Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Benarkah Wanita Lebih Dapat Menahan Sakit Dibanding Laki-Laki?

Benarkah Wanita Lebih Dapat Menahan Sakit Dibanding Laki-Laki?

Anggapan yang selama ini berkembang bahwa pria lebih kuat dibanding wanita. Tapi, benarkah wanita lebih dapat menahan rasa sakit dibanding laki-laki?

Menahan rasa sakit merupakan hal yang subjektif, alias tolak ukurnya beda-beda pada setiap orang. Namun katanya, wanita lebih dapat menahan sakit dibanding laki-laki? Apa benar demikian? Mari cari tahu jawabannya lewat ulasan di bawah ini.

Ketahui Apa yang Dimaksud dengan Menahan Rasa Sakit

Ketika berurusan dengan rasa sakit, ada dua faktor utama yang harus diperhatikan, yakni ambang nyeri dan toleransi nyeri.

Ambang nyeri mengacu pada titik di mana seseorang pertama kali mulai merasakan sakit setelah terkena rangsangan, seperti saat ditusuk jarum. Meskipun rangsangan dapat diukur, namun rasa nyeri pada setiap orangnya berbeda-beda.

Sementara itu, toleransi rasa sakit mengacu pada jumlah rasa sakit yang tanpa menyebabkan Anda jatuh pingsan.

Artikel Lainnya: Lebih Sering daripada Pria, Ini Penyebab Sakit Gigi pada Wanita

1 dari 3 halaman

Benarkah Wanita Lebih Tahan Sakit Dibanding Pria?

Ada anggapan, katanya wanita lebih bisa menahan rasa sakit dibanding laki-laki. Biasanya urusan fisik, seperti rasa sakit, bukankah pria yang lebih kuat, ya?

Secara luas, wanita dapat menoleransi rasa sakit dengan lebih baik, berkat sejarah evolusi yang dinamakan persalinan atau melahirkan. Sudah jelas, proses melahirkan adalah salah satu yang tersakit di dunia.

Seperti dijelaskan dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, proses melahirkan merupakan salah satu peristiwa di dalam hidup yang sangat dinantikan. Namun, hal ini terkadang memberikan rasa cemas dan takut bagi wanita hamil, terutama karena bayangan rasa sakit yang akan dihadapi.

Hal ini pun memicu peneliti untuk membuktikan argumen tersebut. Pada 2012, sebuah tim ahli dari Stanford University di Amerika Serikat meneliti 11 ribu lebih catatan medis.

Mereka menemukan bahwa wanita sebenarnya cenderung merasakan rasa sakit lebih intens, terutama ketika ada peradangan akut di dalam tubuhnya.

Dalam skala peringkat nyeri 0-10, rata-rata peringkat nyeri wanita hampir satu poin lebih tinggi daripada pria. Namun, itu hanya satu hal pendukung saja, karena analisis ini diukur berdasarkan peringkat yang dilaporkan di rumah sakit.

Dicek balik pada tahun 2009, tim dari University of Florida, Amerika Serikat, juga melakukan tinjauan literatur besar-besaran dari studi penelitian terkait rasa sakit. Hasilnya ditemukan, wanita punya sensitivitas yang lebih besar terhadap bentuk rasa sakit.

Mereka juga menemukan untuk mengatasi rasa sakit tersebut, wanita lebih sering pergi ke dokter. Sedangkan pria, cenderung tidak ke dokter saat mengatasi rasa sakit.

Artikel Lainnya: Badan Pegal Usai Hubungan Seks, Cek 5 Penyebabnya

Penelitian juga menemukan, wanita lebih sering mengonsumsi lebih banyak obat penghilang nyeri. Para ahli juga bilang, kalau wanita ini lebih sering mengalami penyakit dengan nyeri berlebih, seperti sakit punggung bagian bawah dan migrain jika dibandingkan pria.

Namun,  jika dilihat dari pengaturan percobaan, laki-laki ternyata menunjukkan ambang nyeri yang lebih tinggi menurut penelitian tersebut. Pengaturan eksperimental ini artinya seseorang dengan sengaja menyakiti orang dan bertanya kepada mereka bagaimana perasaan mereka tentang hal itu.

Secara ilmiah, lelaki juga lebih toleran terhadap rasa sakit daripada wanita. Salah satu alasan kenapa lebih toleran dengan rasa sakit adalah karena tubuh pria ditemukan lebih banyak melepas zat biokimia yang berfungsi menghilangkan rasa sakit, seperti beta-endorfin.

Jadi, apakah itu berarti wanita lebih mudah menyerah pada rasa sakit, dan hubungan dengan persalinan adalah mitos total? Belum tentu. Seperti yang telah disinggung di atas, menahan dan merasakan rasa sakit sifatnya subjektif.

Jenis penyakit, suasana hati seseorang, dan stres, semua dapat memengaruhi tolak ukur rasa sakit. Untuk wanita, perubahan hormonal sepanjang siklus menstruasi juga memengaruhi kepekaan terhadap rasa sakit, meskipun caranya berbeda.

2 dari 3 halaman

Penelitian Lain Tentang Rasa Sakit

Lalu, penelitian dari Mcgil University di Kanada menemukan wanita dapat menangani rasa sakit lebih baik daripada pria. Hal ini disebabkan dari bagaimana pria dan wanita mengingat penderitaan rasa sakit mereka di masa lalu,.

Para ilmuwan pun terkejut, mereka mendapati pria dan wanita tidak mengingat rasa sakit dengan cara yang sama. Saat merasakan sakit, wanita bisa melupakannya alias tidak ingat-ingat lagi, sedangkan pria tidak lupa sama sekali  bagaimana sakitnya.

Jadi, ketika harus menghadapi rasa sakit yang sama lagi, pria lebih stres dan hipersensitif terhadap rasa sakit itu dibanding wanita. Hasilnya, wajar jika si wanita bisa menahan rasa sakit lebih dalam daripada pria.

Dari kedua penelitian di atas, kesimpulan pasti siapa yang paling dapat menahan rasa sakit belum jelas, karena semuanya bersifat subjektif kebanyakan. Maka, butuh studi lanjutan untuk hasil validnya. Untuk tahu, lebih lanjut tentang rasa sakit yang Anda alami, langsung konsultasi ke dokter lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter, ya.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar