Sukses

Titi Kamal Jalani Prosedur Kuret, Apa Penyebabnya?

Alami keguguran, Aktris Titi Kamal harus jalani prosedur kuret. Kenali apa saja penyebab yang membuat wanita hamil harus menjalaninya.

Klikdokter.com, Jakarta Kabar duka datang dari selebritas Titi Kamal, yang dikabarkan harus menjalani prosedur kuret akibat janin yang dikandungnya tidak berkembang. Janin berusia 6 minggu itu harus ia relakan untuk diangkat.

Alasan yang membuat pemeran Maura dalam “Ada Apa dengan Cinta?” ini harus menjalani kuret adalah karena janinnya gagal berkembang, sehingga perlu dikeluarkan. Hal ini dikenal dengan istilah surgical abortion atau aborsi pembedahan.

Bagaimana Mekanisme Kuret?

Dalam dunia kedokteran, kuret dikenal sebagai dilation and curettage (D&C), yang mana tindakannya sendiri terdiri dari dilatasi dan kuretase (awam menyebutnya kuret).

“Dilatasi adalah tindakan membuka leher rahim, yang selanjutnya akan dilakukan kuretase, yaitu pembersihan isi rahim agar tidak ada sisa janin yang menempel pada rahim,” kata dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter menjelaskan.

Dalam tindakan kuret, biasanya dokter akan mengeruk lapisan dalam dinding rahim dengan sendok kuret hingga bersih, sampai tidak ada lagi sisa jaringan dan perdarahan.

“Selain menggunakan sendok kuret, dokter juga bisa melakukan prosedur tersebut dengan alat vacuum aspiration untuk menyedot sisa jaringan. Prosedur ini tergolong menyakitkan, sehingga pasien harus diberikan anestesi,” kata dr. Sepriani.

Ada beberapa alasan kenapa kuret diperlukan, yaitu:

  • Kuretase bisa dilakukan sebagai pilihan untuk kasus keguguran, tindakan kuretase pada abortus atau aborsi, dan setelah persalinan. Gunanya adalah untuk membersihkan jaringan plasenta yang tertinggal atau sisa jaringan janin di dalam rahim setelah keguguran, aborsi, dan persalinan.
  • Membantu diagnosis penyakit atau kelainan di rahim, seperti perdarahan abnormal, polip rahim, ketidakseimbangan hormonal, tanda menopause, tumor jinak rahim, hingga kanker rahim.
  • Kuret bisa dilakukan bila terjadi perdarahan vagina yang hebat atau lama, atau perdarahan hebat setelah menopause.
  • Kondisi hamil anggur juga memerlukan kuret dengan tindakan operasi pengangkatan jaringan yang abnormal. Ini merupakan metode penanganan hamil anggur yang sering disarankan. Bila dibiarkan, maka bisa menimbulkan kematian akibat perdarahan.
  • Tindakan kuretase juga dapat dilakukan, yaitu dengan melakukan operasi pengangkatan untuk menghilangkan polip rahim.

Kapan Tindakan Kuret Perlu Dilakukan?

Kuret lazim dilakukan pada wanita yang mengalami keguguran saat usia kandungannya masih di trimester pertama. Prosedur ini umumnya berlangsung singkat, kurang lebih setengah jam. Bahkan, seringnya pasien bisa langsung pulang pada hari yang sama ketika kuret dilakukan.

Tak semua ibu hamil yang mengalami keguguran membutuhkan kuret. Kondisi ini bergantung pada usia kehamilan serta kondisi rahim.

Juga dari KlikDokter, dr. Andika Widyatama turut menambahkan bahwa faktanya, sekitar 50 persen kasus keguguran tidak melakukan prosedur kuretase.

“Umumnya, jaringan dipercaya dapat keluar dari dalam rahim dengan sendirinya pasca keguguran di usia kehamilan kurang dari 10 minggu. Bila usia kehamilan lebih dari 10 minggu, perlu dilakukan prosedur kuretase untuk membantu membersihkan jaringan di dalam rahim yang mungkin masih tersisa pasca keguguran. Namun, perlu atau tidaknya dilakukan kuretase, sangat bergantung

kondisi rahim wanita,” dr. Andika memaparkan.

Dampak dari Tindakan Kuret

Sama seperti prosedur atau tindakan medis lainnya, prosedur kuret juga bisa menimbulkan beberapa risiko pada ibu. Risiko yang dapat muncul di antaranya adalah kerusakan pada jaringan leher rahim, perforasi rahim (rahim bolong), infeksi, atau timbulnya jaringan parut dalam rahim (sindrom Asherman).

Jaringan parut dalam rahim ini disebut dengan sindrom Asherman. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan menstruasi yang tidak teratur dan nyeri hebat saat menstruasi.

“Pasca kuret, tubuh ibu butuh waktu untuk mengembalikan keseimbangan hormon. Setelah 3-6 bulan, siklus menstruasi harusnya sudah kembali normal. Jika ingin mencoba untuk hamil lagi, biasanya dokter akan menyarankan untuk istirahat selama setidaknya 3 bulan agar jaringan bisa kembali normal,” kata dr. Sepriani.

Setelah kuret, wanita tidak disarankan berhubungan intim untuk mencegah infeksi yang masuk ketika leher rahim masih terbuka. Setelah haid sudah rutin lagi, baru hubungan seks dibolehkan. Namun, ingat bahwa ini adalah tanda wanita sudah kembali subur dan bisa hamil. Gunakan kondom untuk mencegah kehamilan setidaknya 3-6 bulan pasca kuret untuk mempersiapkan rahim kembali untuk bisa hamil.

Demikian hal-hal seputar prosedur kuret, seperti yang harus dijalani oleh Titi Kamal. Bila setelah prosedur merasakan gejala yang tak biasa seperti demam tinggi, perdarahan hebat, kram perut selama lebih dari dua hari, atau keluar cairan berbau tak sedap dari vagina, jangan tunda pemeriksaan ke dokter. Untuk para wanita di luar sana yang juga harus menjalani prosedur kuret, tetap semangat dan jangan menyerah, ya!

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar