Sukses

Kiat Perawatan Stroke pada Lansia

Stroke sebagian besar terjadi pada lansia. Karena fungsi tubuh yang menurun, bagaimana merawat lansia yang terkena stroke?

Penyakit stroke umumnya sudah dikenal sebagai salah satu kondisi yang berbahaya. Stroke adalah kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. 

Sekilas tentang Penyakit Stroke

Menurut WHO, penyakit ini merupakan suatu keadaan di mana ditemukan tanda-tanda klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologik (gangguan saraf secara lokal maupun umum).

Gejala ini dapat memberat dan berlangsung lama selama 24 jam atau lebih. Bahkan, dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vascular (gangguan pembuluh darah).

Data dari WHO menyatakan, stroke merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia.

Sedangkan, menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, penderita stroke tertinggi pada usia di atas 75 tahun, dan posisi kedua di rentang usia 65-74 tahun.

Stroke terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Stroke iskemik: aliran darah ke otak terhenti karena adanya sumbatan atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak.
  1. Stroke hemoragik: pembuluh darah pecah dan menyebabkan terhambatnya aliran darah yang normal serta darah keluar ke jaringan otak.

Artikel Lainnya: Bisakah Stroke Menyerang Tanpa Gejala?

1 dari 4 halaman

Penyebab Stroke

Sebenarnya, stroke dapat terjadi pada golongan usia berapa pun. Namun, seiring dengan pertambahan usia, risiko stroke memang semakin meningkat.

Berdasarkan penyebabnya, stroke dapat disebabkan oleh faktor risiko yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Simak ulasannya di bawah ini.

1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah

  • Usia: risiko stroke meningkat seiring bertambahnya usia. Risiko semakin meningkat setelah usia 55 tahun. Usia rentan terkena serangan stroke adalah usia 65 tahun ke atas.
  • Jenis kelamin: stroke menyerang laki-laki 19 persen lebih banyak dibandingkan perempuan. Karena, perempuan di usia produktif masih memproduksi hormon estrogen yang mampu melindungi dinding pembuluh darah menjadi lebih baik.

2. Faktor Risiko yang Dapat Diubah

  • Stroke hemoragik: hipertensi, koagulopati (gangguan pembekuan darah), penggunaan obat pengencer darah, malformasi (gangguan pembuluh darah), vaskulitis, keganasan di otak.

Artikel Lainnya: 5 Fakta tentang Stroke yang Anda Harus Tahu

2 dari 4 halaman

Gejala Stroke

Tahukah Anda? Kementerian Kesehatan membuat alat penilaian sederhana untuk stroke dengan slogan “SEGERA KE RS”, yaitu:

  • Senyum tidak simetris.
  • Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba.
  • Bicarapelo atau tiba-tiba tidak dapat bicara atau tidak mengerti kata-kata.
  • Kebas atau baal.
  • Rabun.
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan gangguan fungsi keseimbangan.

Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami salah satu gejala di atas, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Ini karena dalam penanganan stroke terdapat golden period, yaitu maksimal 4,5 jam sesudah terjadi serangan.

Selama pasien tertangani dengan baik oleh dokter di masa golden period, maka tingkat kesembuhannya akan semakin meningkat.

3 dari 4 halaman

Perawatan Stroke untuk Pasien Lansia

Nah, berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat merawat pasien stroke di rumah:

  1. Dampingi Selalu

Perlakukan diri Anda seperti asisten pribadinya. Bila pasien belum mampu bergerak sendiri, bantulah ia saat ingin bergerak dan berikan penyangga bila diperlukan. Pendampingan yang baik akan membuat pasien selalu merasa nyaman.

  1. Ajak Pasien untuk Bergerak

Latih pasien dengan menggerakkan semua sendi di tubuhnya selama dua hari sekali secara rutin.

Ini dapat mencegah kekakuan pada bagian tubuh pasien yang lemah dan merangsang sel-sel otak agar dapat menjalankan fungsinya kembali dengan baik.

  1. Bantu Latihan Berjalan dan Menelan

Pasien stroke sering kali mengalami gangguan menelan. Jadi, bantu ia untuk duduk tegak saat makan.

Ketika pasien hendak menelan makanannya, beri arahan untuk memutar kepala ke sisi yang lemah, menekuk leher dan kepalanya. Hal ini bertujuan agar jalan napas pasien mudah menutup saat menelan makanan.

