Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Medfact: Vaksin Sputnik Tingkatkan Risiko HIV pada Pria?

Medfact: Vaksin Sputnik Tingkatkan Risiko HIV pada Pria?

Beberapa negara di Afrika urung menggunakan vaksin Sputnik karena disebut-sebut meningkatkan risiko infeksi HIV pada pria. Ketahui faktanya di sini.

Kementerian Kesehatan Namibia secara resmi menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V atau Gam-COVID-Vac, pada Sabtu (23/10) lalu.

Keputusan tersebut dirilis hanya beberapa hari usai South African Health Products Regulatory Authority (SAHPRA) mengumumkan temuan mereka soal dugaan efek samping vaksin Sputnik.

Otoritas SAHPRA mengatakan vaksin Sputnik dapat meningkatkan risiko infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). 

Dugaan itu didasari beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa kandungan vektor adenovirus tipe 5 (Ad5) di dalam vaksin Sputnik dapat meningkatkan risiko infeksi HIV yang melemahkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi.

Artikel Lainnya: Medfact: Vaksin COVID-19 Picu Mutasi dan Kematian

1 dari 3 halaman

Kontroversi Penelitian Vaksin Sputnik Picu HIV

Mengutip Pharmaceutical Technology, SAHPRA menyebutkan bahwa vektor Ad5 dalam Gam-COVID-Vac dapat memberikan kode pembentukan protein HIV, seperti gag, pol, dan nef pada pria.

Akibatnya, pria yang disuntikkan vaksin Sputnik disebut-sebut lebih berisiko terpapar HIV. Dugaan ini membuat SAHPRA batal menerbitkan izin penggunaan darurat vaksin Sputnik. 

SAHPRA sendiri masih melakukan riset lanjutan soal tingkat keamanan Gam-COVID-Vac. 

Sementara itu, pemerintah Namibia masih menangguhkan penggunaan vaksin Sputnik, hingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis EUL (emergency use of listing) untuk vaksin tersebut.

2 dari 3 halaman

Belum Ada Bukti Kuat

Menanggapi hasil temuan, Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology, selaku pengembang vaksin Sputnik, menilai dugaan vektor Ad5 dalam Gam-COVID-Vac sebagai faktor risiko HIV tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.

Otoritas Gamaleya mengatakan vaksin Sputnik V masih menjadi salah satu vaksin teraman dan paling efisien dalam mencegah infeksi virus corona. 

Berdasarkan hasil uji klinis ketiga yang dilakukan di Rusia, vaksin Sputnik disebut-sebut memiliki tingkat efikasi (persentase penurunan penyakit pada kelompok orang yang divaksinasi) sebesar 91, 6 persen.

“Lebih dari 250 uji klinis dan 75 hasil riset yang dipublikasikan secara internasional telah mengonfirmasi keamanan vaksin dan obat-obatan yang menggunakan vektor adenovirus pada manusia,” kata perwakilan Gamaleya dikutip dari Reuters.

Artikel Lainnya: Medfact: Vaksin COVID-19 Picu Limfositosis Mematikan?

Disampaikan dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, adenovirus sendiri merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi saluran napas, pencernaan, hingga mata manusia. 

“Adenovirus adalah tipe virus yang berukuran sedang (dalam konteks virus), tidak memiliki envelope, dengan DNA untai ganda. Tidak sedikit jenis adenovirus yang bisa menyebabkan berbagai penyakit mulai dari infeksi saluran cerna hingga infeksi mata,” katanya.

Hingga hari ini, setidaknya terdapat puluhan jenis adenovirus yang telah berhasil diidentifikasi, termasuk adenovirus tipe 5 (Ad5) dan Adenovirus tipe 26 (Ad26). 

Keduanya direkayasa sedemikian rupa, digabungkan, serta digunakan sebagai vektor virus dalam vaksin Sputnik. 

“Adenovirus tipe 5 merupakan salah satu penyebab umum flu ringan. Tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa Ad5 meningkatkan risiko infeksi HIV pada manusia,” papar perwakilan Gamaleya.

“Berdasarkan 6 studi klinis yang melibatkan 7.092 peserta, vaksin vektor Ad5 juga tidak menyebabkan peningkatan risiko infeksi HIV-1,” lanjut pernyataan tersebut.

Menukil jurnal Nature, peneliti dari Gamaleya menggunakan gabungan protein Ad5 dan Ad26 yang telah dimodifikasi di dalam vaksin Sputnik.

Penggabungan ini disebut-sebut bertujuan untuk meningkatkan tingkat kemanjuran vaksin dalam melawan infeksi SARS-CoV-2.

Artikel Lainnya: Medfact: Vaksin COVID-19 Bisa Bikin Jadi Gay?

Hasil rekayasa protein adenovirus memungkinkan keduanya membentuk protein lonjakan yang menyerupai protein spike pada virus corona. Cara ini bertujuan merangsang tubuh menciptakan antibodi untuk melawan infeksi COVID-19 di kemudian hari. 

Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada riset ilmiah yang memiliki bukti kuat bahwa vaksin Sputnik dapat meningkatkan risiko infeksi HIV pada pria.

Pastikan Anda selalu menerima informasi dari sumber tepercaya dan terverifikasi secara ilmiah, agar tidak terjebak kabar simpang siur seputar vaksin COVID-19. 

Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar vaksinasi COVID-19, konsultasikan langsung dengan dokter via Live Chat Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar