Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Angka Kasus COVID-19 di Singapura Meningkat Tajam, Apa yang Terjadi?

Angka Kasus COVID-19 di Singapura Meningkat Tajam, Apa yang Terjadi?

Sempat menjadi negara acuan untuk memberantas virus corona, kini angka korban COVID-19 semakin bertambah di singapura. Apa penyebabnya?

Sebelum Indonesia, Singapura dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya juga sudah terlebih dahulu merasakan imbas dari penyebaran virus corona.

Di awal, kasus penyebaran COVID-19 di Singapura dianggap lambat karena tidak memiliki korban jiwa. Namun kini, jumlah pasien terinfeksi virus corona di Singapura semakin meningkat dan kasusnya membludak

Terbarunya, Kementerian Kesehatan Singapura mengonfirmasi adanya penambahan 942 kasus positif baru per Sabtu dan 596 kasus baru lainnya per hari Minggu (19/4) kemarin. Jumlah total terinfeksi di negara itu mencapai 6.588 kasus.

Melansir Channel News Asia, sebagian besar dari korban positif virus corona merupakan pekerja asing yang memiliki izin tinggal di asrama, kata Kementerian Kesehatan Singapura.

“Umumnya, orang yang terjangkit virus corona masih tergolong muda, memiliki gejala ringan dan sedang dipantau di fasilitas isolasi masyarakat atau berbagai macam rumah sakit yang sudah disediakan khusus untuk penanganan virus corona. Meski begitu, tidak ada pasien yang berada di unit perawatan intensif (ICU), ” ujar salah satu stafnya.

1 dari 5 halaman

Singapura Temukan Klaster Virus Corona Baru

Ada lima klaster baru yang diidentifikasi di Woodlands Lodge I, Changi Lodge II, 51 Paya Ubi Industrial Park, 17 Jalan Besut, dan Galangan Sembawang. Klaster adalah sebuah kelompok dengan satu kejadian COVID-19 yang terjadi di area dan waktu yang sama pula.

Kementerian kesehatan di Singapura menyatakan, ada 30 kasus dalam salah satu klaster. Sebanyak 25 pasien kasus adalah warga negara Singapura atau penduduk tetap, sementara 5 lainnya adalah pemegang izin kerja.

Pada kasus tersebut, lima di antaranya adalah anak-anak yang berusia antara 1 dan 12 tahun.

"Jumlah kasus yang tidak terkait di komunitas telah sedikit meningkat. Dari rata-rata 18 kasus per hari di minggu sebelumnya, menjadi rata-rata 22 per hari dalam seminggu terakhir. Kami akan terus memonitor angka-angka ini, serta kasus-kasus yang terdeteksi melalui program pengawasan kami," tambah Kemenkes Singapura.

Jumlah kasus baru di antara pemegang izin kerja yang tinggal di luar asrama juga naik. Dari rata-rata 11 kasus per hari di minggu sebelumnya, meningkat menjadi 21 per hari dalam seminggu terakhir.

Meski demikian, total ada lebih dari 26 pasien yang telah dipulangkan dari rumah sakit atau fasilitas isolasi masyarakat. Lalu, secara keseluruhan, sebanyak 68 pasien telah pulih sepenuhnya dari infeksi virus corona, menurut Kementerian Kesehatan Singapura.

Dari 2.921 kasus yang dikonfirmasi di rumah sakit, sebagian besar pasien kondisinya stabil atau membaik, dan 22 pasien di antaranya dalam kondisi kritis di ICU.

Sebanyak 2.888 pasien yang secara klinis kondisinya baik tetapi masih dinyatakan positif COVID-19, mereka juga masih tetap diisolasi dan dirawat di fasilitas masyarakat.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 5 halaman

Mengapa Jumlah Pasien Virus Corona di Singapura Meningkat?

Sejak 17 Maret lalu, jumlah kasus coronavirus yang dikonfirmasi di Singapura bertambah, dari 266 menjadi lebih dari 5.900, menurut data dari Johns Hopkins University. Ini tentunya bukan angka yang kecil untuk negara dengan penduduk tidak padat.

Sebelumnya, Singapura disebut-sebut sebagai negara yang tanggap menangani virus corona, namun kini statusnya dikhawatirkan karena jumlah pasien positifnya terus meningkat. Lantas, apa yang salah dari kasus di Singapura?

Melansir CNN, rupanya di tengah pandemi virus corona, warga negara Singapura masih hidup seperti biasa, layaknya tidak ada pandemi COVID-19.

“Di Singapura, kami ingin kehidupan berjalan seperti biasa. Kami ingin bisnis, gereja, restoran, dan sekolah tetap buka. Seperti inilah keberhasilannya. Semuanya berjalan sesuai kebutuhan, dan Anda terus melakukan ini sampai ada vaksin atau perawatan yang benar-benar bisa mengobati virus corona,” ungkap Dale Fisher, selaku Ketua Pengendalian Infeksi Rumah Sakit National University of SIngapore

Berbeda dengan Hongkong yang justru menutup seluruh sekolah, perkantoran, dan tempat makan untuk menekan angka penyebaran coronavirus.

Pemerintah di Hongkong justru mendorong karyawannya untuk untuk bekerja dari rumah, meskipun orang-orang masih berkeliling kota secara relatif bebas.

Langkah-langkah pencegahan baru juga diperkenalkan menyusul peningkatan kasus impor bulan lalu. Tak heran kalau Hong Kong jauh lebih berhasil dalam menghadapi gelombang kedua pandemi virus corona ketimbang Singapura.

Menanggapi hal ini, dr. Alvin Nursalim Sp.PD pun mengatakan, peningkatan jumlah korban virus corona ini bisa terjadi karena fasilitas publik yang masih dibuka. Akan tetapi, dr. Alvin juga memiliki pendapat lain mengenai alasan jumlah pasien di Singapura semakin banyak.

“Sepertinya, jika benar Singapura masih buka restoran dan tempat publik lainnya, mungkin benar saja angka pasiennya meningkat. Tapi angka positif virus corona ini juga bisa karena banyak faktor, lho. Bisa saja angka ini meningkat karena justru kemampuan deteksi Singapura yang mumpuni, jadi bisa terdeteksi banyak kasusnya,” ujar dr. Alvin pada KlikDokter.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

3 dari 5 halaman

Singapura Siapkan Sistem Perawatan Kesehatan Pasien Virus Corona

Untuk menangani membludaknya kasus COVID-19 di Singapura, pemerintah negara tersebut pun menyiapkan beberapa sistem penanganan dan perawatan.

Sistem tersebut bekerja membedakan jenis rumah sakit dengan tingkat keparahan kondisi pasien coronavirus.

Menurut Profesor Teo Yik Ying, dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat di National University of Singapore, di Singapura terdapat dua jenis rumah sakit, yaitu swasta dan pemerintah.

Rumah sakit swasta akan bekerja menangani pasien infeksi virus corona yang kasusnya lebih ringan dan untuk membantu proses pemulihan. Sedangkan rumah sakit pemerintah, bertugas menangani pasien yang tingkat infeksinya sudah parah.

 

4 dari 5 halaman

Apa yang Indonesia Bisa Pelajari dari Kasus Virus Corona di Singapura?

Dokter Alvin tetap tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh pemerintah Singapura tentang kebijakan membuka fasilitas publik seperti biasa.

Untuk itu, di Indonesia sendiri sebaiknya tetap menutup sekolah dan tempat-tempat umum agar penyebaran virus corona juga bisa ditekan.

Dr. Alvin juga menyarankan, agar Indonesia sendiri semakin ketat dalam menetapkan kebijakan physical dan social Distancing, sera self quarantine.

Jika ketiga hal ini bisa dilakukan dengan baik sampai jangka waktu yang ditentukan, maka penyebaran virus corona di Indonesia bisa semakin cepat diatasi.

KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Apabila mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 gunakan fitur Live Chat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Sedangkan untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar