Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Warga Minta Pemerintah Undur Jadwal Sekolah saat Pandemi, Ini Kata IDAI!

Warga Minta Pemerintah Undur Jadwal Sekolah saat Pandemi, Ini Kata IDAI!

Khawatir terjadi penularan virus corona besar-besaran, masyarakat meminta usulan masuk sekolah saat pandemi diundur dulu. Lalu, apa kata IDAI tentang hal ini?

Wacana pembukaan sekolah saat pandemi menuai pro kontra. Pembelajaran dilanjutkan agar akademis siswa tidak menurun. Meski pemerintah telah merancang 3 skenario agar penyebaran virus corona tidak langsung meningkat drastis, orang tua tetap khawatir dengan kebijakan tersebut.

Banyak Pihak Minta Kebijakan Sekolah saat Pandemi COVID-19 Diundur

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim diminta oleh para orang tua murid untuk menunda tahun ajaran baru.

Dikutip dari CNBC Indonesia, permohonan penundaan itu dilakukan lewat petisi online yang dibuat seorang ibu bernama Hana Handoko. Dalam petisi tersebut, Hana menuliskan tentang pengalaman negara lain yang kasusnya meningkat lagi setelah membuka sekolah mereka.

Usulan penundaan sekolah saat pandemi tak cuma datang dari para orang tua, Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli pun mengeluarkan pendapat senada. Ia meminta kepada pemerintah agar wacana sekolah saat pandemi sebaiknya tidak dilakukan dulu.

Kegiatan belajar-mengajar lebih baik tetap dilakukan secara online karena sulit menerapkan physical distancing di antara para siswa, khususnya pada siswa SD dan SMP.

"Corona masih belum betul-betul menurun. Banyak SD dan SMP yang padat sekali jumlah siswanya. Nyaris sulit untuk jaga jarak. Presiden Jokowi & (Mendikbud) Nadiem mohon (kegiatan belajar mengajar di sekolah) SD, SMP, dan SMA diundur sampai awal tahun depan,” tulis Rizal (27/05) di akun Twitter pribadinya (@RamliRizal).

Di dalam cuitannya, Rizal turut menuliskan tentang negara Jepang yang menunda kegiatan belajar-mengajar sampai Januari 2021. Padahal, Negeri Matahari Terbit itu termasuk negara yang mampu menekan penyebaran virus corona dengan baik.

Datang pula dari kaum pengajar, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim pun menilai, murid-murid Indonesia sebaiknya tidak “dikorbankan”.

Artikel Lainnya: Kiat Mendampingi Anak Belajar di Rumah

1 dari 4 halaman

Berkaca dari Kasus Pembukaan Sekolah di Korea Selatan dan Finlandia

Perlu diketahui bahwa lebih dari 200 sekolah di Korea Selatan tutup lagi setelah beberapa hari sempat dibuka karena ada lonjakan kasus positif baru.

Sebelumnya (27/05), ribuan pelajar Korsel kembali ke sekolah usai pembatasan dilonggarkan. Sayangnya, sehari kemudian, terdapat penambahan 79 kasus virus corona dan jumlah harian tersebut merupakan yang tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Sebanyak 251 sekolah di Bucheon sekarang terpaksa tutup lagi. Laporan dari Korea Times yang mengutip Kementerian Pendidikan Korsel mengatakan, 117 sekolah di Seoul juga menunda pembukaan kembali.

Sedangkan di Helsinki, Finlandia, baru berselang 2 hari setelah pembukaan sekolah saat pandemi dilakukan, tempat belajar-mengajar tersebut ditutup lagi (kembali ke pembelajaran online). Pemerintah di sana sebenarnya sudah menekankan sekolah untuk lebih hati-hati, terutama saat jam makan siang atau istirahat.

Pasalnya, ada murid yang terinfeksi virus corona. Tercatat, ada 17 murid dan 4 guru yang berkontak dengan murid tersebut. Mereka semua akhirnya harus menjalani karantina mandiri di rumah, lalu sekolah disemprot disinfektan.

2 dari 4 halaman

Apa Risikonya Jika Sekolah di Indonesia Kembali Dimulai?

Sebagai dokter dan orang tua, dr. Karin Wiradarma mengatakan kepada KlikDokter, dirinya juga merasa khawatir bila pembukaan sekolah saat pandemi virus corona benar-benar diwujudkan.

Sebab, risiko penularan COVID-19 dari sesama murid, guru, orang tua murid, pedagang jajanan, hingga petugas lainnya di sekolah tetap ada!

Jika sebelumnya tingkat kasus positif virus corona tinggi di usia lanjut, bukan tak mungkin dengan adanya pembukaan sekolah saat pandemi ini justru membuat angka kasus positif virus corona di usia anak melonjak.

Apalagi, agak sulit untuk menjelaskan soal physical distancing dan pola hidup bersih kepada anak-anak, khususnya anak TK dan SD. “Biasanya, mereka yang sudah besar akan lebih mengerti dan sadar tentang kebersihan. Kalau muridnya masih kecil, misalnya usia TK, walaupun dibilangin berkali-kali, takutnya mereka masih suka lupa, ya,” kata dr. Karin.

Artikel Lainnya: WHO: Akhir Pandemi Virus Corona Masih Jauh, Perhatikan Kesehatan Anak!

3 dari 4 halaman

Apa Kata IDAI soal Wacana Pembukaan Sekolah saat Pandemi COVID-19?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentunya tidak tinggal diam dengan adanya wacana pembukaan sekolah saat pandemi COVID-19.

Dijelaskan melalui rilis resminya pada 30 Mei lalu, IDAI mendukung adanya pembelajaran jarak jauh (PJJ) demi mencegah penyebaran virus corona. IDAI juga menganjurkan pemerintah untuk menutup sekolah sampai Desember 2020 (hingga kasus virus corona sudah benar-benar menurun).

Perlu kerja sama antara siswa, guru, dan orang tua. Selain itu, modul belajar PJJ juga sebaiknya disiapkan dengan baik oleh Kemendikbud agar proses pembelajaran lebih terarah.

Nah, ketika kondisinya sudah memungkinkan dan memenuhi syarat untuk membuka sekolah kembali, diharapkan sekolah-sekolah bisa bekerja sama dengan pihak IDAI untuk mengecek kesiapan tempat pembelajaran tersebut, khususnya dari segi kesehatan.

Kebijakan apa pun yang diambil harus pasti harus menyesuaikan data lapangan yang ada. Agar pemerintah pusat tak salah dalam keputusan, IDAI menyarankan agar tes PCR diperbanyak secara masif (30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi COVID-19), tak terkecuali di kelompok usia anak.

Kita tunggu saja bagaimana realisasi pemerintah Indonesia terkait wacana pembukaan sekolah saat pandemi virus corona belum benar-benar turun. Tak bisa dimungkiri, hal ini memang mengundang kekhawatiran dari banyak pihak.

Sebagai informasi, KlikDokter menyediakan cek risiko virus corona online dan rapid test di beberapa rumah sakit yang bisa digunakan untuk periksa gejala. Bila ingin konsultasi lebih lanjut seputar gejala COVID-19, pakai fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter agar lebih praktis.

(OVI)

0 Komentar

Belum ada komentar