Empat penyakit yang mungkin cukup asing bagi
orang tua muda zaman sekarang. Namun di sisi lain, kalau penyakit tersebut tidak pernah kita lihat, kita mudah
lupa bahwa ia masih ada. Kita mulai meremehkan. Kita mulai menunda vaksinasi.
Dan satu anak yang tidak diimunisasi di satu wilayah yang cakupan vaksinnya
rendah bisa menjadi awal masalah medis yang jauh lebih besar.
Difteri: Bukan sakit tenggorokan biasa
Difteri disebabkan oleh
bakteriCorynebacterium diphtheriae. Yang
membedakannya dari radang tenggorokan biasa adalah munculnya selaput abu-abu
tebal yang terbentuk di dalam tenggorokan anak, bukan lendir, melainkan lapisan
keras yang bisa menimbulkan sumbatan saluran napas. Anak tampak demam, suara
serak, leher membengkak hingga terlihat seperti yang disebut "bull
neck." Pada kasus yang sudah parah, racun bakteri ini menyebar ke
jantung dan saraf, dan saat itu terjadi, penanganannya jauh lebih sulit.
Yang perlu diketahui orang tua, ini bukan penyakit yang hanya ada di buku sejarah kedokteran. Di Jawa Timur, kasus difteri pada anak terus ditemukan selama lebih dari satu dekade, dan mayoritas pasiennya adalah anak-anak dengan riwayat imunisasi tidak lengkap. Data dari Surabaya selama enam tahun (2017–2022) bahkan lebih spesifik: 67,8% kasus terjadi pada anak yang belum atau tidak tuntas divaksin, paling banyak di kelompok usia 5–12 tahun. Usia sekolah. Usia yang seharusnya sudah mendapatkan booster.
Baca Artikel Lainnya: Fakta Tentang Penyakit Difteri yang Perlu Anda Tahu
Pertusis: Batuk yang Tidak Seperti Batuk Biasa
Batuk
rejan atau pertusis dijuluki "batuk seratus hari”. Awalnya mirip flu: pilek, demam
ringan, tidak ada yang mencurigakan. Tapi setelah satu hingga dua minggu, karakteristik
batuknya berubah. Beruntun, tanpa jeda, bahkan sampai anak dapat kesulitan
untuk menarik napas. Lalu muncul suara melengking saat akhirnya berhasil
menghirup udara itulah asal nama "whooping cough."
Yang paling berbahaya: pada bayi di bawah 6
bulan, suara melengking itu sering tidak muncul sama sekali. Mereka tidak
batuk-batuk lalu "whoop" melainkan hanya tiba-tiba berhenti bernapas
atau yang disebut dengan periode apnea, gejala yang relatif lebih minim inilah
yang sering kali menjadi penyebab keterlambatan penanganan, karena banyak orang
tua belum sempat menyadari ada yang salah.
Secara global, WHO melaporkan hampir satu
juta kasus pertusis pada 2024, tepatnya 941.565 kasus. Kematian terbanyak
terjadi pada bayi yang belum sempat mendapat vaksin lengkap. Pertusis bukan sekadar
"batuk yang agak parah." Namun berpotensi mematikan, dan perlindungan
terbaiknya melalui vaksinasi, bukan sekadar dengan obat-obatan di apotek.
Tetanus: Bukan dari Orang Lain, Tapi Tanah di Sekitar Kita
Tetanus berbeda dari
tiga penyakit lainnya: ia tidak menular dari manusia ke manusia. Spora bakteriClostridium
tetaniada di
mana-mana, di tanah, debu, kotoran hewan, bahkan di permukaan paku berkarat.
Ketika spora masuk ke luka, sekecil apa pun itu, toksin yang dilepaskan dapat menyerang
sistem saraf. Otot rahang menjadi kaku dan terkunci ("trismus" atau
lockjaw). Lalu leher, perut, punggung. Kejang bisa dipicu
hanya oleh cahaya atau suara. Tubuh anak yang mestinya lentur jadi kaku seperti
papan.
Pada bayi baru lahir dari ibu yang tidak divaksin dengan proses
persalinan yang tidak steril, ini bisa berubah menjadi tetanus neonatal. Angka
kematiannya mendekati 100% di daerah tanpa fasilitas ICU. Ini bukan angka yang
dilebih-lebihkan. WHO masih mencatat sekitar 24.000 kematian tetanus neonatal
per tahun hingga 2021. Pandemi COVID-19 sempat memperburuk situasi: kasus
meningkat di 31% negara prioritas antara 2020–2022 karena program imunisasi
rutin terganggu.
Baca Artikel Lainnnya: 8
Bahaya Komplikasi Penyakit Tetanus
Polio: Virus yang berdampak seumur
hidup
Polio menakutkan
bukan karena gejalanya selalu dramatis, justru sebaliknya. Sebanyak 95% infeksi
polio tidak bergejala sama sekali. Anak terlihat sehat. Tapi virus sudah
menyebar, sudah ada di lingkungan, dan anak lain yang tidak kebal bisa terkena.
Sebagian dari mereka akan mengalami kelumpuhan permanen. Sebagian meninggal
karena otot pernapasan ikut lumpuh.
Indonesia sudah pernah dinyatakan bebas polio
pada 2014. Tapi pada Oktober 2022, seorang anak laki-laki 7 tahun dari Desa
Mane, Aceh yang belum pernah menerima satu dosis pun vaksin polio, tiba-tiba
tidak bisa berjalan. Aceh dikaitkan
dengan angka cakupan vaksin yang relatif rendah, banyak orang tua enggan atau
bahkan tidak percaya vaksin. Hal ini di pengaruhi oleh berbagai factor mulai
dari keyakinan/kepercayaan, alasan keagamaan, hingga berita simpang
siur/misinformasi yang kemudian berdampak pada kesehatan anak.
Kasus tersebut kemudian membuka KLB (Kejadian
Luar Biasa) yang dalam dua tahun menjalar ke Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Maluku Utara, hingga tiga provinsi Papua. Hampir 60 juta dosis
vaksin tambahan harus diberikan. WHO baru menyatakan KLB berakhir pada 19 November
2025, tiga tahun setelah satu anak yang tidak divaksin membuka celah penyebaran
infeksi.
Baca Artikel Lainnya: Bisakah
Orang Dewasa Mengalami Polio?
Vaksin
DTaP-IPV: Satu Suntikan, Empat Perlindungan
Kabar baiknya: keempat penyakit ini bisa dicegah. Dan ada satu
vaksin yang bekerja melawan semua sekaligus.
Vaksin DTaP-IPV, memberikan
perlindungan terhadap difteri, tetanus, pertusis aselular, dan polio inaktif
dalam satu suntikan. Diberikan sebagai booster (penguat) pada anak usia 4-13 tahun,
idealnya usia 5 tahun, menjelang masuk sekolah, setelah seri imunisasi dasar di
masa bayi selesai.
Kenapa perlu booster? Karena perlindungan dari imunisasi bayi
memang melemah seiring waktu. Celah kekebalan itu terbuka persis ketika anak
mulai banyak berinteraksi dan bersosialisasi di sekolah, di tempat les, di taman
bermain. Namun demikian, ini bukan soal imunisasi yang "gagal." Ini tentang
bagaimana sistem imun bekerja dan kapan ia perlu diingatkan kembali.
Soal efektivitas, efikasi vaksin terhadap pertusis klasik mencapai 85% dalam uji klinis. Soal keamanan, studi di Taiwan yang menganalisis 667.497 dosis menemukan efek samping yang dilaporkan hanya 8,8 per 100.000 dosis, paling umum berupa kemerahan dan bengkak ringan di bekas suntikan yang menghilang dalam 1–3 hari. Tidak ada yang perlu ditakutkan.
Sejak KLB polio 2022, Kemenkes juga mengakselerasi cakupan vaksin
polio inaktif dan menginisiasi vaksin heksavalen: satu suntikan untuk enam
penyakit sekaligus, termasuk polio. Ini langkah yang tepat arah, tapi
keberhasilannya tetap bergantung pada satu hal, yaitu orang tua yang mau
membawa anaknya untuk vaksin.
Yang Bisa Orang Tua Lakukan
Sekarang
- Lengkapi imunisasi dasar sejak lahir: Imunisasi DPT, Hepatitis B, HiB dan polio ada di program nasional,
pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Bisa juga didapatkan secara gratis di
Puskesmas.
- Jangan lewatkan booster usia 18 bulan dan 5 tahun: ini yang paling sering terlupakan, padahal justru krusial.
- Booster
usia 18 bulan dengan DTP-HepB-HiB-Polio
- Booter
usia 5 tahun dengan DtaP-IPV
- Tanyakan DTaP-IPV ke
dokter anak:Sebagai opsi booster DTaP-IPV bila anak belum mendapatkannya.
- Jangan tunda karena takut efek samping: Demam ringan atau nyeri bekas suntikan bukan tanda bahaya. Itu
tanda tubuh sedang bekerja membentuk perlindungan diri.
- Ibu hamil
perlu imunisasi Tdap:
Ibu Hamil perlindungan imunisasi Tdap untuk melindungi bayi baru lahir
dari Pertusis dan Tetanus.
Keempat penyakit ini terasa jauh karena vaksin sudah terbukti
efektif bekerja menjaganya tetap jauh. Tapi anak di Aceh yang lumpuh pada 2022
mengingatkan kita bahwa jarak itu tidak permanen. Ia bisa menutup, cepat, kalau
kita lengah.
Yang paling efektif yang bisa kita lakukan
sebagai orang tua adalah tidak memberi penyakit itu celah untuk kembali dengan
melakukan vaksinasi.
Lindungi Buah
Hati Anda Sekarang Juga
Jangan
tunggu sampai penyakit berbahaya mengintai kesehatan anak Anda. Berikan
perlindungan terbaik dan lengkapi jadwal imunisasi serta booster si
kecil dengan mudah. Yuk, jadwalkan vaksinasi anak Anda melalui Vaccination
Hub KlikDokter sekarang demi
masa depan mereka yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit menular!
Eleven-Year Report of High Number of Diphtheria Cases in Children in East Java Province, Indonesia. doi:10.3390/tropicalmed9090204
Comparison of Diphtheria Cases in Children Before and During the Pandemic Era in Surabaya, Indonesia: A Study of Six-Year Data. doi:10.7759/cureus.66949
Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Pertussis in Other Countries — Global Pertussis Epidemiology. https://www.cdc.gov/pertussis/php/global/index.html
Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Global Impact of Tetanus. https://www.cdc.gov/global-tetanus-vaccination/impact/index.html
World Health Organization.Tetanus — Fact Sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tetanus
CDC.Chapter 16: Tetanus. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. https://www.cdc.gov/surv-manual/php/table-of-contents/chapter-16-tetanus.html
World Health Organization Indonesia Polio Outbreak in Indonesia — Situation Reports 2022–2024. https://www.who.int/indonesia/emergencies/polio-outbreak-in-indonesia
Indonesia Umumkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio Berakhir. https://kemkes.go.id/id/indonesia-umumkan-kejadian-luar-biasa-klb-polio-berakhir
World Health Organization Indonesia.Indonesia Announces Closure of Polio Outbreak. https://www.who.int/indonesia/news/detail/21-11-2025-indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak
A combined DTaP-IPV vaccine (Tetraxim®/Tetravac®) used as school-entry booster: a review of more than 20 years of clinical and post-marketing experience. doi:10.1080/14760584.2022.2084076
A randomized double-blind trial comparing a two-component acellular to a whole-cell pertussis vaccine in Senegal. Doi: 10.1016/s0264-410x(97)00100-x
Adverse events following immunization with DTaP-IPV (Tetraxim) in school-aged children in Taiwan, 2017–2020. doi:10.1016/j.jvacx.2024.100581
https://polioeradication.org/news/indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak/
:format(webp)/article/SPAPxF5J31UtMErGgOx2m/original/d9dxqd04tmdtpbws5lb50usdafvc10r5.jpg)