Sukses

Pengertian

Aktivitas bernapas pada tubuh manusia melibatkan dua proses, yaitu peredaran oksigen dari paru ke darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan pengambilan karbondioksida sebagai gas buang dari darah ke paru untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh. Gangguan dalam salah satu proses ini berpotensi menyebabkan gagal napas.

Terdapat dua jenis gagal napas, yaitu gagal napas tipe 1 dan gagal napas tipe 2. Tulisan ini akan membahas gagal napas tipe 2. Pada gagal napas tipe 2 kadar oksigen darah terdeteksi di bawah nilai normal dan kadar karbondioksida terdeteksi jauh di atas nilai normal.

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis gagal napas tipe 2 diperlukan wawancara medis mendetail, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Pada wawancara medis akan dapat diketahui bila terdapat riwayat penyakit tertentu yang dapat menyebabkan komplikasi gagal napas tipe 2. Penyakit yang cukup sering menyebabkan gagal napas tipe 2 adalah penyakit paru obstruktif kronik.

Sementara itu pada pemeriksaan fisik, umumnya penderita dengan gagal napas tipe 2 tampak pucat, mengalami sesak dengan frekuensi napas yang tinggi. Kemudian pada pemerikaan dengan stetoskop akan ditemukan adanya suara napas tambahan.

Pada pemeriksaan penunjang dengan pulse oxymetri, di ujung jari didapatkan kadar oksigen yang rendah di bawah 60 mm Hg dan kadar karbondioksida tinggi >50 mm Hg.

Penyebab

Penyebab paling sering gagal napas tipe 2 adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan asma. Penyebab lain yang lebih jarang di antaranya adalah bronkitis kronik, kelainan bentuk dada, dan kelemahan otot pernapasan pada sindrom Guillain-Barre. Selain itu penurunan fungsi pusat pernapasan di otak, misalnya karena overdosis obat terlarang, juga bisa menyebabkan gagal napas tipe 2.

Gejala

Gejala yang umumnya terlihat pada pasien dengan gagal napas tipe 2 adalah sebagai berikut:

  • Sesak napas dan pucat. Sesak napas terjadi akibat rendahnya kadar oksigen dalam darah. Akibatnya kulit dan bibir serta kuku akan terlihat lebih pucat.
  • Napas cepat. Peningkatan frekuensi napas terjadi sebagai usaha tubuh dalam mengeluarkan karbondioksida yang berlebih di dalam darah.
  • Penurunan kesadaran. Bila tidak segera tertangani, rendahnya kadar oksigen akan membuat otak tidak dapat bekerja baik. Otak sendiri merupakan pusat kesadaran dan pada akhirnya pusat kesadaran ini yang akan dikorbankan.
  • Irama jantung tidak teratur (aritmia). Kekurangan oksigen pada otak akan menyebabkan penurunan kesadaran, sedangkan pada jantung mengakibatkan ketidakteraturan irama jantung.

Pengobatan

Pemberian oksigen yang cukup merupakan modalitas utama dalam pengobatan gagal napas tipe 2. Metode yang digunakan dapat bersifat non-invasif seperti masker oksigen. Masker oksigen yang digunakan dalam gagal napas tipe 2 adalah masker yang non-rebreathing, sehingga oksigen yang dikeluarkan tidak akan terhirup kembali.

Jika metode non-invasif tidak berhasil, akan dilakukan terapi invasif seperti pemasangan endotracheal tube (ETT) atau tracheostomy. ETT adalah selang yang dipasang melalui mulut dan berujung ke pangkal paru. Alat ini kemudian akan dihubungkan ke alat bantu napas atau ventilator. Sedangkan tracheostomy merupakan tindakan pelubangan leher untuk kemudian dipasangkan selang yang masuk ke trakea.

Komplikasi:

Rendahnya kadar oksigen dan tingginya kadar karbondioksida pada gagal napas tipe 2 akan membuat kerja otak menjadi menurun. Padahal otak adalah pusat segala kerja organ tubuh, termasuk pusat kesadaran.

Oleh karena itu, komplikasi yang mudah dilihat di awal adalah hilangnya kesadaran. Rendahnya kadar oksigen juga berdampak pada jantung berupa gangguan irama jantung atau aritmia. Bila tidak juga tertangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan kerja berbagai organ tubuh (multi organ failure) dan berujung pada kematian.

Pencegahan

Pencegahan gagal napas tipe 2 dapat dilakukan dengan mengobati penyakit yang mendasarinya. Pada penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) misalnya, pemberian pengobatan adekuat perlu dilakukan untuk mencegah serangan sesak datang kembali.

Begitu pula dengan penderita asma. Menghindari pencetus asma dan pemberian obat-obatan pengontrol serangan adalah kunci agar serangan asma tidak muncul lagi dan menghindari risiko terjadinya gagal napas tipe 2.