Sukses

Yang Terjadi pada Tubuh saat Keracunan Makanan

Keracunan makanan terkadang datang tanpa disadari. Gejala sakit perut, diare, dan mual pun dialami. Simak efek racun pada tubuh dalam penjelasan ini.

Keracunan makanan dapat terjadi tanpa disadari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi kuman, seperti bakteri, virus; atau senyawa kimia tertentu yang sengaja ditambahkan.

Gejala dan efek racun pada tubuh dapat muncul segera atau berselang beberapa lama. Beberapa di antaranya seperti, mual, muntah, pusing, dan juga diare. Dalam tahap yang berat, bahaya racun pada tubuh dapat menyebabkan kematian.

“Gejala yang timbul saat Anda mengalami keracunan makanan sebenarnya adalah manifestasi dari respons sistem imun di saluran cerna dalam menghadapi kuman atau zat asing tersebut,” jelas dr. Astrid Wulan Kusumoastuti.

Artikel lainnya: Benarkah Air Kelapa Bisa Sembuhkan Keracunan Makanan?

1 dari 3 halaman

Apa yang Terjadi di Tubuh Saat Keracunan?

Makanan beracun umumnya tidak terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh. Melansir dari sciencefocus, beberapa bakteri atau enterotoksin (racun usus) dapat bertahan dalam kondisi perut yang sehat. Terkadang, efek racun baru terjadi 72 jam setelah konsumsi.

Bakteri berkembang biak di dalam tubuh dan menghasilkan racun. Kemudian bakteri menyerang dan menembus lapisan usus, serta memicu respons kekebalan yang kuat. Dari sanalah tanda-tanda keracunan akan dimulai.

Sel kekebalan melepaskan protein pemberi sinyal yang disebut sitokin pro-inflamasi. Protein tersebut dapat menyebabkan pembengkakan usus, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan di bagian perut.

Dinding usus dirancang untuk menyerap nutrisi dan air dari makanan. Racun bakteri dapat menyebabkan pori-pori di dinding usus terbuka. Akibatnya, air dan molekul lain kemungkinan masuk.

Kelebihan cairan dan elektrolit dalam usus dapat menyebabkan diare, yang bermanfaat untuk membuang bakteri dan racun. Sayangnya, mekanisme tersebut juga bisa menyebabkan Anda dehidrasi.

Beberapa bakteri tidak menyebabkan muntah. Namun, bakteri staphylococcus aureus enterotoxins dapat memicu kondisi tersebut.

Penelitian menunjukkan, bakteri tersebut dapat merangsang saraf vagus yang mengirimkan sinyal ke pusat otak untuk merespons tubuh dalam membuang racun dengan cara muntah.

Artikel lainnya: Waspada Keracunan Tetrodotoksin akibat Makan Ikan Buntal

2 dari 3 halaman

Respons Tubuh saat Keracunan

Saat seseorang tidak sengaja menelan atau meminum racun, tubuh akan merespons dengan memberikan tanda-tanda yang tidak biasa. Efek racun pada tubuh akan memicu beberapa ketidaknyamanan. 

Makanan terkontaminasi yang masuk ke dalam sistem pencernaan akan melalui lambung. Namun, lambung akan merespons dengan menolak makanan tersebut dan mengeluarkannya kembali lewat muntahan. 

“Gejala klinis (saat tubuh keracunan) bisa muntah, sakit perut hebat, diare, hingga kemudian komplikasi lanjutan seperti dehidrasi akibat diare berlebihan. Semua ini adalah usaha tubuh untuk mengeluarkan kuman tersebut dan membersihkan saluran cerna,” jelas dr. Astrid.

Dalam kasus lain, keracunan bahan kimia korosif akan mengiritasi organ tubuh seperti mulut, tenggorokan atau bagian dalam usus. Akibatnya, orang yang bersangkutan akan mengalami sakit perut, muntah dan diare, muntah, serta feses berdarah.

Tenggorokan yang berinteraksi dengan bahan kimia tersebut juga akan terbakar. Tenggorokan  pun membengkak dengan cepat. Orang yang mengalaminya akan terancam tidak dapat bernapas.

Jangan sepelekan efek bahaya racun pada tubuh tersebut. Saat gejala memberat hingga tubuh lemas dan ada sensasi terbakar di tenggorokan atau perut, Anda harus segera pergi ke fasilitas kesehatan.

Kasus keracunan yang cepat ditangani menghindarkan Anda dari komplikasi atau bahkan risiko kematian. Jika Anda masih memiliki pertanyaan lain seputar efek racun pada tubuh lainnya, manfaatkan layanan Live Chat di aplikasi Klikdokter.

[HNS/JKT]

2 Komentar