasi transplantasi organ

Artikel lainnya: Beda Antara Herpes Zoster dan Herpes Simpleks

Gejala Herpes Zoster

Gejala herpes zoster adalah rasa panas seperti sensasi terbakar. Sensasi tersebut sering kali disertai dengan gejala herpes zoster lain, seperti sakit kepala, sensitif terhadap cahaya, dan demam.

Beberapa hari setelah gejala tersebut terasa, timbul ruam. Selanjutnya, ruam akan berubah menjadi luka melepuh berisi air yang sangat gatal, mirip dengan bintil cacar air. Setelah beberapa hari luka lepuh akan mengering.

Berbeda dengan cacar air, gejala herpes zoster hanya akan muncul pada satu sisi tubuh sesuai dengan saraf yang terinfeksi.

Umumnya, ruam muncul pada bagian tengah punggung hingga dada. Ruam juga dapat timbul di wajah pada area salah satu mata dan di lebih dari satu lokasi bagian tubuh.

Berikut tahapan kemunculan gejala herpes zoster.

1. Prodromal (Sebelum Ruam Timbul)

Gejala yang umumnya dirasakan penderita, antara lain:

  • Rasa nyeri, kesemutan, atau justru seperti mati rasa timbul di lokasi saraf yang terinfeksi beberapa hari atau bahkan, beberapa minggu sebelum ruam muncul. Rasa tidak nyaman biasanya terasa di dada, punggung, perut, kepala, atau leher
  • Merasakan gejala mirip dengan gejala flu (biasanya tanpa demam), seperti menggigil, nyeri perut, atau diare
  • Kelenjar getah bening terasa sedikit bengkak

2. Tahap Aktif (Ruam dan Luka Lepuh Timbul)

Gejala herpes zoster pada tahap aktif antara lain:

  • Timbul ruam yang lokasinya bisa di mana pun bagian tubuh tetapi hanya satu sisi saja, kanan atau kiri. Lantas, ruam menjadi luka lepuh berisi cairan. Beberapa penderita tidak mengalami ruam atau ada ruam tetapi sifatnya ringan
  • Ruam mungkin timbul di dahi, pipi, hidung, atau area sekitar mata (herpes zoster ophthalmicus)
  • Rasa nyeri yang terasa seperti ditusuk jarum
  • Luka lepuh akan terbuka, mengeluarkan cairan, dan mengering. Biasanya berlangsung selama 5 hari. Ruam dapat hilang sepenuhnya setelah 2-4 minggu

Herpes zoster sering kali salah diagnosis menjadi penyakit lain yang memiliki gejala mirip. Ruam atau luka lepuh sering disangka sebagai infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simplex atau impetigo.

Diagnosis Herpes Zoster

Diagnosis herpes zoster dapat ditegakkan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Dokter biasanya dapat langsung mengidentifikasi penyakit herpes zoster saat melihat lokasi dan bentuk ruam. 

Apabila diagnosis masih belum bisa dipastikan, dokter akan melakukan tes Tzanck. Pada tes ini, dokter akan mengambil sampel kulit ruam atau sampel cairan untuk dianalisis di laboratorium.

Cacar air dan herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus. Ini artinya, penyakit kulit herpes zoster dapat sembuh dengan sendirinya.

Obat-obatan yang diberikan hanya ditujukan untuk meringankan gejala-gejala yang timbul serta mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Apabila terdapat nyeri berkepanjangan, seperti nyeri lebih dari 1 bulan usai ruam kering, dokter biasanya akan melakukan diagnosis neuralgia pasca-herpes (postherpetic neuralgia)

Komplikasi herpes zoster paling umum ini dapat menyebabkan nyeri sampai hitungan bulan atau bahkan tahun.

Artikel lainnya: Mengenal Vaksin Herpes Zoster, Cara Kerja dan Efek Sampingnya

Pengobatan Herpes Zoster

Tidak ada pengobatan atau perawatan khusus untuk menangani penyakit herpes zoster. Penanganan yang dilakukan adalah untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi. 

1. Perawatan di Rumah

Lakukan juga beberapa perawatan ini di rumah sebagai bagian dari cara mengobati herpes zoster:

  • Menjaga kebersihan ruam dan luka lepuh, ini akan mengurangi risiko ruam terkena infeksi bakteri
  • Menggunakan pakaian longgar dan terbuat dari bahan yang lembut
  • Tidak menggunakan obat oles antibiotik karena akan memperlambat proses penyembuhan

Apabila ruam terasa gatal, kamu dapat menggunakan losion kalamin untuk meredakannya. Jika cairan dalam ruam merembes ke luar, kompres dingin selama 20 menit beberapa kali sehari agar kebersihannya tetap terjaga.

Umumnya, herpes zoster ditangani oleh dokter umum atau dokter spesialis kulit.

Selain itu, obat yang sering digunakan untuk herpes zoster meliputi:

2. Obat Antivirus

Dokter akan memberikan obat antivirus untuk mengurangi tingkat keparahannya penyakit, mempercepat penyembuhan, dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi.

Obat antiviral paling efektif jika diminum dalam waktu 72 jam setelah ruam pertama kali timbul. Umumnya, obat antivirus dikonsumsi selama 2-7 hari.

Contoh obat herpes zoster yang umum diberikan adalah acyclovir dan valacyclovir

Pengobatan herpes zoster dengan antivirus diutamakan untuk penderita berusia di atas 50 tahun atau memiliki kondisi berikut:

  • Gejala herpes zoster berefek pada salah satu mata
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh rendah
  • Rasa nyeri tingkat sedang atau parah
  • Ruam tingkat sedang atau parah

Jika penderita virus herpes zoster sedang hamil, dokter akan mendiskusikan kasusnya dengan dokter spesialis kandungan untuk mempertimbangkan pengobatan yang paling tepat. Herpes zoster tidak berpengaruh pada janin yang sedang dikandung.

Obat-obatan antiviral umumnya tidak diperlukan bagi penderita anak-anak. Sebab, biasanya gejala yang dialami anak-anak lebih ringan ketimbang penderita dewasa.

Selain itu, faktor risiko anak terkena komplikasi herpes zoster juga kecil. Meski demikian, jika penderita anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, dokter akan merujuknya untuk mendapat pengobatan antiviral dalam bentuk cairan infus.

3. Obat Antinyeri

Untuk meredakan gejala nyeri herpes zoster, dokter mungkin akan menganjurkan obat pereda nyeri, seperti acetaminophen atau ibuprofen.

Pencegahan Herpes Zoster

Untuk mengurangi risiko terpapar penyakit ini, sangat disarankan untuk melakukan vaksinasi herpes zoster. Terlebih kamu yang berusia di atas 50 tahun. 

Vaksin memang tidak dapat mencegah terkena herpes zoster sepenuhnya. Namun, hal ini setidaknya dapat mengurangi tingkat keparahan gejala dan mempercepat proses penyembuhan.

Herpes Zoster bukanlah penyakit yang menular. Namun, varisela zoster yang menyebabkan herpes, adalah virus yang mudah menular. 

Artikel lainnya: 6 Cara Menghilangkan Bekas Cacar Api yang Menghitam

Kamu bisa melakukan beberapa hal ini untuk menghindari penyebaran virus varisela:

  • Jangan menggaruk ruam-ruam kulit
  • Rutin melakukan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun
  • Tutup kulit yang melepuh atau berair agar tidak mengkontaminasi lingkungan sekitar
  • Hindari kontak langsung dengan orang-orang yang belum pernah terkena varisela sebelumnya atau kelompok risiko tinggi seperti, lansia, ibu hamil, atau orang dengan imunitas rendah.

Komplikasi Herpes Zoster

Penyakit herpes zoster dapat menimbulkan terjadinya komplikasi. Risiko terjadinya komplikasi akan meningkat pada penderita yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah atau sudah berusia lanjut.

Beberapa komplikasi serius penyakit herpes zoster meliputi:

1. Postherpetic Neuralgia

Neuralgia pasca-herpes umumnya terjadi pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Neuralgia ditandai dengan rasa nyeri yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah ruam sembuh.

2. Infeksi Bakteri pada Ruam

Infeksi bakteri bisa terjadi kalau kebersihan ruam tidak dijaga. Hindari menggaruk ruam agar tidak terjadi infeksi bakteri.

Ruam herpes zoster bisa menyebabkan kerusakan pigmen kulit yang akan terlihat seperti bekas luka.

3. Gangguan Penglihatan

Mata dapat mengalami peradangan, nyeri, atau bahkan kebutaan sebagai akibat dari herpes zoster yang terjadi di mata.

4. Sindrom Ramsay-Hunt

Sindrom Ramsay-Hunt ditandai dengan paralisis saraf wajah sehingga penderita terlihat seperti menyeringai.

Gejala lain yang dapat ditimbulkan adalah adalah telinga berdenging, pusing berputar, sakit telinga hingga gangguan pendengaran.

Kapan Harus ke Dokter? 

Segera periksakan diri ke dokter jika timbul ciri-ciri herpes zoster seperti yang disebutkan di atas. 

Diskusikan masalah kesehatanmu dengan dokter kulit di layanan Tanya Dokter dan Temu Dokter untuk buat janji dengan dokter kulit. Yuk, konsultasi sekarang, jangan tunggu sakit! Ingat, #JagaSehatmu ya.

[HNS/NM]

Tanya Dokter