Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Ayah yang Baik Belum Tentu Suami yang Baik? Ini Kata Psikolog!

Ayah yang Baik Belum Tentu Suami yang Baik? Ini Kata Psikolog!

Ayah yang bertanggung jawab ternyata belum tentu jadi suami yang ideal. Kenapa hal tersebut bisa terjadi dan bagaimana cara menghadapinya?

Setiap anak tentu ingin punya ayah yang baik. Begitu pula dengan seorang istri, pasti dia ingin memiliki suami yang baik. Sayangnya, dua kondisi ideal tersebut kerap tak bisa didapatkan sekaligus.

Pada kebanyakan kasus, seorang pria bisa jadi ayah yang bertanggung jawab, tapi hubungan dengan istri sendiri tidak harmonis! Dari situ dapat terlihat perbedaan suami dan ayah. Suami lebih berkaitan dengan istri dengan ayah lebih berkaitan dengan anak. 

Hubungan yang dijalin ketika masih pacaran dan menikah bisa berbeda jauh. Yang dulunya sangat romantis dan rela melakukan apa saja, setelah menikah pasangan malah berubah 180 derajat.

Jika masih pacaran, mungkin lebih mudah diakhiri. Masalahnya, kini sudah ada anak-anak. Segala keputusan yang dipilih pasti akan berdampak pada perkembangannya. 

1 dari 4 halaman

Bisa Jadi Ayah yang Baik, Kenapa Tak Bisa Jadi Suami yang Baik Juga?

Kendati sebagai istri sering mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari suami, pria yang Anda nikahi itu masih bertanggung jawab terhadap anak-anak. 

Dia merawat, menghabiskan banyak waktu bersama anak, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, serta mengajak anak bermain dan berolahraga.

Di sisi lain, saat dia bersama Anda, suami justru dingin, egois, ogah-ogahan, bahkan kasar. Mau cerita ke teman, tetapi ada kemungkinan teman tidak percaya kalau dia seperti itu. Ya, karena biasanya, mereka cuma melihat perilaku pasangan Anda saat berperan sebagai ayah.

Artikel lainnya: 7 Cara Menjadi Ayah yang Hebat

Kalau baik ke anak, pasti baik ke istri, begitu pikir mereka. Padahal, belum tentu begitu! Lantas, apa yang membuat seorang pria bisa menjadi seorang ayah yang baik, tetapi tidak bisa menjadi suami yang baik?

Menanggapi pertanyaan tersebut, begini penjelasan Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog. Menurutnya, ada beragam faktor yang melatarbelakangi. Bisa dari faktor individu si pasangan, maupun faktor eksternal seperti konflik relasi suami istri. 

“Misalnya, kepribadian si individu impulsif atau sulit mengontrol diri dan terlalu sensitif. Dia pun lebih mudah terpancing emosi ketika berhadapan dengan orang dewasa, termasuk kepada istrinya,” jelasnya. 

Psikolog yang kerap disapa Ivon itu menambahkan, “Di sisi lain, meski dia begitu, dia bisa menjadi ayah yang baik bagi anak mereka.” 

“Kenapa? Karena memang ada sebuah tanggung jawab untuk terlibat dalam pengasuhan, terutama pada anak yang masih kecil. Dia pun tetap berupaya memberikan apa yang dibutuhkan anak,” Ivon menjelaskan.

Artikel lainnya: Ini Alasan Mengapa Pria Jadi Buncit Setelah Menikah

Selain itu, pasangan Anda juga pernah merasakan jadi anak-anak, sedangkan baru sekali ini dia menjadi ayah dan suami. Banyak yang belum dia mengerti ketika dia menjalankan dua peran sekaligus. Alhasil, ada satu yang “terkorbankan” di sini, yaitu peran suami. 

Kenapa peran suami yang dikorbankan? Karena sekali lagi, dia sudah pernah menjadi anak-anak. Dia tidak tahu bagaimana perasaan ibunya kala itu. 

Tapi yang pasti, suami Anda mungkin tahu betapa tidak enaknya jika diabaikan atau dijahati oleh orang tuanya sendiri. Karena itulah, dia tak ingin anaknya mengalami hal seperti itu dan berusaha menjalankan peran ayah dengan baik. 

Untuk faktor konflik relasi antara suami dan istri, pemicu perbedaan kasih sayang yang diberikan tentunya akan terlihat lebih jelas. Suami yang sedang bertengkar dengan istri biasanya akan lebih memilih untuk mencurahkan kasih sayang kepada buah hatinya. 

Lagi pula, mungkin dia juga berpikir bahwa anak tidak ada ada hubungannya dengan permasalahan yang sedang dialami. Jadi, perilakunya hanya berubah terhadap lawannya saja. 

Artikel lainnya: Suami Rentan Selingkuh saat Istri Hamil, Apa Penyebabnya?

2 dari 4 halaman

Apakah Perilaku Tersebut Bisa Dilihat sebelum Menikah?

Jika penyebabnya adalah kepribadian pasangan dan bukan karena masalah antara suami-istri, sebenarnya hal itu bisa dilihat dari awal pacaran. Psikolog Ivon pun membenarkan hal itu.

“Ya, kalau good father, itu biasanya baru bisa terlihat ketika dia memiliki anak. Kalau bad husband, bisa dilihat sebelum menikah. 

Hal itu bisa tampak dari sikap maupun kebiasaannya. Misalnya, bagaimana cara yang ditunjukkan ketika menghadapi konflik, terutama konflik dengan pasangannya.

Kalau caranya adalah menggunakan kekerasan verbal atau fisik, ada kecenderungan dia akan menerapkan hal yang sama ketika sudah menikah.”

Bukan tak mungkin seorang pria yang sering berlaku kasar kepada pasangannya turut melakukan hal serupa kepada anaknya. 

Artikel Lainnya: Istri Alami Postpartum Depression, Ini yang Bisa Dilakukan Suami

3 dari 4 halaman

Punya Bad Husband but Good Father, Pilih Cerai atau Tetap Utuh?

Tentunya pilihan akan dikembalikan kepada tiap individu. Ada yang memilih bercerai, tapi banyak juga yang memilih bertahan. 

Psikolog Ivon menyarankan, “Dalam kondisi seperti ini, alangkah baiknya bila suami dan istri sama-sama menyadari terlebih dahulu bahwa ada hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan dalam relasi suami-istri.” 

“Cerai bukanlah satu satunya solusi yang bisa ditetapkan dengan mudah. Perlu diingat bahwa ada berbagai dampak buruk perceraian bagi anak maupun orang tua,” tuturnya.

Mempertahankan relasi yang tidak harmonis juga berdampak buruk bagi anak dan orang tua. Oleh karena itu, langkah pertama yang sebaiknya dilakukan adalah bersama-sama menyadari dan menanganinya terlebih dahulu.

Sulit menanganinya berdua? Anda disarankan melakukan konseling pernikahan dengan psikolog.

Kini Anda sudah tahu kenapa ayah yang baik belum tentu suami yang baik. Bila masih ada pertanyaan seputar hubungan suami istri, keluarga, dan pola asuh anak, langsung saja konsultasikan kepada dan psikolog melalui fitur Live Chat 24 Jam

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar