Sukses

Anak Sudah Vaksin, tapi Kenapa Masih Kena Campak?

Anak sudah divaksin campak sehingga Anda merasa aman? Eits, tunggu dulu. Tidak selamanya begitu! Terkadang anak masih bisa tertular, kok, bisa?

Mungkin Anda sudah tak asing lagi dengan vaksin campak. Vaksin ini dibuat dari virus rubella, dari famili paramyxovirus, yang sudah dilemahkan. 

Pemberian vaksinasi campak akan memicu tubuh memproduksi antibodi untuk melawan virus apabila sewaktu-waktu menyerang.

Saat ini, ada dua jenis vaksin yang dipakai untuk mencegah terinfeksi virus penyebab campak, yakni MR dan MMR. 

Kalau vaksin MR dapat mencegah campak dan rubella, MMR bisa untuk campak, rubella, sekaligus gondongan.

Namun, tak jarang anak kena campak padahal sudah vaksin. Apa penyebabnya? Simak jawaban dokter di sini.

1 dari 3 halaman

Bisakah Anak Kena Campak padahal Sudah Vaksin?

Secara umum, efek perlindungan pasca-vaksinasi memang tidak mencapai 100 persen, termasuk campak. 

Meski demikian, tak berarti vaksinasi campak sama sekali tidak bermanfaat dalam pencegahan penyakit tersebut.

Artikel Lainnya: Apa Beda Campak pada Anak dan Orang Dewasa?

Hal senada diungkap dr. Sara Elise Wijono, M. Res. “Kalau sudah imunisasi (campak) memang masih ada kemungkinan terkena. Namun, gejalanya akan lebih ringan dan juga akan melindungi anak dari komplikasi penyakit lainnya,” kata dia. 

Faktor lain penyebab campak pada anak meski sudah vaksin adalah daya tahan tubuh. Saat daya tahan tubuh menurun dan orang di sekitarnya sedang ada yang terpapar campak, anak lebih berisiko tertular.

Akan tetapi, Anda juga tak perlu khawatir berlebihan. Selama anak sudah divaksinasi campak, proses penyembuhan akan lebih cepat daripada yang tidak. Komplikasi parah dan berat pun dapat dicegah.

Sebaliknya, jika si kecil sedang menderita campak, hindari bertemu banyak orang hingga sembuh. 

Beberapa keluhan khas campak yang perlu dikenali antara lain demam lebih dari 38 derajat Celsius selama 3 hari atau lebih, batuk, pilek, mata merah atau berair.

Setelah beberapa hari, barulah muncul ruam merah khas campak yang terkadang terasa gatal di sekujur tubuh. 

Dokter Sara Elise menyarankan untuk langsung membawa si kecil ke dokter saat mengalami gejala campak di atas.

“Hal ini untuk memastikan apakah memang karena campak atau bukan. Obat yang dikonsumsi bisa simtomatik saja. Namun, sebaiknya diberikan tambahan vitamin A. Penting juga untuk mengawasi jika ada komplikasi lainnya,” jelas dr. Sara. 

Penting juga diingat untuk langsung membawa anak ke dokter jika mengalami kondisi berikut: 

  • demam dengan suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat Celsius,
  • mengalami nyeri dada atau kesulitan bernapas,
  • batuk darah,
  • merasa kebingungan dan mengantuk, dan
  • kejang-kejang.

Artikel Lainnya: Ini Pentingnya Vitamin A untuk Anak yang Kena Campak

2 dari 3 halaman

Jangan Lewatkan Jadwal Imunisasi Campak!

Jadi, jangan heran lagi kalau anak kena campak padahal sudah vaksin. Imunisasi campak (MR/MMR) memang tidak menjadi anak terbebas dari ancaman infeksi penyakit menular tersebut. 

Namun, vaksin campak terbukti efektif mengurangi keparahan gejala saat anak sakit. Itu sebabnya, jangan sampai lengah dan terlewat memberikan vaksinasi campak untuk anak Anda.

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2020, bayi berusia 9 bulan diberikan imunisasi campak rubella (MR). Bila sampai umur 12 bulan anak belum mendapat vaksin MR, dapat diberikan MMR.

Vaksinasi booster (MR/MMR) diberikan lagi ketika bayi berusia 15–18 bulan. Imunisasi MR (atau MMR) juga diberikan saat anak berumur 5-7 tahun atau kelas 1 SD untuk memberikan perlindungan jangka panjang.

Catat ya, Bun, jadwal vaksinasi campak untuk anak di atas. Bila setelah vaksinasi muncul keluhan tertentu atau alergi, konsultasikan lagi kepada dokter.

Dapatkan informasi lainnya seputar imunisasi untuk bayi dan anak dengan men-download aplikasi Klikdokter.

(HNS/AYU)

1 Komentar