Sukses

Ketahui Fakta dan Mitos soal Darah Kotor

Darah kotor sering diidentikkan dengan darah haid, penyebab jerawat, dan lainnya. Benarkah anggapan tersebut?

Kebanyakan orang menyebut darah haid adalah darah kotor. Berbagai masalah kulit seperti jerawat, bisul, dan alergi pun sering kali dianggap muncul karena adanya darah kotor di dalam tubuh. 

Selain itu, bila membahas soal terapi bekam, disebut dapat menyedot darah kotor sehingga tubuh menjadi lebih sehat. Faktanya, terapi bekam memang marak digemari masyarakat saat ini. 

Singkatnya, darah kotor disimpulkan menjadi “biang keladi” dalam sejumlah masalah. Meski begitu, apakah hal tersebut memang terbukti secara medis?

1 dari 3 halaman

Melihat Fakta Darah Kotor Menurut Medis

Dokter Atika menyebut, istilah darah kotor sebenarnya tidak dikenal dalam dunia medis. 

Kalau pun ada, hal itu adalah perbandingan jenis darah, yakni darah yang mengandung lebih banyak karbon dioksida (CO2) di pembuluh vena dan yang mengandung lebih banyak oksigen (O2) di pembuluh darah arteri.

“Jadi, pemakaian istilah darah kotor untuk menstruasi, penyebab jerawat, dan alergi, itu salah kaprah. Tidak ada jenis 'darah kotor' penyebab penyakit di dalam tubuh,” kata dr. Atika.

“Mungkin beberapa orang merasa menstruasi itu 'darah yang berbeda' karena warnanya yang cenderung lebih gelap. Itu mungkin saja terjadi, karena darah telah teroksidasi sehingga warnanya lebih gelap,” dr. Atika mengimbuhkan. 

Darah haid sendiri pada dasarnya tidak berbahaya. Darah tersebut berasal dari dinding rahim dan luruh setelah proses ovulasi. 

Warnanya pun bervariasi. Studi oleh American Academy of Obstetricians and Gynecologists menemukan, lebih dari 70 persen perempuan pernah mengalami warna darah haid yang berbeda-beda. 

Artikel Lainnya: Mengungkap Manfaat Sehat Terapi Bekam

Ada yang berwarna merah tua, cokelat, merah muda, kehitaman, dan lain sebagainya. 

Sementara itu, pada masalah jerawat, hal itu disebabkan oleh produksi minyak berlebih sehingga menyebabkan pori-pori kulit tersumbat. 

Untuk bisul, paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada kulit. 

Kalau alergi, umumnya terjadi karena adanya respons sistem kekebalan tubuh terhadap zat-zat asing. Respons yang terjadi juga tidak sama antar individu. 

Dengan demikian, asumsi mengenai darah kotor menjadi penyebab beberapa penyakit tidak terbukti secara medis. 

Artikel Lainnya: Membersihkan Rahim dengan Obat Herbal, Amankah?

2 dari 3 halaman

Fakta-Fakta Darah pada Tubuh

Di tengah kesalahpahaman mengenai darah kotor, beberapa fakta penting mengenai darah pun sering kali dikesampingkan. 

Darah sejatinya merupakan cairan penting yang memberikan kehidupan bagi seseorang. Darah mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. 

Di samping itu, darah nyatanya juga memiliki sejumlah fakta menarik, di antaranya:

  • Darah mengambil 7-8 persen dari total berat badan seseorang.
  • Darah yang beredar di dalam tubuh terdiri dari sekitar 55 persen plasma, 40 persen sel darah merah (eritrosit), 4 persen trombosit, dan 1 persen sel darah putih (leukosit).
  • Fungsi utama sel darah putih adalah melawan infeksi. Ada beberapa jenis sel darah putih. Masing-masing mempunyai perannya sendiri dalam melawan infeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit.
  • Golongan darah bervariasi di tiap wilayah. Misalnya, di Amerika Serikat golongan darah O positif adalah yang paling umum dan AB negatif yang paling jarang. Sementara di Jepang, golongan darah paling umum adalah A positif.
  • Paparan sinar matahari dapat menurunkan tekanan darah.

Itu dia penjelasan dokter soal mitos darah kotor. Jangan salah paham lagi, ya!

Bila ingin tanya dokter seputar mitos dan fakta kesehatan yang bikin penasaran, pakai LiveChat dari Klikdokter.  

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar