Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang mendapatkan paparan sinar matahari sepanjang tahun. Secara teori, kondisi ini seharusnya membuat masyarakat tidak mengalami kekurangan vitamin D, mengingat sinar matahari merupakan sumber utama pembentukan vitamin D dalam tubuh. Namun, realitasnya justru menunjukkan hal yang berbeda. Berbagai penelitian menemukan bahwa kekurangan vitamin D masih cukup umum terjadi, terutama pada masyarakat perkotaan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa kekurangan vitamin D tetap terjadi meski sinar matahari melimpah?
Penyebab Kekurangan Vitamin D Orang Indonesia
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap penduduk Indonesia yang kekurangan vitamin D, terutama yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup dan lingkungan:
Gaya hidup yang minim paparan matahari
Salah satu faktor utama adalah perubahan gaya hidup modern. Banyak orang kini menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan, baik untuk bekerja maupun beraktivitas sehari-hari. Pekerja kantoran, misalnya, cenderung berada di dalam gedung dari pagi hingga sore hari, sehingga sangat minim terpapar sinar matahari langsung. Bahkan saat beraktivitas di luar, penggunaan kendaraan tertutup juga mengurangi paparan sinar UVB yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi vitamin D.
Penggunaan sunscreen secara berlebihan
Selain itu, penggunaan sunscreen atau tabir surya juga berperan. Meskipun penting untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar ultraviolet, penggunaan sunscreen dengan SPF tinggi secara berlebihan dapat menghambat produksi vitamin D. Hal ini karena sunscreen bekerja dengan cara menghalangi sinar UVB masuk ke kulit.
Polusi udara di perkotaan
Di sisi lain, polusi udara di kota besar juga dapat menghambat penetrasi sinar UVB ke permukaan kulit. Partikel polusi dapat menyerap dan menyebarkan sinar ultraviolet, sehingga mengurangi efektivitas pembentukan vitamin D.
Asupan makanan yang kurang mengandung vitamin D
Ditambah lagi, asupan makanan yang mengandung vitamin D masih tergolong rendah dalam pola makan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sumber alami vitamin D seperti ikan berlemak, kuning telur, dan produk fortifikasi belum dikonsumsi secara rutin oleh sebagian besar orang.
Baca juga artikel: Waspada! Ini Tipe Orang yang Rentan Kekurangan Vitamin D
Gejala Kekurangan Vitamin D
Gejala kekurangan vitamin D sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Namun, seiring waktu, beberapa tanda berikut dapat mulai dirasakan:
- Mudah lelah dan kurang bertenaga
- Nyeri tulang, terutama di area punggung bawah
- Kelemahan otot
- Mudah terserang infeksi
- Perubahan suasana hati
- Pada anak-anak: gangguan pertumbuhan tulang (rakitis)
- Pada orang dewasa: pelunakan tulang (osteomalasia)
Bahaya Kekurangan Vitamin D
HyroJika tidak ditangani, kekurangan vitamin D dapat berdampak lebih serius terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan bahkan terdapat beberapa penyakit karena kekurangan vitamin D.
Dalam hal kesehatan tulang, kekurangan vitamin D dapat menyebabkan:
- Penyerapan kalsium menjadi tidak optimal
- Peningkatan risiko osteoporosis
- Tulang menjadi rapuh dan mudah patah
Dari sisi sistem imun, kondisi ini dapat mengakibatkan:
- Daya tahan tubuh menurun
- Risiko infeksi meningkat, termasuk infeksi saluran pernapasan
Penelitian dalam jurnal BMJ menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D dapat membantu menurunkan risiko infeksi pernapasan akut, terutama pada individu dengan kadar vitamin D rendah.
Selain itu, beberapa studi juga mengaitkan kekurangan vitamin D dengan peningkatan risiko penyakit kronis, seperti:
- Penyakit jantung
- Diabetes tipe 2
- Beberapa jenis kanker
Meskipun hubungan sebab-akibatnya masih diteliti lebih lanjut, temuan ini menunjukkan bahwa vitamin D memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Cara Mengatasi Kekurangan Vitamin D
Mengatasi kekurangan vitamin D memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari perubahan gaya hidup hingga intervensi medis jika diperlukan.
Paparan sinar matahari tetap menjadi cara paling alami. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Berjemur selama 10–30 menit, 2–3 kali per minggu
- Memilih waktu antara pukul 10.00–14.00
- Membiarkan area kulit seperti lengan dan kaki terpapar langsung
Pemeriksaan kadar vitamin D melalui tes darah juga dapat membantu mengetahui kondisi tubuh secara lebih akurat, sehingga penanganan dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Selain itu, perbaikan pola makan juga penting, seperti:
- Mengonsumsi ikan berlemak seperti salmon dan sarden
- Mengonsumsi kuning telur
- Memilih produk makanan atau minuman yang telah di fortifikasi vitamin D
Namun, dalam banyak kasus, asupan dari makanan saja belum mencukupi kebutuhan harian.
Baca Juga Artikel: Mendapat Asupan Vitamin D yang Memadai
Oleh karena itu, suplementasi vitamin D dapat menjadi solusi tambahan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja kantoran, lansia, dan ibu hamil. Dosis yang dianjurkan umumnya berkisar antara 600–800 IU per hari, namun sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan individu melalui konsultasi medis. Salah satu produk yang dapat kalian gunakan adalah Prove D3 1000 untuk orang dewasa, Prove D3 Drops untuk anak-anak, atau kalian juga bisa gunakan Prove DK2 yang mengandung vitamin D3 dan K2 tiap tabletnya.
Ingin mencari informasi seputar vitamin D atau perkembangan kesehatan lainnya? Kalian bisa baca lebih banyak di KlikDokter yang menyediakan beragam artikel seputar kesehatan menarik lainnya.
Holick MF. 2007. Vitamin D deficiency. New England Journal of Medicine. Diakses 16 April 2026: https://doi.org/10.1056/nejmra070553
Martineau AR, et al. 2017. Vitamin D supplementation to prevent acute respiratory infections: systematic review and meta-analysis. BMJ. Diakses 16 April 2026: https://doi.org/10.1136/bmj.i6583
Mithal A, Wahl DA, Bonjour JP, et al. Global vitamin D status and determinants of hypovitaminosis D. Osteoporosis International. 2009. Diakses 16 April 2026: https://doi.org/10.1007/s00068-015-0550-8
Octavius, G. S. et al. 2023. Vitamin D deficiency is a public health emergency among Indonesian children and adolescents: a systematic review and meta-analysis of prevalence. PMC. Diakses 16 April 2026: https://doi.org/10.6065/apem.2244170.085
Octavius, G. S. et al. 2023. A systematic review and meta-analysis of prevalence of vitamin D deficiency among Indonesian pregnant women: a public health emergency. PMC. Diakses 16 April 2026: https://doi.org/10.1016/j.xagr.2023.100189
:format(webp)/article/mPR9pmmRiwxTH2pXSRq8z/original/vjwija1lg2gtgen2fc2b1rfbrbzqlbp5.jpg)