Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Cerita dr. Rio Aditya: Di Balik Kerja Keras Dokter Relawan COVID-19

Cerita dr. Rio Aditya: Di Balik Kerja Keras Dokter Relawan COVID-19

Jadi dokter relawan saat hadapi pandemi virus corona, ini kisah dan pesan yang bisa dibagikan oleh dr. Rio Aditya kepada masyarakat.

“Pengalaman yang tidak akan terlupakan” adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh dr. Rio Aditya saat membuka obrolan seputar pengalamannya menjadi dokter relawan COVID-19 

Sejak kemunculannya di akhir tahun 2019, virus corona memang selalu jadi perbincangan yang paling hangat di seluruh dunia. Virus yang pertama kali dideteksi di Wuhan, Tiongkok itu,  kini telah menyebar hampir ke seluruh dunia. 

Bahkan, sampai saat ini, sudah lebih dari satu juga orang di dunia dibuat infeksi karenanya. 

Korban yang meninggal pun juga tidak kalah banyak. Di Indonesia sendiri, korban meninggal akibat virus corona sudah mencapai lebih dari 800 orang. 

Tidak hanya dari rakyat biasa, tapi banyak dokter dan petugas medis yang juga jadi korbannya, sehingga minimnya sumber tenaga medis jadi salah satu masalah yang cukup memprihatinkan di tanah air. 

1 dari 5 halaman

Rela Tinggalkan Fokus Utama untuk Membantu Penanganan COVID-19

Di masa pandemi seperti sekarang memang banyak orang yang ikut tergerak hatinya untuk membantu korban-korban infeksi virus corona. 

Mulai dari menyumbang kebutuhan APD, memberikan sembako pada orang kurang mampu ataupun menjadi relawan yang membantu penanganan COVID-19 seperti dr. Rio Aditya. 

“Saya sebenarnya nggak berencana untuk kerja di rumah sakit lagi karena memang sedang fokus belajar untuk mengambil sekolah spesialis. Jadi saya fokuskan di rumah untuk belajar dan nggak kerja di rumah sakit dulu. Tapi, tiba-tiba ada pandemi sebesar ini, jadi ya saya tergerak untuk membantu sesama. Apalagi jika dilihat memang tenaga medis di Indonesia itu sangat minim, ” ujar dr. Rio. 

Tanpa berpikir panjang, dokter Rio langsung mengajukan diri sebagai relawan ketika grup alumni tempat beliau kuliah dulu menawarkan jika ada yang berminat untuk membantu menangani pasien dengan COVID-19 di rumah sakit yang sudah ditentukan. 

Saat itu, dr. Rio ditempatkan di Rumah Sakit Rujukan COVID-19, Rumah Sakit Siloam Kelapa Dua, Tangerang. 

Rumah Sakit Siloam Kelapa Dua sendiri menjadi salah satu rumah sakit rujukan dari tiga rumah sakit penanganan COVID-19 yang ada di Tangerang. Dua di antaranya yakni, RSUD Tangerang dan RSUD Kab. Tangerang. 

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 5 halaman

Kondisi Sibuk di Rumah Sakit

Akhir Februari kemarin menjadi awal pengalaman tak terlupakan oleh dr. Rio. Tak disangka, sebegitu sibuk dan hectic-nya kehidupan para petugas medis di dalam rumah sakit. 

Mulai dari tenaga medis yang kurang, hingga jumlah pasien yang terus meningkat, memang buat perawat maupun dokter yang bertugas sangat kewalahan. Tidak heran, jika banyak juga dokter dan perawat yang akhirnya juga sakit karena kelelahan. 

“Bayangkan saja, di rumah sakit itu misalnya ada 6 lantai. Lantai 6 itu diisi dengan 1 dokter dan 40 pasien. Di lantai-lantai bawahnya juga sama, kurang lebih 40 pasien dan hanya ditangani oleh satu dokter,” cerita dr. Rio.

“Lalu, di ruangan ICU itu hanya ada 1 dokter dan pasiennya ada 10 orang. Memang jumlahnya tidak banyak. Namun, kondisi pasien yang di ICU, kan, lebih kritis ketimbang mereka yang di ruangan biasa, pasti hectic-nya akan lebih terasa,” tambahnya melalui sambungan telepon. 

Menurutnya, idealnya satu dokter hanya bisa meng-handle 15 sampai 20 pasien. Tapi dalam kondisi pandemi seperti ini, 40 pasien pun harus bisa ditangani oleh satu dokter. 

“Kelelahan? Pasti. Kewalahan? Sudah jelas. Merasa menyesal? Tidak. Ini pengalaman yang menurut saya tidak akan terlupakan. Kita, perawat yang ada di sini, dokter yang bertugas justru merasa sangat bersyukur bisa ambil bagian dari aksi luar biasa ini,” lanjutnya. 

“Tapi bersyukur banget, dengan bertambahnya jumlah relawan dokter dan perawat, sekarang kondisi pasien dan jumlah tenaga medis jadi seimbang, ” tambah dr. Rio dengan nada lega. 

Selanjutnya, dr. Rio juga menceritakan pembagian jam kerja yang dilakukan oleh tim perawat maupun dokter yang bertugas. Dokter dan perawat akan dibagi menjadi dua tim, yaitu tim shift pertama dan tim shift kedua.  

Pada shift pertama, dokter dan perawat yang bertugas akan standby di rumah sakit mulai dari pukul 07.00 pagi sampai 15.00 sore. Selanjutnya, tim shift kedua akan standby dari jam 15.00 sore sampai jam 07.00 pagi. 

Menurutnya, dari kedua shift  tersebut, tim shift kedual ah yang paling lelah dan paling hectic

“Malam hari itu ada saja kejadiannya. Kalau pada malam hari, kita bisa pakai APD itu selama 13 sampai 15 jam. Jadi, ya, pipis buang air besar itu ditahan. Kalau memang tidak bisa, ya, pakai pampers untuk orang dewasa, ” kata dr. Rio. 

Akan tetapi, bukan berarti shift pertama tidak kalah melelahkan, ya. Sebab, biasanya tim pagi akan kembali melanjutkan tugas yang belum diselesaikan oleh tim malam. 

Namun, memang tidak dimungkiri lagi bahwa petugas yang bekerja pada shift malam lah yang benar-benar terasa lelahnya. 

3 dari 5 halaman

Rindu Keluarga, Jadi Duka Paling Mendalam saat Jadi Relawan

“Wah, kalau rindu atau tidak, itu sudah jangan ditanyakan lagi. Mulai dari awal Februari sampai kemarin April saya tidak bertemu dengan orang-orang yang saya kasihi. Pasti sangat rindu. Kami hanya berkomunikasi lewat telepon atau video call,” ungkap dr. Rio.   

“Ya itulah, duka paling mendalam selama saya jadi relawan. Kita semua memang tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah, kecuali mereka punya tempat tinggal dan tinggal sendiri,” jelasnya,  

Tidak hanya rindu keluarga tersayang, dr. Rio juga menambahkan bahwa dirinya sangat rindu dengan segala kehidupan sebelum pandemi ini terjadi.

Tidak pernah terbayangkan dalam benak dr. Rio bahwa ada sebuah penyakit yang benar-benar berdampak sangat besar bagi seluruh kehidupan manusia. Tidak hanya di Indonesia, tapi hampir di seluruh negara yang ada di muka bumi. 

“Saya benar-benar nggak kebayang dokter dan perawat yang bekerja dari awal sampai hari ini. Saya tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan, tapi kurang lebihnya saya pernah menjadi mereka dalam dua bulan terakhir. Rasa lelahnya, rasa sedihnya, saya pernah rasakan itu,” lanjutnya. 

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

 

4 dari 5 halaman

Bukan Tenaga Medis yang Jadi Kunci untuk Melawan COVID-19, Tapi Masyarakat

Setelah perbincangan panjang, sampailah pada topik di mana dr. Rio memutuskan untuk mengakhiri masa relawannya itu. 

“Sudah cukuplah saya rasa. Bukannya tidak mau membantu lagi, kalau memang bisa ikut lagi, pasti saya akan ajukan diri lagi. Tapi, balik lagi pada fokus utama yang sempat saya tinggalkan sejenak. Cita-cita dan keinginan menjadi seorang dokter spesialis tidak bisa hilang dari benak saya. Keinginan membantu banyak orang dengan spesialisasi yang nantinya akan saya miliki benar-benar besar, ” kata dr. Rio.

“Pendaftaran untuk menjadi dokter spesialis masih dibuka sampai sekarang. Jadi saya akan kejar kembali mimpi saya dengan mempersiapkan matang-matang pembekalan diri jadi dokter spesialis. Tapi, jika outbreak ini justru semakin besar dan pendaftarannya ditunda, saya akan turun lagi. Pasti. ” menurut penjelasan dr. Rio.

Sebagai penutup, ada satu pesan dari dokter Rio yang menurut KlikDokter harus didengar oleh banyak masyarakat, yaitu:

“Bukan tenaga medis, bukan aparat kepolisian, bukan pemerintah, bukan ilmuwan yang bisa melawan pandemi virus corona ini. Tapi masyarakat. Kami di sini hanya pemain sampingnya saja. 

Pemain utamanya itu adalah masyarakat. Kalau memang masyarakatnya disiplin, nurut dengan segala aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, penyebaran ini pasti akan berkurang. 

Buat apa ilmuwan atau dokter menemukan obat COVID-19 tapi korban yang terinfeksi justru semakin meningkat dan tidak menurun? Jangan hanya mengandalkan obat. 

Usaha untuk tidak tertular, usaha untuk mencegah penyebaran, usaha untuk mengingatkan satu sama lain akan bahaya COVID-19 adalah obat paling manjur untuk kita semua. 

Jadi ayo, kita semua bantu lawan COVID-19 dengan melakukan karantina diri, dan semua aturan yang telah ditetapkan pemerintah, ”

Dengan mendengarkan dan memahami situasi berdasarkan pengalaman dokter relawan COVID-19, kita semua berharap pandemi ini akan segera usai secepatnya. 

Namun, itu semua tidak bisa terwujud apabila kita tidak meringankan beban tenaga medis dengan aksi mencegah penularan infeksi virus corona secara mandiri. 

Mari lakukan apa yang sudah diimbau oleh dokter maupun pemerintah seperti mencuci tangan dengan sabun dan air, pakai masker saat keluar rumah, dan melakukan aksi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Ketika melakukan pencegahan sederhana tersebut, ini tidak hanya menyelamatkan nyawa Anda sendiri, tapi juga keselamatan jutaan orang lain di bumi, termasuk dokter dan relawan yang bertugas. 

KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona. 

Apabila mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 gunakan fitur LiveChat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Sedangkan untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini. Tetap semangat dan salam sehat! 

(OVI/AYU)

2 Komentar