Kesehatan Umum

Akibat Ugal-Ugalan dalam Mengikuti Trends Media Sosial Anak 9 Tahun Mengalami Luka Bakar

Klikdokter, 31 Mar 2026

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Seorang anak mengalami luka bakar serius setelah meniru tren viral berbahaya di media sosial. Kasus ini menyoroti pentingnya literasi digital, pengawasan orang tua, dan kesadaran akan risiko di balik

Akibat Ugal-Ugalan dalam Mengikuti Trends Media Sosial Anak 9 Tahun Mengalami Luka Bakar

Perubahan gaya hidup digitalisasi tidak selamanya membawa dampak positif terhadap lingkungan sosial. Semakin mudahnya akses terhadap informasi melalui sosial media mengubah cara manusia berinteraksi, berkembang, dan membentuk jati diri. Penggunaan smartphone sejak usia dini juga turut berdampak terhadap kehidupan anak-anak karena sudah terekspos dengan arus informasi global tanpa adanya batasan.

Munculnya platform yang menjadi wadah orang-orang mengekspresikan diri dalam video singkat mendorong lahirnya berbagai tren viral. Sebagian membawa manfaat dengan video kreatif dan edukatifnya, namun tidak sedikit memberikan dampak buruk karena dapat membahayakan keselamatan. 

Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah seorang anak yang mengalami luka bakar serius setelah mencoba meniru tren viral berupa challenge dari sosial media yang mana Ia mencoba untuk memanaskan sebuah mainan yang berisi gel “NeeDoh Nice Cube” untuk membuatnya menjadi lebih lembut. Namun, karena mainan tersebut berisi gel membuatnya menjadi meledak menyebabkan luka bakar tingkat dua pada wajah dan tangannya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita bahwa perubahan gaya hidup digital yang belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi risiko dan pengawasan yang memadai

Artikel Lainnya: Dampak Negatif Media Sosial Bisa Picu Histrionic Personality Disorder 

Dampak Negatif Perubahan Gaya Hidup Bermedia Sosial

Perubahan gaya hidup akibat media sosial tidak hanya mempengaruhi bagaimana cara kita bertumbuh, tetapi juga pada pola pengambilan keputusan. Kalangan yang paling rawan terhadap perubahan ini adalah anak-anak dan remaja yang terjadi karena beberapa alasan.

  • Haus validasi
    Kesenangan saat mendapatkan likes, komentar hingga feedback di media sosial membuat otak anak menjadi lebih termotivasi untuk mengikuti trends yang sedang terjadi. Selain itu, sistem algoritma memperkuat perilaku ini dengan memberikan eksposur lebih besar terhadap konten yang sedang naik tanpa mempertimbangkan resiko nya. Diketahui, bahwa algoritma dan desain platform dapat memperburuk kecemasan, gangguan perhatian, serta membuat remaja lebih rentan terhadap tekanan sosial digital.
  • Fear of Missing Out (FOMO)
    Tekanan psikologis juga mengambil peran dalam berkembangnya suatu tren karena mendorong anak-anak atau remaja untuk ikut membuat konten agar tidak dianggap ketinggalan aman atau tidak “gaul”
  • Normalisasi Risiko
    Pada sudut pandang pertumbuhan anak, bagian korteks prefrontal yang bertanggung jawab dalam kontrol impulsif dan penilaian terhadap risiko belum sepenuhnya terbentuk hingga mencapai usia dewasa. Ketika suatu adegan berbahaya dilakukan oleh banyak orang tanpa konsekuensi yang diperlihatkan, membuat anak beranggapan bahwa aksi tersebut aman yang dapat ditiru. Padahal, yang tidak terlihat adalah potensi cederanya sangat tinggi. 

Bahaya Trends Media Sosial Tanpa Pengawasan

Mengikuti tren tanpa memahami risiko yang dapat membahayakan keselamatan, contohnya:

1. Luka Bakar
Beberapa tren melibatkan panas, api, atau benda yang dipanaskan dapat menyebabkan cedera serius jika tidak dilakukan tanpa pengamanan. Luka bakar tingkat dua atau tiga dapat menyebabkan:

  • Kerusakan jaringan dalam
  • Risiko infeksi serius
  • Bekas luka permanen
  • Trauma psikologi

2. Cedera Fisik 

Tren yang melibatkan aksi ekstrem dapat menyebabkan:

  • Patah tulang
  • Cedera kepala
  • Gangguan saraf

3. Paparan Zat Berbahaya

Beberapa tantangan viral bahkan mendorong penggunaan atau konsumsi zat yang tidak aman, yang berpotensi menyebabkan keracunan.

4. Dampak Psikologi

Selain cedera fisik, tekanan untuk tampil dan diakui dapat menyebabkan:

  • Kecemasan
  • Gangguan harga diri
  • Ketergantungan pada validasi digital

Masalahnya bukan hanya pada tren itu sendiri, tetapi pada kurangnya filter kritis sebelum meniru tindakan.

Baca Artikel Lainnya: Tips Melindungi Anak dari Challenge Berbahaya di Media Sosial

Peran Orang Tua Guna Mencegah Kasus Serupa

Mencegah kejadian serupa membutuhkan pendekatan proaktif, bukan reaktif.Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua saat anak ingin bermedia sosial.

1. Pengawasan Aktif, Bukan Sekadar Larangan

Anak zaman sekarang membutuhkan alasan yang logis dan kuat sehingga larangan tanpa penjelasan seringkali tidak efektif. Sehingga, orang tua perlu: 

  • Mengetahui platform yang digunakan anak
  • Memahami tren yang sedang viral
  • Berdiskusi terbuka dengan bahaya
  • Edukasi Literasi Digital

Anak perlu mengetahui bahwa tidak semua konten aman untuk ditiru, video viral tidak selalu menunjukkan konsekuensi dibalik pembuatannya serta popularitas tidak sebanding dengan bahaya yang dapat ditimbulkan dari tindakan yang mereka lakukan.

2. Batasi Akses Sesuai Usia

Orang tua juga perlu membatasi akses sesuai dengan usia anak menggunakan fitur parental control dan tentukan durasi penggunaan smartphone yang wajar.

3. Bangun Kepercayaan

Membangun kepercayaan dengan anak juga harus dilakukan guna memberikan rasa aman saat berbicara dengan orang tua agar anak menjadi lebih terbuka pada hal-hal yang ingin ia coba.

Anak-anak dan remaja sangat mudah untuk terpengaruh oleh perubahan media sosial yang semakin tidak terkontrol. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk membimbing perkembangan anak agar lebih terkontrol dalam bermedia sosial.

Mari belajar lebih banyak mengenai materi lengkap seputar kesehatan mental serta tips menjaga kesehatan keluarga dengan mengunjungi KlikDokter. KlikDokter merupakan sumber informasi kesehatan terpercaya yang didukung oleh tenaga medis profesional.


  • Times Entertaiment. 9-year-old suffers severe burns after copying viral TikTok trend; authorities report multiple victims. Diakses 2 Maret 2026. https://timesofindia.indiatimes.com/etimes/trending/9-year-old-suffers-severe-burns-after-copying-viral-tiktok-trend-authorities-report-multiple-victims/articleshow/127909682.cms
  • Lailie, S. 2025. Pengaruh Negatif Media Sosial Tiktok terhadap Pola Interaksi Anak Remaja dan Orang Tua di Rumah. Diakses 2 Maret 2026. https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i7.20007
  • Anatasya, E., dkk. 2024. Peran Orang Tua Dalam Pengawasan Penggunaan Teknologi Digital Pada Anak. Diakses 2 Maret 2026 https://doi.org/10.61132/sadewa.v2i1.531
  • Szymkowiak, A., et al. 2025. Risk, reward, and recognition: The influence of safety perception on viral challenge participation on social media. Diakses 2 Maret. https://doi.org/10.1016/j.techsoc.2025.102860
  • DISA. The Impact of Social Media on Adolescent Development. Diakses 2 Maret. https://disa.org/the-impact-of-social-media-on-adolescent-development/
  • Arora, S., et al. 2024. The Psychological Impacts of Algorithmic and AI-Driven Social Media on Teenagers: A Call to Action. Diakses 2 Maret. https://doi.org/10.48550/arXiv.2408.10351