Jika terdapat kelemahan di anggota gerak bawah, maka Anda dapat melatihnya untuk berjalan dan menjaga keseimbangannya saat berdiri.

  1. Ajak Bicara

Agar pasien dapat kembali berkomunikasi dengan lancar, sering-seringlah mengajaknya mengobrol. Saat bicara, hadapkan wajah Anda ke pasien agar ia bisa melihat gerak bibir dan ekspresi wajah.

Usahakan bicara dengan tenang dan perlahan, serta dengan intonasi suara yang tidak tinggi.

  1. Latih Kesehatan Otaknya

Bantu pasien untuk melatih otaknya dengan memberi informasi hari, waktu, dan mengingat nama orang-orang di sekitarnya.

Dengan demikian, sel-sel di dalam otak akan bekerja aktif. Cara ini dapat membantu mempercepat proses pemulihan pasien.

  1. Hindari Memberikan Kasur Empuk

Tempat tidur atau kasur yang empuk dapat membuat otot-otot tubuh mengalami kelemahan kekuatan otot. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis kasur yang sebaiknya digunakan.

  1. Ciptakan Lingkungan yang Aman

Untuk menjaga keamanan pasien, jauhkan ia dari barang atau sesuatu yang berbahaya. Pastikan area kamar mandi menggunakan keset anti-licin agar pasien tidak mudah terpeleset.

  1. Menggunakan Popok Dewasa yang Tepat

Penderita stroke cenderung mengalami keterbatasan dalam bergerak, begitu juga aktivitas ke toilet.

Pasca stroke, otot kandung kemih melemah, sehingga proses pelepasan urine menjadi tidak dapat dikontrol atau inkontinensia urine.

Penggunaan popok dewasa merupakan solusi tepat bagi penderita stroke. Selain mempermudah caregiver dalam perawatan, dapat memberikan kenyamanan juga bagi pengguna.

Untuk penderita dengan kondisi berbaring, disarankan menggunakan popok dewasa tipe perekat.

Sedangkan, untuk penderita dengan kondisi yang masih bisa berjalan namun membutuhkan bantuan, lebih tepat menggunakan popok dewasa tipe celana dengan daya tampung maksimal.

Artikel Lainnya: Stroke di Usia Muda, Apa Penyebabnya?

Ini beberapa tips penggunaan popok dewasa bagi penderita stroke:

  • Jaga kebersihan diri pasien dengan rutin mengganti popok, yaitu pertama saat pagi, kedua saat siang, dan satu popok saat malam hari.
  • Karena aktivitas pasien di siang dan malam hari berbeda, begitu juga dengan penggunaan popoknya. Pastikan gunakan dua jenis popok yang berbeda, yaitu popok dewasa khusus penggunaan siang dan malam hari.

Rangkaian produk popok dewasa Confidence dapat menjadi solusi tepat sesuai kebutuhan pengguna.

Untuk kondisi pengguna yang masih aktif namun memiliki masalah berkemih, dapat menggunakan Confidence Adult Pants dengan beragam varian sesuai kebutuhan. Nah, untuk kondisi yang masih sangat aktif namun sering kali PISKIT (Pipis Sedikit), dapat menggunakan Confidence Adult Pads.

Bagi penderita stroke dengan kondisi berbaring, Confidence Classic Day & Night menjadi solusi tepat untuk kenyaman 24 jam.

Gunakan dua popok Confidence Classic Day di pagi dan siang hari, dengan daya tampung yang pas dan menyerap cepat sehingga permukaan cepat kering dan pengguna nyaman di siang hari.

Untuk malam hari, gunakan satu popok Confidence Classic Night dengan daya tampung maksimal, mengandung extra aloe vera untuk mencegah iritasi, dan pelindung samping bebas bocor sehingga pengguna nyaman semalaman.

Terakhir, untuk kebutuhan menyeka tubuh pasien stroke yang lebih praktis dan higienis, gunakan Confidence Adult Wet Wipes yang mengandung ekstrak kayu putih yang menenangkan. Dengan ukuran 60 persen lebih besar dari tisu biasa, caregiver dapat lebih mudah saat menyeka.

Nah, dengan rangkaian produk Confidence ini, merawat pasien stroke jadi lebih mudah dan praktis. Anda mau mendapatkan produk Confindence gratis? Coba cek di sini.

Itu dia info seputar risiko stroke dan perawatan stroke pada pasien lansia. Bila ingin konsultasi lebih lanjut dengan dokter, pakai fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar