Sukses

Benarkah Polip Rahim Bisa Memicu Kanker Rahim?

Selain miom, polip rahim adalah masalah kesehatan reproduksi yang juga bisa menyerang wanita. Apakah kondisi ini dapat memicu kanker rahim?

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita, polip rahim mungkin tidak sebeken miom. Padahal, penyakit yang punya istilah medis polip endometrium ini juga dapat menyebabkan gangguan pada reproduksi pada wanita.

Polip rahim adalah benjolan yang muncul akibat pertumbuhan sel-sel yang melapisi bagian dalam rahim. Polip menempel pada dinding rahim dan ujungnya menonjol dalam rongga rahim.

Pertumbuhan polip rahim berhubungan dengan hormon reproduksi, terutama estrogen. Hormon ini yang memengaruhi penebalan dinding rahim pada tiap siklus haid. 

Risiko timbulnya polip rahim meningkat pada wanita dengan obesitas, tekanan darah tinggi, mengonsumsi obat tamoxifen untuk pengobatan kanker payudara, serta memiliki riwayat penyakit sindrom Lynch atau Cowden. 

Artikel menarik: Ciri-Ciri Rahim yang Sehat dan Subur

Seringkali,  polip endometrium terjadi pada wanita yang telah berusia 40 hingga 50 tahun. Di mana, rentang usia tersebut umumnya merupakan fase menopause. Apa itu menopause? Ini adalah berhentinya siklus haid secara alami. Seorang wanita digolongkan menopause jika sudah tidak haid selama 12 bulan berturut-turut.

1 dari 2 halaman

Dilema Polip Rahim dan Kanker Rahim

Seorang wanita dengan polip rahim akan mengalami gejala sebagai berikut:

  • Siklus haid tidak teratur
  • Durasi haid memanjang
  • Darah haid berlebih
  • Flek atau perdarahan di antara siklus haid
  • Gangguan kesuburan (infertilitas)
  • Perdarahan setelah berhubungan atau setelah mengalami menopause

Apabila mengalami gejala demikian, segera periksa ke dokter. Pasalnya, gejala tersebut tidak hanya bisa terjadi akibat polip pada rahim, tapi juga keganasan alias kanker.

Beberapa studi mengatakan bahwa, faktor risiko yang berhubungan dengan risiko terjadinya keganasan di dalam rahim adalah perdarahan abnormal dan menopause. Risiko ini bisa meningkat tinggi apabila terjadi pada orang-orang dengan kategori berikut:

  • Penderita hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Terdapat riwayat kanker lain, terutama kanker payudara, kanker ovarium, atau kanker endometrium
  • Menjalani pengobatan rutin dengan tamoxifen atau penggunaan estrogen
  • Kegemukan
  • Tidak mengalami ovulasi 
  • Terdapat riwayat hiperplasia endometrium alias penebalan diding rahim

Artikel menarik: Rahim Tipis dan Hubungannya dengan Kesuburan

Seorang wanita dengan gejala polip rahim yang juga mengalami kondisi tersebut wajib segera memeriksakan diri ke dokter. Nantinya dokter akan mengambil jaringan yang tumbuh di sekitar rahim guna diperiksa lebih lanjut. Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah jaringan serupa polip yang tumbuh di rahim bersifat ganas atau tidak.

Perlu diketahui, pengambilan jaringan di rahim dilakukan dengan histeroskopi, yaitu semacam kabel dengan kamera pada ujungnya. Alat ini memungkinkan petugas medis melihat isi rahim untuk memastikan keberadaan jaringan abnormal, sekaligus mengambilnya jika ditemukan.

Setelah prosedur pengambilan jaringan dari dalam rahim selesai dilakukan, dokter akan memberikan pasien obat-obatan yang mengandung hormon. Obat-obatan ini bersifat sementara, untuk meredakan gejala yang dirasakan pasien. 

Pada dasarnya, polip rahim dan kanker rahim adalah dua kondisi berbeda dengan gejala yang mirip. Oleh karena itu, akan lebih baik jika Anda memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala serupa polip rahim. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah gejala tersebut benar-benar disebabkan oleh polip rahim atau justru akibat kanker rahim.

(NB/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar