Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Solusi untuk Anak dengan Ambiguous Genitalia, Haruskah Selalu Operasi?

Solusi untuk Anak dengan Ambiguous Genitalia, Haruskah Selalu Operasi?

Ambiguous genitalia biasanya ditangani dengan jalan operasi. Namun, apakah operasi menjadi satu-satunya solusi?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu kelainan kongenital atau bawaan lahir yang dapat terjadi pada bayi adalah ambiguous genitalia. Kondisi ini menyebabkan jenis kelamin bayi sulit ditentukan. Penanganan kondisi ini dapat beragam, salah satunya dengan operasi. Namun, apakah itu satu-satunya solusi?

Kondisi Kelainan Langka

Ambiguous genitalia salah satu kelainan yang tergolong langka, yakni terjadi pada sekitar 1 dari 5.000 kelahiran. Kelainan kongenital ini tak hanya mengganggu fisik, tapi juga mental sang anak dan keluarga sekitar. Biasanya, kondisi ini sudah diketahui sejak lahir bahkan ketika bayi masih ada di dalam kandungan ibu.

Bayi dengan kondisi ini umumnya bagian alat kelamin tidak berkembang dengan sempurna atau memiliki karakteristik dua jenis kelamin. Organ seksual dalam tubuh juga dapat saja berbeda dengan organ seksual luar tubuh. Misalnya, organ seksual dalam tubuh adalah perempuan sedangkan, organ seksual luar tubuh seperti laki-laki.

Lalu, bagaimana tahunya si Kecil mengalami kelainan organ seksual tersebut? Berikut ini sejumlah tanda dan gejala ambiguous genitalia yang perlu dipahami.

  • Klitoris (daging atau gumpalan di ujung kemaluan perempuan) yang membesar seperti penis.
  • Labia (bibir vagina) yang menutup atau melipat seperti skrotum (kantung buah zakar).
  • labia yang menyatu yang seperti testis.
  • lubang penis yang tidak di ujung (hipospadia).
  • penis yang kecil secara tidak normal dengan lubang penis dekat dengan skrotum,
  • testis yang tidak ada satu atau keduanya dalam kantong skrotum, dan
  • skrotum yang kosong dengan penampakan seperti ada labia dengan atau tanpa penis yang kecil.

Artikel lainnya: 5 Kelainan Kelamin Pada Anak yang Sering Terjadi 

Tidak Boleh Tebak-tebak

Sebaiknya, Anda melakukan diskusi lengkap dengan tim medis ketika memutuskan jenis kelamin bayi pengidap Ambiguous genitalia. Keluarga juga perlu dilibatkan dalam diskusi penentuan tersebut.

Pemeriksaan fisik biasanya tidak cukup untuk menentukan jenis kelamin anak. Si Kecil juga harus melakukan pemeriksaan darah untuk memeriksa hormon, kromosom, genetik, USG perut, dan panggul.

Selain tes-tes di atas, dapat pula dilakukan X-Ray kontras untuk memeriksa kelainan anatomi bayi. Semua tes ini bertujuan untuk menentukan jenis kelamin sang anak.

Artikel lainnya: Waspadai Bila Testis Bayi Tidak Turun 

1 dari 2 halaman

Harus Selalu Dioperasi?

Penanganan ambiguous genitalia pada dasarnya tergantung penyebab yang mendasarinya. Beberapa penyebab seperti kelainan genetik tidak dapat diobati dan hanya dapat dilakukan koreksi luar dengan operasi. Operasi bertujuan mengoreksi atau membuang atau membentuk organ seksual yang sesuai untuk sang anak.

Waktu operasi untuk memperbaiki kondisi ini tergantung dari tiap kasus. Ada operasi untuk tujuan kosmetik ditunda hingga sang anak cukup dewasa dalam menentukan pilihan dan pendapatnya. Kadang kala, operasi dapat dilakukan saat anak masih kecil, seperti pada kasus vagina yang tertutup kulit dan hipospadia.

Selain operasi, dapat juga dilakukan terapi hormon pengganti atau hormone replacement therapy (HRT). Terapi ini bisa diterapkan pada kasus seperti kekurangan hormon laki-laki sehingga menyebabkan ambiguous genitalia pada janin laki-laki.

Contoh lain, pada anak perempuan yang klitorisnya membesar akibat hiperplasia adrenal kongenital. Terapi hormon dapat mengecilkan klitoris. Dalam kasus ini, tidak perlu dilakukan operasi.

Penanganan ambiguous genitalia bukan hanya sekali saja. Operasi dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. Pengobatan hormon juga bisa berlangsung hingga bertahun-tahun. Sangat penting untuk anak dengan kondisi ini menjalani kontrol medis rutin dan monitor untuk komplikasi yang dapat terjadi, seperti kanker.

Penanganan ambiguous genitalia tidak selalu dengan operasi, tergantung kondisi dan penyebabnya. Diagnosis yang tepat sangatlah penting dalam menentukan penanganan untuk memperbaiki kelainan kongenital yang satu ini. Diskusikan secara mendalam dengan dokter dan profesional lainnya.

[HNS/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar