Sukses

Ibu Anemia Rentan Melahirkan Anak Stunting

Ada yang mengatakan, ibu anemia rentan melahirkan anak stunting. Benar atau tidak hal tersebut? Simak penjelasan di bawah ini.

Klikdokter.com, Jakarta Stunting kini menjadi topik kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini memberikan amanat kepada Menteri Kesehatan agar memberi perhatian khusus pada masalah ini. Di antaranya yang perlu menjadi perhatian adalah anemia. Sebab, ibu yang anemia disebut-sebut rentan melahirkan anak stunting!

Stunting, masalah kesehatan yang bisa dipicu oleh anemia

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012, tercatat ada 162 juta balita stunting dan 58 persen dari jumlah tersebut berada di Asia. Akibat kurangnya asupan gizi saat hamil dan lahir, gangguan pertumbuhan berupa tinggi badan anak lebih pendek (kerdil) dari standar usianya pun banyak ditemukan pada anak Indonesia. 

Pada 2015, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) melaksanakan Pemantauan Status Gizi (PSG) di Indonesia. Sebanyak 29 persen balita Indonesia masuk dalam kategori pendek. Karena stunting di Indonesia sudah lebih dari 20 persen, WHO mengatakan bahwa itu termasuk dalam masalah kesehatan nasional. 

Salah satu penyebab tingginya angka stunting di Indonesia adalah ibu hamil yang menderita anemia. Meski jarang diinformasikan kepada masyarakat, kenyataannya sudah ada penelitian yang melaporkan bahwa stunting bisa dipicu oleh ibu anemia. Hal itu pun dibenarkan oleh dr. Nabila Viera Yovita dari KlikDokter

Rantai yang sulit putus antara stunting dan anemia

Perlu diketahui, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis di Jakarta, persentase ibu hamil yang mengalami anemia sebanyak 48,9 persen. Jumlah itu naik dibandingkan hasil Riskesdas tahun 2013, yaitu 37,1 persen.

Jika jumlah ibu anemia tidak diturunkan, sulit rasanya untuk mewujudkan penurunan angka stunting di Indonesia.

“Ya, ibu yang anemia memang rentan melahirkan anak stunting. Sel darah merah berfungsi untuk mengalirkan nutrisi ke seluruh tubuh dan janin yang dikandung. Jika jumlahnya terlalu sedikit, pendistribusian nutrisi ke janin tidak akan maksimal. Biasanya, kondisi ini juga disebabkan oleh faktor sosial ekonomi yang rendah,” jelas dr. Nabila.

Antara stunting dan anemia memang menjadi rantai. Artinya, selain terkena stunting, anak dari ibu anemia juga berisiko lebih besar untuk terkena anemia. Nah, ketika si anak yang anemia ini sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu, lahirlah lagi anak yang stunting dan kondisi anemia lainnya.

Begitu seterusnya jika tak diatasi. Oleh karena itulah, anemia wajib diberantas untuk memutus mata rantai tersebut.

Walau ibu anemia rentan melahirkan anak stunting, dr. Nabila mengatakan bahwa ibu yang tidak anemia pun bisa melahirkan anak yang stunting.

“Ini terjadi jika selama masa kehamilan sang ibu tidak mencukupi nutrisinya,” katanya menjelaskan. 

“Lalu, bisa juga kondisinya seperti ini. Si ibu yang tidak anemia melahirkan anak yang normal. Tetapi, setelah lahir, si bayi tidak diberikan asupan gizi yang cukup, maka stunting bisa terjadi di usia-usia berikutnya. Anak yang kena stunting pun jadi rentan terkena anemia. Jadi, bersifat dua arah kan semuanya?” dr. Nabila menambahkan. 

Sementara itu, seperti yang sempat disinggung di atas, faktor ekonomi yang rendah berperan dalam meningkatkan angka stunting di Indonesia. Orang-orang dengan taraf ekonomi rendah biasanya tidak mampu membeli makanan dan minuman bergizi.

Namun begitu, apakah berarti masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas bisa terbebas sama sekali dari stunting? Pada dasarnya, peluang tersebut tetap ada, meski kecil.

 “Permasalahan untuk kalangan menengah ke atas ini biasanya bukan kekurangan gizi, tapi gizi yang tidak seimbang. Kalau gizi tak seimbang, masalahnya bukan stunting, tapi justru obesitas,” kata dr. Nabila.

Ibu anemia memang rentan melahirkan anak stunting. Karena itu, selama kehamilan, Anda sebaiknya memperhatikan kecukupan dan keseimbangan gizi. Setelah lahir, asupan nutrisi anak pun tetap diperhatikan agar terhindar dari kondisi stunting. Di sisi lain, semoga tingkat sosial ekonomi Indonesia terus membaik, sehingga masalah stunting dan anemia dapat teratasi.

[HNS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar