Sukses

Sembuh dari COVID-19 Muncul Masalah di Dubur, Mengapa?

Pria di Jepang melaporkan ketidaknyamanan di anus setelah sembuh dari COVID-19. Apa penyakit di anus yang terjadi padanya? Ini penjelasannya.

Virus corona tidak hanya dikenal karena berbagai gejalanya selama infeksi. Setelah sembuh pun, ada risiko keluhan kesehatan yang bisa mengintai yaitu long covid.

Gejala long covid dapat berbeda-beda pada setiap orang. Cirinya mulai dari batuk terus-menerus, kelelahan, hingga kehilangan indra penciuman dan rasa yang menetap lama.

Lalu, baru-baru ini juga dilaporkan ada penyakit misterius yang terjadi setelah sembuh dari COVID-19.

Penyakit ini dikenal sebagai restless anal syndrome atau sindrom anal gelisah. Seperti apa penyakit di anus tersebut?

 

1 dari 4 halaman

Restless Anal Syndrome, Penyakit Apa Ini?

Penyakit restless anal syndrome yang terjadi usai pulih dari COVID-19 pertama kali terjadi pada pria berusia 77 tahun di Jepang. Ia awalnya menderita infeksi coronavirus dan dirawat di rumah sakit dengan gejala ringan.

Saat terinfeksi virus corona, pria tersebut mengalami gejala sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Ia juga menerima perawatan untuk pneumonia ringan setelah mengalami demam ringan selama sepuluh hari.

Artikel Lainnya: Aturan Vaksinasi untuk Penyintas COVID-19 Gejala Ringan

Setelah menjalani rawat inap selama 21 hari, pria itu dipulangkan setelah fungsi pernapasannya membaik dan memiliki hasil tes negatif COVID-19.

Namun, setelah berminggu-minggu sembuh dari covid, ia mulai mengeluhkan rasa tidak nyaman di dubur bagian dalam. Ketidaknyamanan dilaporkan sekitar 10 cm dari daerah perineum (lokasi antara skrotum dan anus).

Selain rasa tidak nyaman pada area anus, pria tersebut juga menderita komplikasi setelah COVID-19 lainnya, seperti kegelisahan, kecemasan, dan insomnia.

Untuk mengetahui penyebabnya, dokter menyarankan untuk menjalani serangkaian tes termasuk kolonoskopi.

Namun, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan faktor penyebab rasa sakit yang serius di bagian anus, selain wasir.

Tidak ditemukan pula tanda-tanda penyakit seperti diabetes, anemia defisiensi besi, dan disfungsi sumsum tulang belakang. Dokter juga tidak menemukan kelainan otak atau gangguan kandung kemih.

Setelah mengesampingkan semua kemungkinan penyebab lainnya, para dokter mendiagnosis pria Jepang tersebut mengalami restless anal syndrome.

Menurut dr. Arina Heidyana, memang belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab restless anal syndrome pascasembuh dari COVID-19. Hal ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mencari sebab-akibatnya.

“Ini masih merupakan kejadian yang baru. Kasus yang dilaporkan juga baru ada satu.   Penyebab pastinya belum diketahui. Jadi, dokter menyimpulkan mungkin saja restless anal syndrome ini dampak dari COVID-19,” jelas dr. Arina.

Artikel Lainnya: Mengenal Varian COVID-19 R.1, Apa Lebih Berbahaya?

2 dari 4 halaman

Gejala Restless Anal Syndrome

Para dokter di Rumah Sakit Universitas Tokyo menemukan, restless anal syndrome memiliki kemiripan dengan restless leg syndrome (RLS) dalam hal gejala.

Menurut para ahli kesehatan, RLS adalah gangguan neurologis dan sensorimotor umum yang disebabkan oleh disfungsi sistem saraf pusat.

Ciri RLS yang paling umum adalah keinginan tak terkendali untuk menggerakkan kaki. Kondisi ini umumnya memburuk saat istirahat di malam hari, namun membaik ketika berolahraga.

Pada restless anal syndrome, yang membedakan hanya organnya ketika gangguan terjadi pada anus.

Menurut dokter, lelaki tua itu merasakan dorongan untuk buang air besar. Namun, buang air besar tidak mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan pada anus. Dilaporkan gejalanya memburuk di malam hari dan saat istirahat.

Penyakit RLS sendiri tidak mengancam jiwa atau menyebabkan kondisi medis serius lebih lanjut.

Namun, untuk restless anal syndrome, dokter masih perlu melakukan penelitian untuk melihat dampak jangka panjang dari penyakit ini.

Artikel Lainnya: Skenario Keluar dari Jerat Pandemi

3 dari 4 halaman

Bagaimana Pengobatan Restless Anal Syndrome?

Dokter Arina menjelaskan, masih belum diketahui pasti perawatan apa yang tepat untuk menyembuhkan restless anal syndrome.

Pasalnya, penyakit ini masih tergolong baru dan jarang terjadi, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Namun, melansir Times of India, studi menemukan ketidaknyamanan anal berkurang dengan obat Clonazepam yang biasa digunakan pada kondisi kejang. Olahraga contohnya berlari dan berjalan juga dapat memberi kenyamanan pada area dubur.

Dokter Arina menyarankan, jika Anda mengalami gejala yang tidak biasanya setelah sembuh dari COVID-19, segera periksakan diri ke dokter untuk dicaritahu penyebabnya.

Konsultasi dengan dokter dapat dengan mudah Anda lakukan melalui layanan LiveChat dokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar