Sukses

Kenali, Sadari, dan Atasi Luka Inner Child

Inner child sedang ramai diperbincangkan. Katanya, saat inner child terluka, akan membawa dampak yang besar bagi kehidupan dewasa nanti.

Belakangan ini, inner child menjadi suatu istilah psikologi yang populer di masyarakat. Bahkan, boyband kenamaan dari Korea BTS sampai meluncurkan sebuah lagu berjudul inner child.

Dirangkum secara keseluruhan, liriknya menyimpulkan tentang pengalaman berat hidup seorang ketika masih kecil. Setelah menjadi dewasa, orang tersebut tetap hidup bersama dengan pengalaman masa kecilnya itu.

Secara tidak sadar, di dalam lirik tersebut digambarkan tentang bagaimana seseorang merefleksikan pengalaman dan keinginan masa kecilnya di kehidupan sekarang.

Lantas, apa, sih, yang dimaksud dengan inner child? Memangnya, ada hubungan apa masa dewasa dan masa kecil? Simak penjelasan lebih lanjut lewat pembahasan ini.

Apa itu Inner Child?

Dilansir dari Psychology Today, inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil, yang baik atau buruk, dan membentuk kepribadian Anda seperti sekarang ini.

Ikhsan Bella Persada M. Psi., Psikolog menjelaskan, meski tidak bisa dilihat secara kasat mata, tapi sejatinya inner child sudah menjadi bagian dari diri Anda.

Tak hanya itu, inner child ini ada di alam bawah sadar, yang mana akan memengaruhi cara bersikap Anda ketika merespons suatu masalah.

Contoh sederhana, ketika seseorang dikelilingi oleh sanak saudara atau teman-teman yang melindungi dan menyayanginya, ia bisa tumbuh sebagai pribadi penyayang serta suka bergaul dengan orang lain.

Lalu, ketika masa kecil seseorang dipenuhi dengan kekerasan dan pengabaian emosional dari orang sekitar, pengalaman ini akan menjadi inner child yang juga keluar di kemudian hari nanti.

Inner child ini dapat memengaruhi seseorang menjadi pribadi yang pemarah, tidak punya empati, dan bahkan cenderung melakukan kekerasan di kehidupan dewasanya.

Artikel Lainnya: 4 Dampak Trauma Masa Kecil pada Orang Dewasa

1 dari 3 halaman

Inner Child Bisa Terluka

Psikolog Ikhsan juga bercerita, inner child memang bisa terluka dan jika tidak diatasi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

Inner child yang buruk bisa jadi masalah, karena pengalaman menyakitkan yang didapatkan, seperti kekerasan selama masa kecil, mengalami pengabaian oleh orang tua, atau orang penting di sekitarnya. Kemudian, kurang mendapatkan kasih sayang, atau malah terlalu dikontrol oleh orangtua juga dapat melukai inner child-nya,” jelasnya.

Dilansir dari BetterHelp, berikut beberapa peristiwa yang dapat menyebabkan inner child seseorang terluka:

  • Kehilangan orang tua.
  • Pernah dilecehkan secara fisik.
  • Pernah diabaikan secara emosional.
  • Pernah mengalami pelecehan seksual.
  • Sakit parah.
  • Pernah ditindas.
  • Pernah mengalami bencana alam.
  • Pernah mengalami perpisahan dalam keluarga.
  • Pernah menjadi korban kekerasan.
  • Pernah mengalami penyalahgunaan zat dalam rumah tangga.
  • Ada anggota keluarganya yang dulu punya penyakit mental.
  • Pernah menjadi pengungsi.
  • Merasa terisolasi atau dijauhkan dari keluarganya.

Apabila kondisi tersebut tak ditangani dengan baik, perilaku destruktif dapat terjadi. Bahkan, dapat menghancurkan masa depan orang tersebut. Dampak yang terjadi antara lain sebagai berikut:

  • Mudah menyakiti dan melukai diri sendiri.
  • Perilaku yang merugikan diri sendiri.
  • Punya perilaku pasif-agresif, ketika marah atau kecewa cenderung dipendam.
  • Punya sikap kasar yang mengarah kepada kekerasan.

Artikel Lainnya: Kesehatan Mental Anak Sejak Dini Harus Diperhatikan, Ini Alasannya!

2 dari 3 halaman

Bisakah Luka Tersebut Disembuhkan?

Anda tidak bisa menyembuhkan luka inner child. Setelah pengalaman masa kecil Anda terluka atau rusak, itu sudah menjadi sejarah yang membentuk diri Anda,

Meskipun tidak bisa diubah, tetapi Anda bisa mengendalikan dan merespon baik luka inner child yang sewaktu-waktu bisa keluar.

“Kalau pada akhirnya ada sesuatu yang mengganggu kita, berarti luka yang kita alami dulu belum sembuh. Bisa diterapi, tapi sebenarnya diusahakan dari diri sendiri dulu juga bisa, kok,” kata Ikhsan.

Sebuah penelitian menyampaikan, menuliskan tentang rasa sakit yang dulu dialami sewaktu kecil bisa menjadi salah satu cara untuk meredakan luka inner child kita. Menulis juga membantu menyembuhkan emosi negatif yang mungkin kita rasakan.

Penelitian yang dilansir Psychology Today juga mengatakan, ketika tubuh menahan rasa sakit emosional atau fisik, dan bahkan ketika kita mencoba mengabaikan rasa sakit itu, hal tersebut akan tetap ada alias tidak pernah hilang.

Artikel Lainnya: Kiat Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

Psikolog Ikhsan punya tiga cara sederhana yang bisa dilakukan untuk meredakan dan menyikapi inner child yang terluka. Antara lain sebagai berikut:

  • Coba temukan dan salurkan emosi yang selama ini kita tekan dan pendam. Ketika sudah menemukan dan mengetahui apa yang membuat pengalaman masa kecil kita terluka, akui itu.

Salurkan emosi tersebut ke hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, ketika marah, coba tulis apa yang mengganggu perasaan Anda atau meditasi untuk meredakan emosi negatif.

  • Coba kenali kebutuhan-kebutuhan batin yang belum terpenuhi. Misalnya, saat Anda mengakui bahwa dulu Anda tidak mendapatkan kasih sayang atau pengabaian orang tua.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu.

Nantinya, Anda bisa dianjurkan beberapa terapi atau bahkan tips bagaimana memenuhi kebutuhan yang dulu tidak didapat dari batin Anda.

  • Belajar memerhatikan diri kita dengan melakukan self-care. Sederhana saja, ucapkan ke diri Anda, “Tenang, kamu nggak apa-apa, mengalami itu normal, kok,”

Bisa juga dengan mengucapkan, “Kamu berharga, kamu istimewa, diri kamu berharga,” sembari melakukan butterfly hug.

“Tapi mesti ingat, sih, baik diterapi maupun dicoba sendiri, itu prosesnya panjang. Apalagi yang sudah dewasa begini, sudah puluhan tahun kita tekan hal-hal tidak menyenangkan itu. Jadi, butuh proses agar bisa menyembuhkan luka inner child kita,” jelas Ikhsan.

Apabila masih ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut, sila ajukan konsultasi ke psikolog. Untuk lebih praktis, gunakan fitur LiveChat 24 jam di aplikasi  Klikdokter.

(AYU/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar